Kerajaan Majapahit Dalam Sejarah Indonesia

  • 8 min read
  • Apr 24, 2020
kerajaan majapahit

1. Faktor Lahirnya Kerajaan Majapahit

Kerajaan Majapahit mempunyai pusat kekuasaan di daerah Mojokerto yang terletak di sekitar Sungai Brantas. Kerajaan Majapahit merupakan puncak kejayaan kerajaan-kerajaan di Jawa Timur dan merupakan kerajaan terbesar di Indonesia sebelum Indonesia merdeka (1945).

Karena itu ada yang menyebutkan kerajaan Majapahit sebagai Negara Kesatuan Kedua. Sedang Republik Indonesia sekarang sebagai Negara Kesatuan Ketiga.

Faktor-faktor yang mendorong lahirnya kerajaan Majapahit sebagai kerajaan besar adalah sebagai berikut :

  • Kerajaan Majapahit terletak di tengah-tengah wilayah Indonesia yang merupakan letak yang baik secara geografis. Sehingga mudah memainkan peranan dalam menyatukan Indonesia dalam bidang politik maupun ekonomi.
  • Pusat kerajaannya di tepi sungai besar yang mudah dilayari. Sehingga mudah untuk menjalin hubungan dengan daerah luar.
  • Tanahnya subur dan banyak menghasilkan bahan-bahan ekspor. Khususnya hasil pertanian berupa beras dan kacang-kacangan.
  • Telah banyak kerajaan-kerajaan di Jawa Timur sebelum Majapahit yang merintisnya. Khususnya kerajaan Singasari di bawah Kertanegara. Gagasan Nusantara telah diperoleh dan cara pelaksanaannya sebagian telah dilakukan.
  • Timbulnya tokoh-tokoh negarawan seperti R. Wijaya yang dapat mempergunakan kesempatan yang baik saat tentara Kubilai Khan datang untuk menghukum Kertanegara. Tentara tersebut dipergunakan oleh R. Wijaya untuk menyerang Kediri yang merupakan penghalang bagi lahirnya kerajaan Majapahit. Patih Gajah Mada melaksanakan Gagasan Nusantara yang diperolehnya dari Kertanegara.
  • Tidak adanya lagi saingan kerajaan di Indonesia. Kerajaan Sriwijaya sudah semakin lemah setelah mendapat serangan dari Colamandala. Sedangkan Kediri runtuh akibat siasat yang dijalankan oleh R. Wijaya.
  • Tidak ada lagi kerajaan besar yang menjadi penghalang di luar Indonesia. Kerajaan Colamandala di India dan kerajaan Yuan di Cina terpecah-belah setelah pemimpin besarnya meninggal.

2. Perkembangan Kerajaan Majapahit

Kerajaan Majapahit lahir dalam suasana perubahan besar dalam tempo singkat (revolusi) yaitu tahun 1292. Kertanegara gugur oleh pengkhianatan Jayakatwang. Akibat terdesaknya R. Wijaya oleh serangan Jayakatwang di Medan Utara sehingga Singasari hancur dan digantikan oleh Kediri.

Tetapi berkat bantuan Lurah Kudadu yaitu Aria Wiraraja ia dapat berlindung di Sumenep. R. Wijaya mengabdikan diri kepada Jayakatwang atas saran dan jaminan Aria Wiraraja. Dan memperoleh tanah yang menjadi pusat kerajaan Majapahit di Desa Tarik.

Tentara Kubilai Khan sebanyak 200.000 orang di bawah pimpinan Shih Pie, Ike Mishe dan Kau Sing datang untuk menghukum Kertanegara. R. Wijaya bergabung dengan tentara tersebut dan serangannya diarahkan kepada Kediri. Karena tidak mengetahui bahwa telah terjadi perubahan besar di Jawa Timur.

Setelah dibantu dengan Kubilai Khan, R. Wijaya berhasil menghantam tentara asing itu dan mengalahkan Jayakatwang. Serangan mendadak yang tidak terkira sebelumnya memaksa tentara asing tersebut meninggalkan Jawa Timur secara terburu-buru dengan banyak korban. Akhirnya R. Wijaya menjadi raja pertama kerajaan Majapahit dengan gelar Kertarajasa Jayawardhana (1292-1307).

3. Kepemimpinan Raden Wijaya

Kedudukan R. Wijaya cukup kuat karena ia menikah dengan empat putri Kertanegara, yang tertua Tribhuwanatunggadewi dan yang termuda Gayatri. Dibandingkan dengan Mpu Sindok, Dharmawangsa, Erlangga dan Ken Arok yang menikahi putri raja hanya untuk pengesahannya sebagai raja.

Kedatangan kembali tentara Pamalayu di bawah Kebo Anabrang dapat lebih dipergunakan untuk memperkuat kedudukannya. Dara Petak yang ikut dalam rombongan menikah dengan R. Wijaya sedangkan Dara Jingga menikah dengan seorang pangeran Majapahit. Perkawinan demikian dapat meneruskan politik yang telah dirintis oleh Kertanegara di Sumatra.

Pendukung-pendukungnya diberi kedudukan dan hadiah yang pantas. Lurah Kudadu memperoleh tanah di Surabaya. Sedang Aria Wiraraja diberi kedudukan tinggi di istana dan berkuasa atas daerah Lumajang sampai Blambangan.

Tata pemerintahan pusat kerajaan disusun seperti Singasari dengan jumlah menterinya ditambah lima orang. Kepemimpinan R. Wijaya yang baik dapat segera memulihkan keadaan negara. R. Wijaya wafat tahun 1307 dan dicandikan sebagai Siwa di Sumberjati (Blitar) dan sebagai Budha di Antahpura (dalam kota Majapahit).

Arca perwujudannya adalah Harihara, yaitu Wisnu dan Siwa dalam satu arca. Arca ini menjadi bukti telah berpadunya agama Hindu dengan Budha di Jawa Timur.

arca Harihara
Gambar arca Harihara

4. Perpecahaan Majapahit

Kekacauan dialami Majapahit setelah R. Wijaya meninggal. Penggantinya adalah Kala Gemet yang bergelar Jayanegara (1309-1328), putra R. Wijaya dengan Dara Petak. Kekacauan disebabkan karena kepemimpinan Jayanegara yang kurang berbobot.

Kala Gemet dianggap setengah asing dalam lingkungan istana Majapahit karena jiwa kebangsaan Indonesia yang belum tebal. Dan karena rasa tidak puas para pejuang-pejuang kemerdekaan kerajaan Majapahit.

Kekacauannya berupa empat pemberontakan yang dapat membahayakan negara muda. Rangga Lawe yang berkedudukan di Tuban merasa tidak puas karena tidak menjadi patih Majapahit sesuai dengan harapannya. Sedangkan yang diangkat adalah Nambi (1309).

Kemudian timbul pemberontakan oleh Sora (1311) seorang rakyat dari Majapahit. Disusul oleh Nambi sendiri seorang putra Aria Wiraraja yang telah diangkat menjadi patih. Akhirnya pemberontakan di bawah Kuti (1319) yang hampir meruntuhkan kerajaan Majapahit.

Karena pemberontak sudah menduduki ibu kota dan Jayanegara menyingkir ke Badander. Penyelamatnya adalah pasukan Bhayangkari di bawah Gajah Mada. Kekacauan-kekacauan tersebut mengundang datangnya pemimpin yang kuat demi keselamatan negara.

Karena Jayanegara tidak menurunkan putra dan Gayatri telah menjadi seorang bhiksuni. Maka yang tampil adalah putri Bhre Kahuripan yang bertindak sebagai wakil ibunya. Bhre Kahuripan bergelar Tribhuwanatunggadewi Jayawisnuwardhani (1328-1350).

Pemerintahannya masih dirongrong oleh pemberontak di Sadeng dan Keta. Sepertinya pemberontakan ini cukup berat dihadapinya, sehingga Patih Mpu Naga diganti oleh Patih Gajah Mada (1331) yang berhasil menindasnya.

Tahun 1333 keluarlah Sumpah Palapa dari Gajah Mada. Isi dari sumpah Palapa tersebut yaitu Gajah Mada tidak merasakan Palapa sebelum Majapahit menguasai seluruh Nusantara. Ada yang mengartikan palapa itu buah dan ada yang mengartikan garam atau rempah-rempah.

Gajah Mada merasa prihatin dan tidak bermaksud untuk merasa senang sebelum Nusantara dapat dipersatukan. Orang-orang yang dianggap merintangi disingkirkan misalnya Arya Kembar.

Bali yang telah melepaskan diri dari Singasari dapat ditaklukkan (1343). Kemudian ditempatkan Adityawarman, putra Dara Jingga dengan Pangeran Majapahit di Melayu. Gajah Mada melanjutkan apa yang telah dirintis oleh Kertanegara.

patung gajah mada
Gambar patung Gajah Mada

5. Pemerintahan Majapahit

Tahun 1350 Rajapatmi wafat sehingga Tribhuwanatunggadewi tidak lagi memerintah atas nama ibunya. Dan menyerahkan kekuasaannya kepada Putranya bernama Hayam Wuruk yang baru berusia enam belas tahun. Ia bergelar Rajasanegara dengan masa pemerintahannya hampir empat puluh tahun (1350-1389) yang merupakan masa kejayaan Majapahit.

Hal tersebut dapat tercapai berkat kerja sama dengan Patih Gajah Mada yang kuat. Di ibu kota Majapahit terdapat lembaga-lembaga pemerintahan tingkat atas. Ada tiga lembaga pemerintahan yaitu Sapta Prabhu, Dewan Menteri Besar yang menerima perintah raja. Dan Dewan Menteri yang melanjutkan perintah raja.

Sapta Prabu merupakan Dewan kerajaan yang anggotanya terdiri atas keluarga raja. Bertugas mengurus penggantian mahkota, urusan kebijaksanaan negara dan soal keluarga raja. Dewan Menteri Besar beranggota lima orang dipimpin oleh Gajah Mada yang mengepalai urusan tata negara. Serta merangkap urusan angkatan perang dan kejaksaan. Dewan Menteri yang beranggotakan tiga orang menteri, bertugas sebagai pelaksana.

Di tingkat tengah terdapat pemerintahan daerah yang dikepalai oleh seorang bupati atau raja kecil. Mereka harus tunduk kepada pemerintah pusat kerajaan Majapahit dan dapat mengatur daerahnya secara otonom. Dengan tiap tahun datang ke ibu kota sebagai tanda tetap setia.

Daerah-daerah tersebut dinamakan dengan mancanegara yang mempunyai arti negara atau daerah di luar daerah inti kerajaan. Dengan demikian Majapahit merupakan negara serikat yang cocok untuk ukuran waktu itu mengingat sulitnya hubungan antara daerah dengan pusat.

Pada tingkat bawah terdapat seorang kepala desa yang memimpin pemerintahan desa. Pemerintahan dilakukan menurut hukum adat desa itu sendiri. Jadi struktur pemerintahan desa masih asli dimana kepalanya masih dipilih secara demokratis.

Di samping pemerintahan biasa terdapat juga pemerintahan yang bersifat keagamaan. Agama Siwa dan Budha masing-masing dikepalai oleh seorang dharmadhyaksa.

Pejabat agama berurusan sampai di tingkat yang paling bawah dan menjadi penghubung pusat dengan daerah. Desa-desa yang dibebaskan membayar pajak untuk negara diwajibkan memelihara bangunan suci di daerahnya yang disebut perdikan.

6. Perjuangan Gajah Mada

Usaha Gajah Mada mewujudkan gagasan Nusantara banyak mendapat kesulitan karena jiwa kesatuan memang belum ada. Contohnya Gajah Mada terpaksa mempergunakan kekerasan dalam peristiwa Bubat (1357). Bubat adalah nama lapangan di Majapahit tempat terjadinya perselisihan antara pasukan Pajajaran dengan Majapahit akibat perbedaan pendapat.

Raja Pajajaran bernama Sri Baduga Maharaja membawa putrinya bernama Diah Pitaloka yang akan menikah dengan Hayam Wuruk. Ia meminta perlakuan yang sederajat tetapi ditolak oleh Gajah Mada yang berpendapat bahwa Pajajaran merupakan bawahan Majapahit. Akibat perselisihan tersebut pasukan Pajajaran bersama raja dan putrinya binasa.

Demikian juga usaha mempersatukan daerah Aceh yang strategis untuk perdagangan memperoleh perlawanan. Daerah tersebut sudah merupakan daerah yang menganut agama Islam dalam pertengahan abad ke-13. Dan kedudukannya sangat strategis di tepi Selat Malaka.

Dalam kitab Negarakertagama disebutkan secara jelas daerah-daerah yang bernaung di bawah panji-panji kerajaan Majapahit. Daerah-daerah tersebut adalah Jawa, Sumatra, Kalimantan, Nusatenggara, Sulawesi, Maluku, Irian dan daerah-daerah di sekitar pulau tersebut. Di samping itu semenanjung Malaya juga merupakan wilayahnya.

Untuk memelihara kesatuan dan keamanan Indonesia, armada Majapahit di bawah Laksamana Nala sangat berperanan. Gangguan keamanan yang dilakukan oleh bajak-bajak laut dari Sulu (Filipina) dan dari Cina dapat diatasi berkat kuatnya armada Majapahit.

Dengan negara-negara lain diadakan hubungan baik yang diistilahkan dengan mitreka satata. Yang berarti selalu sebagai sahabat atau sahabat sehaluan. Seperti Muangthai, Birma, Campa, Kamboja dan Annam.

peta wilayah majapahit
Gambar peta wilayah kekuasaan kerajaan Majapahit

7. Candi-Candi Masa Kerajaan Majapahit

Kejayaan Majapahit bukan hanya tampak dalam bidang politik dengan dipersatukannya wilayah Indonesia. Dalam bidang percandian dan kesastraan juga ampak. Candi-candi di Jawa Timur lebih banyak berfungsi sebagai kuburan daripada sebagai rumah dewa (devagrha).

Dalam candi terdapat arca perwujudan raja yang telah meninggal. Seorang raja dapat dicandikan di beberapa tempat menurut agama yang berbeda dengan perwujudan yang berbeda pula. Candi-candi sebagai tempat pemujaan roh nenek moyang dipelihara dengan baik.

Dalam waktu tertentu Hayam Wuruk keliling negeri untuk mengunjungi candi-candi yang merupakan makam nenek moyangnya. Di antaranya adalah Candi Sumberjati yang merupakan makam R. Wijaya sebagai Siwa. Candi Antahpura yang merupakan makam R. Wijaya sebagai Budha.

Candi Rimbi untuk Tribhuwanatunggadewi dalam perwujudannya sebagai Parwati. Dan masih banyak candi lain yang dibangun sebagai tempat suci seperti Candi Surawana, Candi Tigawangi dekat Kediri.

candi rimbi
Gambar candi Rimbi

8. Kebudayaan Majapahit

Kitab Negarakertagama karya Mpu Prapanca merupakan hasil sastra yang penting dan merupakan kitab sejarah (1365). Dari kitab itu dapat banyak mengetahui sejarah Singasari dan Majapahit. Dapat dihimpun Kutaranawa sebagai kitab hukum yang bersumber pada kitab hukum Hindu. Tetapi telah disesuaikan dengan hukum adat Majapahit.

Mpu Tantular mengarang kitab Arjunawiwaha dan Sutasoma. Dalam Arjunawiwaha diceritakan tentang kalahnya Rawana oleh Arjuna Sasrabahu. Sedangkan kitab Sutasoma berisi tentang riwayat seorang putra raja yang taat pada agama Budha. Dan selalu bersedia mengorbankan dirinya demi membantu makhluk lain.

Menurut berita Cina, bangsa asing yang hendak ke Majapahit harus melalui pelabuhan Tuban kemudian ke Gresik. Dengan mempergunakan perahu-perahu kecil mereka meneruskan perjalanan ke Canggu. Dengan menempuh jalan darat sampailah ke ibu kota Majapahit.

Ibu kota Majapahit sendiri dikelilingi oleh tembok tinggi yang terbuat dari batu bata. Penduduknya berjumlah 300.000 kepala keluarga. Raja memakai mahkota emas, kain selendang serta membawa keris. Jika mengadakan perjalanan ke luar dikendarainya gajah atau kereta yang ditarik lembu.

Pengawal-pengawal bawa tombak. Penduduk Majapahit terdiri atas golongan Islam yang banyak beradagang di ibu kota. Golongan Cina yang juga banyak memeluk agama Islam dan rakyat biasa yang dikatakan masih menyembah berhala (penganut agama Hindu).

Penduduk makan sirih dan gemar menonton wayang beber. Anak-anak mulai berumur tiga tahun memakai keris yang hulunya dihias indah. Keris merupakan salah satu pelengkap pakaian bahkan merupakan senjata bela diri.

Pada waktu ada perayaan diadakan perang-perangan dengan mempergunakan tombak dari bambu. Raja juga ikut berperan dalam perayaan. Pada waktu tertentu diadakan pesta memperingati roh nenek moyang.

9. Faktor Kemunduran Kerajaan Majapahit

Raja Hayam Wuruk sedih karena Patih Gajah Mada wafat (1364) tetapi tidak dapat diperoleh ganti yang secakap Gajah Mada. Jabatan yang banyak dipegang olehnya terpaksa dibagikan kepada tiga orang penggantinya. Pada tahun 1389 Hayam Wuruk pun meninggal.

Sepeninggal Hayam Wuruk, Majapahit mengalami kejadian-kejadian yang mengakibatkan kemunduran kerajaan. Salah satu peristiwa yang menggoyahkan kesatuan Majapahit adalah perang saudara. Antara Wikramawardhana dengan Bhre Wirabumi tahun 1401-1406 yang dikenal dengan Perang Paregreg.

Setelah Perang Paregreg berakhir dengan terbunuhnya Bhre Wirabumi. Kekuasaan raja-raja Majapahit berikutnya seperti Sohinta, Kertawijaya, dan Bhre Pamotan semakin berkurang dan Majapahit banyak mengalami kemunduran.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan kemunduran Majapahit diantaranya :

  • Terjadinya perang saudara yang sangat melemahkan Majapahit. Di antaranya yang terkenal adalah Perang Paregreg (1401-1406) yang dilakukan oleh Bhre Wirabumi melawan pusat kekuasaan Majapahit. Bhre Wirabumi adalah saudara Hayam Wuruk dari lain ibu yang telah diberi wilayah di Blambangan. la ingin menjadi raja Majapahit. Dalam cerita Bhre Wirabumi dikenal sebagai Damar Wulan atau Raden Gajah mengalahkan Menakjingga. Kemudian Girindrawardhana melakukan usaha pemisahan diri dari Kediri yang membuat Majapahit semakin melemah (1478).
  • Di pemerintah pusat tidak ada lagi tokoh seperti Gajah Mada dan Hayam Wuruh. Yang dapat mempertahankan kesatuan wilayah setelah mereka meninggal.
  • Mirip dengan pemerintahan serikat dimana struktur pemerintahan kerajaan Majapahit banyak memberikan kebebasan kepada daerah. Memudahkan daerah-daerah untuk melepaskan diri jika diketahui di pusat pemerintahan tidak ada pemegang kekuasaan yang kuat.
  • Adanya agama Islam di Jawa Timur sejak zaman Kediri. Memunculkan kekuatan masyarakat yang tidak mendukung agama Hindu pada pemerintahan Majapahit. Bupati pantai banyak menganut Islam karena kepentingan dagangnya. Kemudian tidak patuh lagi kepada pemerintahan Majapahit.

10. Tahun Keruntuhan Majapahit

Ada dua pendapat tentang tahun keruntuhan Majapahit, yaitu :

  • Tahun 1478, yaitu waktu Girindrawardhana dari Kediri memisahkan diri dari Majapahit dan menamakan dirinya sebagai Raja Wilwatikta Daha Jenggala Kediri. Peristiwa tersebut diberi candra sangkala “Hilang sirna Kartaning Bhumi” yang berarti tahun 1400 Saka atau 1478 M. Dengan pemisahan tersebut berarti Kerajaan Majapahit tidak utuh lagi atau pusat kekuasaan telah beralih ke Kediri kembali.
  • Tahun 1526, yaitu waktu terjadi serangan tentara Islam dari Demak atas kerajaan Majapahit. Serangan yang dilakukan oleh kerajaan Islam pertama tersebut diartikan sebagai pengakhiran kekuasaan Hindu di Jawa.

Related Post :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *