Kerajaan Demak – Kerajaan Islam di Indonesia

  • 4 min read
  • Apr 25, 2020
kerajaan demak

1. Lahirnya Kerajaan Demak

Pusat kerajaan Demak terletak di daerah Bintoro di muara Sungai Demak. Dikelilingi oleh daerah rawa yang luas di perairan Laut Muria. Sekarang Laut Muria sudah merupakan dataran rendah yang dialiri Sungai Lusi. Pusat kerajaan terletak antara Bergota dan Jepara.

Bergota adalah pelabuhan pada zaman Syailendra yang pernah menjadi pelabuhan ekspor bagi Mataram. Sedang Jepara kemudian berkembang menjadi pelabuhan penting bagi Kerajaan Demak dan Mataram.

Faktor-faktor yang menyebabkan kerajaan Demak berkembang sebagai kerajaan yaitu :

  • Letaknya baik untuk pelabuhan yaitu di muara Sungai Demak. Hubungan dengan daerah pedalaman yang menghasilkan bahan ekspor juga mudah dilakukan.
  • Kedudukannya yang strategis untuk perdagangan nasional. Karena terletak di tepi jalan nasional antara Indonesia bagian barat dengan timur.
  • Faktor politik berupa kemunduran kerajaan Majapahit sehingga perkembangan Demak tidak terhalang. Bahkan Kerajaan Demak inilah yang mengakhiri kerajaan Majapahit.

2. Perkembangan Kerajaan Demak

Kerajaan Demak dibangun oleh Raden Patah pada akhir abad ke-15 pada waktu kerajaan Majapahit mengalami kemunduran. Pada mulanya merupakan kerajaan agraris dengan hasil beras. Tetapi kemudian berkembang menjadi negara agraris maritim karena letaknya yang strategis untuk pelayaran nasional.

Kerajaan Demak menjalankan fungsinya sebagai negara maritim. Yaitu sebagai transit atau penghubung antara daerah penghasil rempah-rempah di Indonesia. Bagian timur dengan Malaka sebagai pasaran Indonesia bagian Barat.

Karena itu timbulah keinginan Demak untuk dapat menggantikan kedudukan Malaka sebagai pusat perdagangan nasional maupun internasional. Kerajaan Demak mengerahkan 100 kapal besar di bawah Pati Unus untuk menyerang Malaka. Rencana semula adalah untuk menyerang Malaka dari Demak.

Tetapi setelah diperoleh berita bahwa Malaka telah jatuh ke tangan Portugis maka siasat serangan diubah. Yaitu menyerang Malaka dari arah utara. Untuk itu pelayaran dilakukan dengan menempuh jalan di sebelah barat Sumatra.

Dengan bantuan kerajaan Palembang dan Aceh serangan terhadap Malaka dilakukan (1512). Serangan gagal karena belum ada kerja sama yang baik antara penyerang yang terdiri atas banyak unsur.

Karena gagalnya serangan atas Malaka, dan sadar akan datangnya bahaya dari bangsa Portugis. Maka Demak memperkuat pertahanan di pantai utara Jawa. Jepara dikembangkan sebagai pelabuhan penting untuk meneruskan peranan kerajaan Demak sebagai negara maritim.

Selain dengan pertahanan pantai, Demak mengusahakan kerja sama yang baik antar daerah pantai Jawa. Sehingga tercipta semacam federasi atau kesemakmuran dengan kerajaan Demak sebagai pimpinan.

Agama Islam merupakan semangat baru, menjadi unsur pemersatu yang dapat menimbulkan kekuatan besar. Di antara para wali, yang aktif di Demak adalah Sunan Kalijogo.

Ia banyak memberi saran sehingga Demak merupakan semacam negara teokrasi yaitu negara atas dasar agama. Raja-raja Hindu di Jawa yang bekerja sama dengan Portugis diserang.

3. Raja-Raja Kerajaan Demak

3.1 Raden Patah

Pada masa pemerintahan Raden Patah (1475-1518) kerajaan Demak dikembangkan. Dengan menjadikan Semarang maupun Jepara sebagai pelabuhan penting. Daerah pedalaman yang subur dan banyak menghasilkan beras direbut.

Sehingga keperluan kerajaan Demak akan beras dapat dipenuhi. Juga dibangun Masjid Demak yang terkenal karena salah satu tiang utamanya terbuat dari pecahan-pecahan dan disebut soko tatal. Masjid tersebut dibangun di bawah pimpinan Sunan Kalijogo.

masjid demak dan tiang tatal
Gambar Masjid Agung Demak dan tiang tatal

Di pendapa (serambi depan) Masjid Demak itulah Sunan Kalijogo meletakkan dasar-dasar perayaan sekaten. Tujuannya adalah untuk memperoleh banyak pengikut agama Islam.

Tradisi tersebut sampai sekarang diteruskan di Yogyakarta dan Cirebon. Pada masa pemerintahan Raden Patah, Demak menyerang Malaka di bawah pimpinan Pati Unus atau Pangeran Sabrang Lor (1512).

3.2 Sultan Trenggono

Raden Patah digantikan putranya bernama Pati Unus yang memerintah tiga tahun (1518-1521). la wafat tanpa meninggalkan putra. Sehingga yang berhak menggantikan adalah adiknya yang bernama Sekar Sedo Lepen.

Tetapi pangeran ini dibunuh oleh keponakannya sehingga yang berhak menggantikannya adik Sekar Sedo Lepen. Peristiwa itu kemudian menjadi sumber kekacauan di Demak. Penggantinya adalah Sultan Trenggono (1521-1546) yang berhasil mengembangkan Demak sebagai kerajaan besar.

Pada masa pemerintahannya dilancarkan serangan atas Pajajaran, Majapahit dan Blambangan. Karena kerajaan-kerajaan Hindu itu mengadakan hubungan dengan Portugis yang merupakan lawan utama Demak.

a) Penyerangan terhadap Pajajaran

Pada tahun 1522 diadakan perjanjian antara Raja Pakuan dengan Portugis. Yang berisi bahwa Portugis diberi izin untuk mendirikan benteng di Sunda Kelapa. Sedangkan Pakuan akan memberikan sejumlah rempah-rempah kepada Portugis.

Perjanjian tersebut diperingati dengan pembuatan Padrao yaitu semacam tugu peringatan yang sekarang masih disimpan di Museum Nasional Jakarta. Dari isi perjanjian tersebut jelas bahwa sifatnya ekonomis dan pertahanan dalam menghadapi kekuasaan Islam.

tugu padrao
Gambar tugu Padrao

Benteng itu sendiri belum sempat dibangun. Karena Portugis masih harus memusatkan perhatiannya untuk pertahanannya di Malaka terhadap Sultan Mahmud dari Bintan.

Dalam kesempatan demikianlah Sultan Trenggono mengirimkan sejumlah kapal perang di bawah pimpinan Fatahillah yang kemudian terkenal sebagai Sunan Gunungjati (1526). Sunda Kelapa yang belum terlindungi benteng Portugis dapat direbut oleh Fatahillah.

Pada akhir tahun 1526 datanglah armada Portugis di bawah Fransisco de Sa. Dengan tujuan membuat benteng sesuai dengan perjanjian tahun 1522. Tetapi kedatangannya dipukul oleh armada Fatahillah di Teluk Jakarta sehingga mereka terpaksa kembali ke Malaka.

Kemenangan Fatahillah yang kedua kalinya itu dirayakan dengan pengubahan nama Sunda Kelapa menjadi Jayakarta yang berarti kemenangan abadi. Menurut Profesor Sukamto dan lebih ditegaskan lagi oleh DKI Jakarta, pengubahan nama itu jatuh pada tanggal 22 Juni 1527. Tanggal tersebut sekarang menjadi Hari Lahir Jakarta.

b) Penyerangan terhadap Majapahit

Serangan kedua dilancarkan terhadap kerajaan Majapahit yang juga telah mengadakan hubungan dengan Portugis. Bangsa Portugis memang memerlukan bahan-bahan terutama beras yang sebelum itu memperolehnya dari Jawa Tengah. Sedangkan Majapahit dengan hubungan tersebut memperoleh sekutu dalam menghadapi kekuatan Islam.

Tentara Demak di bawah Fatahillah juga menyerang kerajaan Majapahit. Pengikut kerajaan Majapahit banyak yang menyingkir ke Pegunungan Tengger atau Blambangan. Dari Panarukan mereka terus berhubungan dagang dengan Portugis.

c) Penyerangan terhadap Blambangan

Pada tahun 1546 armada Demak menyerang kekuasaan Hindu di Blambangan. Pelabuhan yang menjadi sasarannya adalah Panarukan. Serangan ke ujung Jawa Timur ini dibantu oleh armada dari Banten dan Cirebon di bawah pimpinan Fatahillah.

Dalam serangan tersebut, Sultan Trenggono ikut serta tetapi ia dibunuh oleh seorang pengawalnya karena suatu penghinaan di Pasuruan. Dengan demikian usaha Demak untuk merebut Blambangan kandas. Daerah ini kemudian direbut oleh Mataram II yang menjadi penerus Kerajaan Demak.

Keturunan Sekar Sedo Lepen mendapat peluang untuk merebut mahkota setelah wafatnya Sultan Trenggono dan merasa berhak atas tahta kerajaan Demak. Tokoh keluarga ini adalah Ario Penangsang yang menjadi bupati Jipang (Blora). Sedangkan keluarga Trenggono dengan tokohnya Prawoto berusaha untuk menggantikan ayahnya.

Sehingga terjadi peperangan antara keturunan Sultan Trenggono dan keturunan Sekar Seda Lepen. Perang saudara itu berlangsung beberapa tahun. Akhirnya seorang menantu Sultan Trenggono yang berasal dari Pajang yakni Joko Tingkir berhasil menjadi yang dipertuan di Jawa Tengah.

Joko Tingkir setelah ditabalkan (dinobatkan) sebagai raja bergelar Sultan Adiwijoyo (1552-1575). Pusat kerajaan pindah ke daerah pedalaman yaitu di Pajang. Sedangkan kerajaan Demak diperintah oleh Ario Panggiri dan putra Prawoto sebagai bupatinya.

4. Keruntuhan Kerajaan Demak

Keruntuhan kerajaan Demak disebabkan karena adanya perang saudara seperti diterangkan di atas. Dan karena struktur pemerintahan kerajaan Demak yang sifatnya federasi. Kekacauan yang terjadi di pusat kekuasaan di Demak memberi kesempatan bagi anggota perserikatan untuk melepaskan diri.

Banten yang dibangun oleh Fatahillah melepaskan diri dari Demak dan menjadi negara merdeka. Daerah-daerah Pantai Utara Jawa Timur seperti Tuban, Gresik dan Surabaya juga melepaskan diri. Keruntuhan Kerajaan Demak berakibat besar bagi sejarah Indonesia khususnya di Jawa, yaitu:

  • Tidak adanya kerajaan maritim besar lagi yang mampu menguasai perdagangan nasional dan sanggup menghadapi bangsa asing.
  • Pindahnya pusat kekuasaan ke daerah pedalaman, sehingga suatu kerajaan agraris timbul kembali di Jawa Tengah.

Related Post :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *