Kerajaan Islam Tertua Yang Ada di Indonesia

  • 7 min read
  • Apr 24, 2020
kerajaan islam tertua di indonesia

1. Kerajaan Islam Perlak

Kerajaan Islam Perlak adalah nama kerajaan di wilayah Aceh Timur yang pusatnya dekat muara Sungai Peureula. Dari kata Peureula inilah akhirnya menjadi nama Perlak. Daerah ini terletak di tepi selat Malaka yang ramai dilalui rute dagangan internasional dan mempunyai arti strategis.

Sehingga menambah semaraknya perdagangan di daerah tersebut. Berseberangan dengan sungai Peureula terdapat Kedah dan Pulau Penang di pantai barat Malaya.

1.1 Perkembangan Kerajaan Islam Perlak

Faktor-faktor yang dapat menjadikan Perlak menjadi kerajaan Islam dan menjadi pusat perdagangan adalah sebagai berikut :

  • Letaknya strategis untuk perdagangan, yaitu di tepi jalan dagang internasional dan di muara Sungai Peureula.
  • Daerah penghasil lada sebagai bahan baku yang dieksport ke Timur Tengah dan India.
  • Mundurnya kerajaan Melayu sebagai pusat perdagangan memberikan kesempatan bagi Perlak untuk berkembang.

Kapan pastinya kerajaan Islam Perlak muncul tidak banyak diketahui. Hanya saja sejarah telah mencatat bahwa raja Perlak yang pertama adalah Sultan Alauddin Syah (1161-1186 M). Seorang penganut agama Islam aliran Syi’ah.

Syi’ah berarti partai atau golongan dan merupakan sebutan yang dipergunakan oleh pengikut Ali. Yaitu suami dari putri Nabi Muhammad saw yang bernama Fatimah. Putra Ali dengan Fatimah bernama Hasan dan Husein.

Menurut aliran Syi’ah hanya keturunan dari Nabi Muhammad saw yang berhak sebagai pengganti Nabi Muhammad saw. Husein gugur dalam pertempuran di Karbela pada tanggal 10 Muharam 59 H atau 681 M.

Tanggal 10 Muharam merupakan tanggal yang suci bagi pengikut Syi ‘ah dan berziarah ke makam Hasan dan Husein. Hal tersebut sama dengan nilainya saat berziarah ke Mekah dan Madinah.

Pelabuhan Perlak dicatat dalam sejarah karena mendapat kunjungan musafir bernama Marco Polo. Ia singgah dalam perjalanan kembali dari negeri Cina ke Venesia (1292 M). Dalam beritanya Marco Polo menceritakan bahwa penduduk di ibu kota kerajaan itu telah menganut agama Islam. Sedangkan penduduk di luar kota masih menganut kepercayaan animisme atau dinamisme.

1.2 Kemunduran Kerajaan Perlak

Dinasti Syaid Aziz memerintah sekitar seabad lamanya. Pada akhir abad ke-13 terjadi perebutan kekuasaan antara dinasti Syaid Aziz keturunan Arab dengan dinasti Marah yang merupakan keturunan asli.

Akibatnya kerajaan Islam Perlak pecah menjadi dua. Yaitu Perlak Baroh (Selatan) di bawah dinasti Marah dan Perlak Tunong (Utara) di bawah dinasti Syaid Aziz. Perebutan kekuasaan berulangkali terjadi. Persoalan sebenarnya bukan lagi keturunan asli dan asing.

Tetapi penguasaan lada sebagai bahan ekspor yang penting dari kerajaan Islam Perlak. Akibat perebutan kekuasaan, kerajaan Islam Perlak mengalami kemunduran pada akhir abad ke-13.

2. Kerajaan Islam Pasai

Kerajaan Islam Pasai terletak di sebelah utara Perlak, di muara Sungai Pasai. Faktor-faktor yang dapat mengembangkan kerajaan islam ini antara lain adalah letaknya yang strategis, hasil lada, dan mundurnya kerajaan Perlak. Kerajaan Islam Pasai dibangun oleh laksamana laut dari Mesir bernama Nazimuddin al Kamil.

2.1 Perkembangan Kerajaan Islam Pasai

Tahun 1128 M ia mendapat tugas merebut pelabuhan Kambayat di Gujarat untuk dijadikan pasaran hasil dari timur. Dan mendirikan sebuah kerajaan di Sumatra dengan tujuan menguasai hasil lada. Pada waktu itu Mesir diperintah oleh dinasti Fatimah penganut aliran Syi’ah.

Dinasti Fatimah dikalahkan oleh dinasti Mamaluk yang beraliran Syafii tahun 1268 M. Dinasti Mamaluk juga ingin menguasai kerajaan Islam Pasai yang saat itu menguasai perdagangan lada dan masih menganut aliran Syi’ah.

Seorang keturunan dari Marah Pasai bernama Meurah Silu dapat diajak bersekutu oleh Laksamana Syekh Ismail. Yang dikirim oleh dinasti Mamaluk ke Aceh. Mereka kemudian bersama-sama menyerang kerajaan Islam Pasai pada tahun 1285 M.

Meurah Silu menyerang dari darat sedangkan Laksamana Syekh Ismail dari laut. Kerajaan Islam Pasai dapat dikalahkan dan akhirnya diangkatlah Meurah Silu sebagai raja Samudera Pasai. Dengan gelar Sultan Malikul Saleh (1285-1297 M).

Sultan yang pada umumnya menganut aliran Syi’ah itu beralih menganut aliran Syafii sama seperti dinasti Mamaluk. Perkawinan Sultan Malikul Saleh dengan putri Ganggang Sari dari Perlak dapat memperkuat kedudukannya di Pantai Timur Aceh. Perdagangan lada di sepanjang Pantai Timur Sumatra dikuasai oleh Samudera Pasai untuk diekspor ke pelabuhan Kambayat di Gujarat.

Samudera Pasai merupakan pusat perdagangan di Selat Malaka dalam abad ke-14. Ibn Batutah juga singgah di Samudera Pasai dalam perjalanannya dari Afrika Utara ke negeri Cina (1345 M). Sultan Malikul Saleh digantikan oleh putranya yang bergelar Sultan Malikul Thahir (1297-1326 M).

Tetapi putranya yang kedua bernama Abdullah memisahkan diri dari Aru (Barumun) dan bergelar Sultan Malikul Mansur. Ia kembali menganut aliran Syi’ah sehingga aliran ini memperolehkan kesempatan lagi untuk berkembang.

2.2 Kemunduran Kerajaan Pasai

Seperti halnya dengan kerajaan-kerajaan sebelumnya, kerajaan Islam Pasai selalu dirongrong oleh perebutan kekuasaan dan perpecahan. Sehingga mengalami kemunduran dalam politik maupun perdagangan.

Munculnya kerajaan Malaka di pantai barat semenanjung Malaka menyebabkan kerajaan Islam Pasai kehilangan peranannya dalam perdagangan agama. Akhimya di Pantai Timur Sumatra muncul kerajaan baru yang lebih ke utara. Yaitu di ujung Sumatra dan bernama kerajaan Islam Aceh.

nisan sultan Malikul Saleh
Gambar nisan sultan Malikul Saleh

3. Kerajaan Islam Aceh

3.1 Lahirnya Kerajaan Aceh

Kerajaan Aceh terletak di bagian utara Daerah Istimewa Aceh. Ibu kotanya Kotaraja yang sekarang bernama Banda Aceh. Kerajaan Isam Aceh muncul pada permulaan abad ke- 16. Faktor-faktor yang dapat menimbulkan dan mengembangkan kerajaan Islam Aceh antara lain :

  • Kerajaan Aceh letaknya strategi yaitu di tepi jalan dagang nasional maupun internasional. Jalan dagang nasional itu sesampainya di Sumatra Selatan bercabang dua yaitu melalui Pantai Timur Sumatra dan Pantai Barat Sumatra. Keduanya jalur tersebut berakhir di Aceh.
  • Aceh memiliki pelabuhan dagang Olele yang merupakan pelabuhan dagang dengan persyaratan yang baik. Yaitu terletak di muara Krueng Aceh dan di depannya terdapat pulau-pulau We, Nias dan Breueh sebagai pelindung pelabuhan.
  • Di daerah Aceh bagian pedalaman banyak menghasilkan bahan ekspor yang penting yaitu lada.
  • Aceh terletak di ujung barat Indonesia sehingga berhadapan dengan daerah Timur Tengah yang merupakan pintu gerbang untuk perdagangan ke Eropa. Dalam hubungan agama Islam, daerah Aceh disebut juga sebagai Serambi Mekah.
  • Dalam bidang politik setelah Kerajaan Malaka jatuh ke tangan Portugis maka saingan untuk perdagangan di Selat Malaka berkurang.

Kerajaan Aceh melepaskan diri dari Pedir dan rajanya yang pertama bernama Ali Mughayat Syah (1514-1528 M). Di bawah beberapa orang sultan Aceh mengadakan perluasan wilayah ke Daya, Pasai, dan Aru di Pantai Timur Sumatra. Sultan Siak terpaksa juga mengakui kekuasaan Aceh dan pada akhir abad ke-16 Malaka sebagai pusat perdagangan pernah diserang Aceh.

3.2 Masa Kejayaan Kerajaan Aceh

a) Faktor agama

Kejayaan kerajaan Islam Aceh mencapai puncak kebesarannya di bawah Sultan Iskandar Muda Perkasa Alam (1607-1636 M). Satu zaman dengan Sultan Agung Anyokrokusumo dari Mataram. Politik dalam negeri dilakukan dengan melanjutkan perluasan wilayah di pantai timur Sumatra sampai daerah Riau.

Sedangkan di pantai barat sampai Bengkulu. Di daerah-daerah itu ditempatkan Panglima Aceh. Dengan penguasaan tersebut jalur dagang melalui kedua pantai dapat dikuasai dan produksi daerah-daerah pedalamannya juga dapat diawasi. Di samping itu ia juga melakukan penyebaran agama Islam.

Corak pemerintahannya dapat dibedakan atas dua macam yaitu pemerintahan sipil di bawah kaum bangsawan. Dan pemerintahan atas dasar agama di bawah kaum ulama. Dalam pemerintahan sipil setiap kampung atau gampong dipimpin oleh olebalang. Beberapa gampong merupakan sagi dipimpin oleh Panglima Sagi yang selain berkuasa atas daerahnya juga mempunyai hak memilih sultan Aceh.

Seluruh daerah Kesultanan Aceh terbagi tiga sagi. Kesultanannya sendiri diperintah oleh seorang sultan yang berkedudukan di Banda Aceh. Sedangkan pemerintahan atas dasar agama dilakukan dengan jalan mempersatukan beberapa gampong dengan Sebuah masjid.

Kesatuan demikian disebut mukmin yang dipimpin oleh imam. Dengan susunan demikian kerajaan Aceh mengarah kepada sifat yang teokratis. Politik luar negeri Aceh bersifat bebas yang artinya membuka pintu terhadap bangsa asing asalkan mereka tidak mencampuri urusan dalam negeri. Di antaranya tidak dibenarkan menyiarkan agama selain Islam.

Karena itu bangsa Belanda dan Inggris yang bertujuan hanya untuk berdagang dapat izin mendirikan loji atau gudang di wilayah Aceh. Dalam menghadapi Portugis yang menyiarkan agama Katolik dan telah menguasai Malaka, Aceh bersikap bermusuhan.

Untuk itu Aceh mengadakan hubungan dengan kekhalifahan Turki yang merupakan Khalifah Islam satu-satunya. Sehingga Aceh memperoleh bantuan meriam untuk menghadapi Portugis.

b) Faktor perdagangan

Selain soal agama, soal perdagangan juga merupakan faktor yang dapat mempererat hubungan kedua negara itu. Dengan Belanda yang juga merupakan lawan Portugis diadakan persekutuan untuk bersama-sama merebut Malaka. Sebelum Malaka diserang terlebih dahulu Aceh menguasai kerajaan-kerajaan kecil di Semenanjung Malaya.

Kerajaan Perak dan Pahang yang banyak menghasilkan timah dapat dikuasainya. Sedangkan Kerajaan Johor yang enggan diajak bersekutu menghadapi Portugis didudukinya dan ibu kotanya Batu Sawar dirusak. Sultan Johor untuk beberapa lama ditawan di Aceh.

Malaka diserang oleh Aceh dengan kekuatan armada yang sangat besar (1629 M). Portugis bertahan di benteng A-Famosa yang tangguh dan mendapat bantuan dari beberapa kerajaan di semenanjung. Serangan gagal dan malahan armada Aceh hancur.

beteng a famosa kerajaan islam aceh
Gambar benteng A-Famosa

Setelah itu Aceh tidak lagi memiliki kekuatan armada untuk menjalankan ekspansi. Dibandingkan dengan kegagalan Demak untuk menyerang Malaka tahun 1512 M. Dan kegagalan Sultan Agung menyerang Batavia tahun 1628-1629 M.

Justru Belanda akhirnya yang dapat merebut Malaka tanpa bantuan Johor (1641 M). Pada masa kejayaan Aceh ekonomi berkembang. Daerahnya yang subur dan luas banyak menghasilkan lada. Dan kekuasaan Aceh atas daerah-daerah pantai timur dan barat Sumatra juga menambah jumlah ekspor ladanya.

Penguasaan Aceh atas beberapa daerah di Semenanjung menyebabkan bahan ekspor penting berupa timah dan lada dikuasai oleh Aceh. Sementara itu Aceh dapat berkuasa atas Selat Malaka yang merupakan jalan dagang internasional.

Selain bangsa Belanda dan Inggris, bangsa asing seperti Arab, Persia, Turki, India, Siam, Cina dan Jepang juga berdagang dengan Aceh. Bahan ekspor Aceh berupa beras dan lada dari wilayah aslinya. Timah dari Perak atau Pahang, emas perak dari Minangkabau, rempah-rempah dari Maluku.

Bahan-bahan impornya berupa kain dari India, porselin dan sutera dari Jepang dan Cina, minyak wangi dari Eropa atau Timur Tengah. Kapal-kapal Aceh juga aktif dalam perdagangan dan pelayaran sampai di Laut Merah.

3.3 Feodalisme dan Agama

Dalam kemakmuran berkembanglah feodalisme dan agama di Aceh. Kaum bangsawan yang memegang kekuasaan dalam pemerintahan sipil disebut golongan teuku. Sedangkan kaum ulama yang berperanan dalam bidang agama disebut teungku.

Antara kedua golongan masyarakat tersebut sering terjadi persaingan yang kemudian melemahkan Aceh. Sejak kerajaan Perlak (abad ke-12-13) telah terjadi permusuhan antara aliran Syi’ah dengan Sunnah Wal Jama’ah.

Tetapi pada masa pemerintahan Iskandar Muda aliran Syi’ah memperoleh perlindungan dan berkembang sampai di daerah-daerah kekuasaan Aceh. Aliran ini diajarkan oleh Hamzah Fansuri yang diteruskan oleh muridnya bernama Syamsudin Pasai.

Tetapi setelah Sultan Iskandar Muda wafat, aliran Sunnah Wal Jama’ah memperoleh kesempatan berkembang. Tokohnya adalah Nuruddin ar Raniri yang selain mengembangkan agama Islam.

Aliran Sunnah Wal Jama’ah juga menulis buku sejarah Aceh berjudul Bustanussalatin. Judul buku ini berarti Taman raja-raja, dan berisi adat istiadat Aceh serta agama Islam.

masjid baiturrahman aceh
Gambar masjid Baiturrahman Aceh

3.4 Kemunduran Kerajaan Aceh

Kerajaan Aceh mengalami kemunduran sejak pertengahan abad ke-17 karena beberapa sebab diantaranya :

  • Setelah Sultan Iskandar Muda wafat (1637 M) tidak ada raja-raja besar yang mampu mengendalikan daerah Aceh. Di bawah Sultan Iskandar Thani (1637-1642 M) sebagai pengganti Sultan Iskandar Muda, kemunduran itu sudah terasa. Terlebih pada waktu Aceh diperintah oleh Sultanah (ratu).
  • Timbulnya pertikaian yang terus-menerus di Aceh sangat melemahkan kerajaan tersebut. Yakni antara golongan bangsawan (teuku) dengan golongan ulama (teungku) yang berebutan pengaruh. Antara golongan teungku sendiri juga mudah terjadi pertikaian akibat aliran yang berbeda dalam agama (Syi’ah dengan Sunnah Wal Jama’ah).
  • Daerah-daerah yang dikuasai Aceh seperti Johor, Pahang, Perlak, Minangkabau dan Siak melepaskan dari pengaruhnya.

Kerajaan Aceh yang berdiri selama kira-kira empat abad akhirnya runtuh karena dikuasai oleh Belanda pada permulaan abad ke-20.

Related Post :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *