Kerajaan Mataram dan Perkembangannya di Indonesia

  • 15 min read
  • Apr 24, 2020
kerajaan mataram

1. Kerajaan Mataram I (Mataram Kuno)

1.1 Lokasi Kerajaan Mataram I

Kerajaan Mataram I (Mataram Kuno) terletak di Jawa Tengah, daerah intinya yang disebut Bhumi Mataram terletak di bagian selatan. Daerah itu dikelilingi oleh pegunungan dan gunung-gunung.

Seperti Pegunungan Serayu, Gunung Prau, Gunung Sindoro, Gunung Sumbing, Gunung Ungaran. Serta Gunung Merbabu Gunung Merapi, Pegunungan Kendeng, Gunung Lawu dan Pegunungan Sewu atau Kidul.

Di tengah mengalir banyak sungai di antaranya yang besar adalah Bogowonto, Progo, Elo, dan yang terbesar adalah Bengawan Solo. Karena itu daerah yang merupakan lingkungan tertutup itu merupakan daerah subur sejak zaman dahulu.

Kesuburan tanah memudahkan pertambahan penduduk. Sehingga daya manusia daerah itu cukup besar, yang merupakan kekuatan utama bagi negara barat. Sebelah selatan Bhumi Mataram terdapat Lautan Indonesia, tetapi lautan itu sulit dilayari.

Pelayaran dan perdagangan dilakukan melalui pantai utara Jawa yang agak jauh dari Bhumi Mataram. Karena itu mata pencaharian utama Mataram adalah pertanian, sedangkan pencaharian perdagangan kurang mendapat perhatian.

1.2 Pemerintahan

Bhumi Mataram diperintah oleh dua wangsa atau dinasti. Wangsa Sanjaya yang beragama Hindu khususnya Siwa dan wangsa Syailendra yang beragama Budha. Dalam soal pembuatan candi agaknya kedua wangsa itu masih dapat kerja sama.

Tetapi dalam bidang politik terjadi perebutan kekuasaan. Prasasti-prasasti wangsa Sanjaya tertulis dalam bahasa Jawa Kuno atau bahasa Sanskerta sehingga memungkinkan wangsa Sanjaya berasa dari Jawa Tengah. Sedangkan wangsa Syailendra yang berarti keluarga dari gunung mungkin sekali dari Sriwijaya. Hal tersebut terlihat dari persamaan agamanya yaitu Budha.

Balaputra Dewa dari wangsa Syailendra menyingkir dari Jawa Tengah ke Sriwijaya, yang waktu itu telah bernama Swarnadwipa. Beberapa prasastinya telah mempergunakan bahasa Melayu Kuno.

a) Sanjaya

Pada mulanya yang berkuasa di Mataram adalah wangsa Sanjaya. Prasasti Canggal di Gunung Wukir berangka tahun 732 M menyebutkan bahwa raja Sanjaya mendirikan sebuah lingga (lamang Siwa). Terletak di daerah yang kaya akan hasil bumi padi dan emas yaitu di daerah Kunjarakunya, di Yawadwipa.

Prasasti Canggal
Gambar prasasti Canggal

Awal mula yang memerintah adalah Sanna. Setelah ia wafat digantikan oleh Sanjaya yang merupakan wangsa dan ahli dalam kitab suci serta keprajuritan. Ia menaklukkan daerah sekitarnya dan menciptakan kemakmuran.

Cerita Parahyangan yang merupakan buku sejarah Pasundan menyebutkan bahwa Sanjaya menaklukkan Jawa Barat, Jawa Timur sampai Bali. Bahkan Melayu dan Kaling pun diperangi. Perluasan daerah itu merupakan bahaya bagi Sriwijaya.

b) Gajayana

Adanya Raja Gajayana yang mendirikan sebuah tempat pemujaan untuk Dewa Agastya (perwujudan Siwa sebagai mahaguru). Yang disebutkan dalam Prasasti Dinoyo di Jawa Timur tahun 760 M dan diwujudkan juga dalam bentuk lingga. Bangunan kunonya berupa Candi Badut dengan model candi Jawa Tengah.

Ada pendapat yang mengatakan Gajayana adalah Kiyen dari Kalinga yang menyingkir ke Jawa Timur akibat serangan Sriwijaya. Kemudian Prasasti Kalasan tahun 778 M menyebutkan bahwa seorang mustika keluarga Syailendra berhasil membujuk Panangkaran. Untuk mendirikan bangunan suci bagi Dewi Tara (istri Budha) dan sebuah biara untuk para pendeta.

prasasti dinoyo dan prasasti kalasan
Gambar prasasti Dinoyo dan prasasti Kalasan

Panangkaran menghadiahkan desa Kalasan kepada Sanggha, yaitu organisasi dalam agama Budha. Dalam Prasasti Balitung tahun 907 M disebutkan nama keluarga raja-raja keturunan Sanjaya antara lain Panangkaran. Sehingga dapat diperoleh kesimpulan bahwa waktu itu wangsa Syailendra dan Sanjaya sama-sama berperan di Jawa Tengah.

Mungkin wangsa Sanjaya di bagian utara karena banyak terdapat candi Hindu seperti Gedong Songo di Ungaran. Dan Candi Dieng di dataran tinggi Dieng. Sedangkan wangsa Syailendra di bagian selatan dimana terbukti banyak candi Budha seperti Kalasan, Borobudur dan Mendut.

c) Samaratungga

Dalam Prasasti Kelurak (daerah Prambanan) tahun 782 M disebutkan tentang pembuatan arca Manjusri perwujudan Budha, Dharma, dan Sanggha. Yang dapat disamakan dengan Brahma, Wisnu dan Maheswara (Siwa). Mungkin sekali bangunan sucinya adalah Candi Lumbung yang letaknya di sebelah utara Prambanan.

Raja yang memerintah waktu itu adalah Indra. Seorang pengganti Indra yang terkenal adalah Samaratungga yang dalam pemerintahannya mendirikan candi Budha terbesar yaitu Borobudur (824). Di bawah pemerintahan putrinya bernama Pramodhawardhani yang menikah dengan Rakai Pikatan dari wangsa Sanjaya dibangun candi-candi Budha dan Hindu.

d) Rakai Pikatan

Di Candi Plaosan yang merupakan candi Budha banyak disebutkan nama Sri Kahulunan ri Pikatan. Sehingga diartikan bahwa Sri Kahulunan adalah gelar Pramodhawardhani. Di samping itu dalam prasasti yang lain disebutkan adanya pemberian sawah dan tanah untuk menjamin pemeliharaan Candi Borobudur.

Rakai Pikatan sendiri membangun bangunan Hindu yang diperkirakan berupa Candi Prambanan atau Loro Jonggrang. Dengan demikian maka antara Yogyakarta dan Surakarta dibangun dua macam candi. Yaitu candi Budha dan Hindu secara berdekatan yang menggambarkan kerukunan beragama di Mataram.

candi prambanan kerajaan mataram
Gambar relief dan candi Prambanan

Pembuatan bangunan besar untuk ukuran zaman itu banyak memakan tenaga dari rakyat yang pada umumnya masih beragama Hindu. Sehingga pembuatan candi-candi Budha merupakan kerja paksa.

e) Balaputra Dewa

Pada tahun 856 terjadi perubahan besar di Jawa Tengah. Balaputra Dewa (adik Pramodhawardhani) berusaha merebut kekuasaan, tetapi tidak berhasil. Pusat pemerintahan Balaputra Dewa adalah daerah pegunungan di selatan yang terkenal sebagai Istana Ratu Boko.

la bahkan tersingkir dari Jawa Tengah dan menetap di Sriwijaya sebagai raja. Pergantian kekuasaan tersebut diketahui dari Prasasti Nalanda di India sekitar tahun 860 M. Disebutkan bahwa Balaputra Dewa adalah putra Samaragrawira (Samaratungga) dan cucu dari mustika keluarga Syailendra (Indra) dari Jawa.

Dengan uraian tersebut tentunya dimaksudkan bahwa Balaputra Dewa memiliki hak atas tahta di Jawa Tengah. Bekerja sama dengan Dewapala sebagai raja Benggala yang beragama Budha merupakan penggalangan politik dalam menghadapi kekuasaan Sanjaya yang beragama Hindu.

Dalam prasasti itu juga disebutkan pemberian hadiah tanah oleh Raja Dewapala. Oleh seorang maharaja dari Swarnadwipa (Sriwijaya) untuk sebuah biara Budha yang diperlukan para jemaah Budha yang berasal dari Sriwijaya.

Jawa Tengah kemudian sepenuhnya diperintah oleh wangsa Sanjaya dengan raja-rajanya. Seperti Kayuwangi (856-886), Watuhumalang (886-898), Balitung (898-910), Tulodong (919 -924) dan Wawa (924-929).

1.3 Masa Kejayaan

Kejayaan Mataram I terlihat dalam pembangunan candi. Bangsa Indonesia telah mengenal bangunan dari batu berundak-undak yang dipergunakan untuk memuja roh nenek moyang sebelum bangsa Hindu datang. Bangunan demikian merupakan prototipe candi.

Ditempatkan arca dewa Hindu karena kuatnya pengaruh Hindu dalam bangunan candi. Seperti Budha di Candi Borobudur, Brahma – Siwa – Wisnu di Prambanan. Bangunan candi menghadap ke timur agar orang yang berdoa berkiblat ke India. Relief pada candi melukiskan riwayat Budha di Borobudur dan kisah Rama di Prambanan.

candi borobudur kerajaan mataram
Gambar relief dan candi Borobudur

Pertanian merupakan mata pencaharian pokok di Mataram. Pencaharian lain yaitu perdagangan. Hasil pertanian utama yang diekspor adalah beras dan sangat diperlukan oleh Sriwijaya sebagai negara dagang. Pelabuhan penting yaitu Bergota di kaki pegunungan Candi (Semarang).

Pemerintahan Syailendra maupun Sanjaya merupakan kerajaan. Kekuasaan dipusatkan kepada raja, rakyat harus berbakti dan patuh kepada raja.

Dengan pemerintahan seperti itu maka dapat dikerahkan rakyat untuk membangun candi-candi besar dari batu kali. Yang sampai sekarang sebagian candi tersebut masih berdiri megah. Rakyat daerah pertanian yang kurang banyak berhubungan dengan dunia luar dengan patuh menjalankan perintah raja sebagai keturunan dewa.

1.4 Kemunduran Kerajaan Mataram I

Pada abad ke-10 peranan Kerajaan Mataram I di Jawa Tengah mengalami kemunduran. Peranan dilanjutkan oleh kerajaan-kerajaan di Jawa Timur. Atau dikatakan bahwa pusat kekuasaan pindah dari Jawa Tengah ke Jawa Timur.

Pendapat lama menyebutkan adanya gangguan alam berupa banjir atau gunung meletus ataupun wabah penyakit. Tetapi bukti-bukti tidak diperoleh. Pendapat lain menyebutkan bahwa akibat paksaan terhadap rakyat yang pada umumnya masih menganut agama Hindu untuk membuat candi Budha. Hal tersebut penyebab rakyat menyingkir ke Timur.

Pendapat baru menyebutkan dua faktor penyebabnya yaitu karena keadaan alam dan soal politik.

a) Keadaan alam

Alam Bhumi Mataram tertutup secara alamiah dari dunia luar sehingga negara sulit berkembang. Sebaliknya alam Jawa Timur lebih terbuka untuk perdagangan luar, tidak ada pegunungan atau gunung yang merintangi. Bahkan Bengawan Solo dan Kali Brantas memperlancar jalan perdagangan antara daerah pedalaman dan pantai.

Negara dapat lebih berkembang bila ekonominya didasarkan pada pertanian dan perdagangan. Alam Jawa Timur belum lama dimanfaatkan sehingga tanahnya masih lebih subur dibandingkan dengan Jawa Tengah yang telah lama dimanfaatkan.

b) Soal politik

Setelah wangsa Syailendra terdesak dari Jawa Tengah dan menetap di Sumatra, ancaman Sriwijaya dirasakan. Karena itu kekuasaan di Jawa Tengah perlu menjauh dari tekanan Sriwijaya.

Serangan dari kerajaan Sriwijaya dalam pertengahan abad ke-10 dapat dipatahkan oleh Mpu Sindok di daerah Kediri. Tetapi serangan Sriwijaya dengan bantuan Raja Wurawari dapat menghancurkan kerajaan Dharmawangsa pada tahun 1017.

2. Kerajaan Mataram II

2.1 Timbulnya Kerajaan Mataram II

a) Sutowijoyo

Pendiri Kerajaan Mataram Kedua adalah Sutowijoyo atau Panembahan Senopati, putra Kiai Gede Pamanahan. Sutowijoyo mengabdi kepada Sultan Adiwijoyo sebagai Komandan Pasukan Pengawal Raja sebelum menjadi Raja Mataram. Serta dengan putra mahkota Pajang yang bernama Pangeran Banowo telah bersahabat karib.

Setelah Kiai Gede Pamanahan wafat (1575), Sutowijoyo menggantikannya sebagai bupati dan bercita-cita menjadi penguasa di Jawa. Pasukannya diperkuat dan mulai tidak setia kepada Sultan Adiwijoyo. Ia berani melepaskan iparnya yang akan dibuang oleh Sultan Adiwijoyo ke Semarang dan tidak bersedia datang ke istana.

Sultan Adiwijoyo menyerang kedudukan Sutowijoyo tetapi dapat dikalahkan, bahkan sultan Adiwijoyo gugur dalam pertempuran (1582). Terjadi lagi perebutan kekuasaan selama enam tahun. Putra Trenggono yang bernama Ario Panggiri yang telah dijadikan bupati Demak diangkat sebagai Sultan Pajang oleh keluarga Trenggono.

Tetapi tidak memperoleh dukungan dari rakyat. Ario Panggiri melepaskan tanah Pajang karena lebih mementingkan rakyat Demak. Pangeran Banowo yang tidak kuat dengan sukarela menyerahkan takhta Pajang kepada Sutowijoyo.

Banowo dijadikan bupati Pajang sedangkan Ario Panggiri tetap dijadikan bupati Demak untuk menghindarkan perselisihan. Kerajaan pindah ke Yogyakarta dan disebut Kerajaan Mataram dengan Sutowijoyo sebagai raja pertama (1586-1601).

b) Penyatuan Pulau Jawa

Mataram yang terletak jauh di daerah pedalaman Jawa Tengah benar-benar merupakan negara agraris. Yaitu negara yang mengutamakan pertanian sebagai sumber kehidupan. Tenaga manusia (manpower) cukup banyak untuk mencapai tujuan Sutowijoyo, yakni mempersatukan Pulau Jawa dengan Mataram sebagai pusatnya.

Namun daerah pantai yang mata pencaharian utamanya adalah perdagangan dan pelayaran lebih menghendaki sebagai negara merdeka. Atau setidak-tidaknya sebagai anggota serikat atau federasi jadi sifatnya desentralisasi. Perbedaan pandangan yang demikian menimbulkan peperangan yang berlangsung selama hampir dua abad (17-18) dan menggerogoti kekuatan kerajaan.

Bupati-bupati Islam di daerah pantai yang diperangi Mataram adalah Surabaya yang setelah kalah menyingkir ke Banten. Sementara itu daerah Cirebon dan Galuh di Jawa Barat dapat menjadi daerah pengaruh.

Setelah Sutowijoyo meninggal dan digantikan oleh Mas Jolang (1601-1613) Mataram masih terus menaklukkan daerah pantai. Bahkan ada daerah pantai yang melepaskan diri dan harus direbut lagi. Mas Jolang gugur di daerah Krapyak dalam usaha menyatukan kerajaan, sehingga ia disebut Panembahan Seda Krapyak.

2.2 Kejayaan Mataram II

2.2.1 Sultan Agung Anyokrokusumo

Raja terbesar Kerajaan Mataram adalah Sultan Agung Anyokrokusumo (1613-1645). Ibu kota Kerajaan Mataram adalah Karto. Menurut tulisan orang-orang Belanda yang datang ke ibu kota tersebut dikatakan bahwa kota Karto terletak di lembah sungai yang subur.

Jumlah desa dan penduduknya banyak. Jalan-jalan selalu ramai karena banyaknya orang mengangkut hasil pertaniannya. Setiap harinya disembelih empat ratus ekor ternak. Di sudut-sudut kota ditempatkan kentongan. Yang jika dibunyikan dengan nada tertentu akan mengundang sebanyak dua ratus ribu orang untuk berkumpul di kota.

Hari raya Maulud selalu dirayakan dengan ramai. Sultan Agung adalah raja tampan, mukanya bundar dan matanya tajam seperti singa bila memandang sekeliling. Pakaiannya tidak jauh dengan rakyat biasa. Pada hari Senin dan Kamis diadakan sebo, artinya menghadap raja.

sultan agung
Gambar lukisan Sultan Agung Anyokrokusumo

Sultan Agung duduk di sitihinggil, yaitu bagian lantai yang ditinggikan. Di sekelilingnya duduk berderet tiga pegawai kerajaan. Sultan dilayani oleh abdi dalem yang terdiri atas wanita. Pada hari Sabtu para bangsawan maupun pangeran mengadakan latihan perang yang disebut Seton.

2.2.2 Penyatuan Negara

Masa pemerintahan Sultan Agung yang selama 32 tahun dibedakan atas dua periode, yaitu masa penyatuan negara dan masa pembangunan. Masa penyatuan negara (1613-1629) merupakan masa peperangan untuk mewujudkan cita-cita menyatukan Pulau Jawa. Seperti pada masa Sutowijoyo dan Mas Jolang, pada masa Sultan Agung juga terus-menerus diupayakan.

a) Penyerangan ke Surabaya

Agar seluruh Jawa khususnya daerah pantai tunduk kepada Mataram. Pada masa permulaan pemerintahan Sultan Agung, Surabaya memimpin persekutuan menyerang Mataram. Sebelum sampai di Karto, tentara persekutuan tersebut kekurangan bahan makanan sehingga dengan mudah dapat dikalahkan oleh Sultan Agung.

Kemudian ganti Sultan Agung menyerang Surabaya dengan kekuatan delapan puluh ribu prajurit (1622). Serangan gagal karena kuatnya pertahanan yang mendapat bantuan dari anggota persekutuan. Karena itu siasatnya diubah dengan menyerang anggota-anggota persekutuan lebih dahulu.

Sumenep, Jaratan, Gresik, Pasuruan, Arisbaya, Sampang dan Pamekasan merupakan anggota persekutuan yang diserang. Dengan siasat membendung Kali Mas yang merupakan taktik agraris sehingga Surabaya kekurangan air. Kemudian dialirkan sedikit air yang diberi bangkai binatang sehingga menimbulkan wabah penyakit. Hal tersebut melemahkan ketahanan Surabaya dan akhirnya menyerah.

Bupati Surabaya bernama Pekik dikagumi oleh Sultan Agung karena keberaniannya. Maka jabatannya sebagai bupati Surabaya tetap dipertahankan dan dikawinkan dengan putrinya bernama Ratu Wandan Sari.

Surabaya mengakui Mataram sebagai kerajaan. Tetapi politik Sultan Agung menaklukkan daerah pantai membawa akibat lemahnya semangat bahari sehingga perdagangan mundur. Batavia merupakan pusat kedudukan Kumpeni Dagang Belanda. Pada mulanya perselisihannya dengan Belanda dimulai di Jepara sebagai pelabuhan utama Mataram.

b) Penyerangan ke Batavia

Belanda merampas sejumlah perahu bangsa Indonesia. Kemudian dibalas berupa penyerbuan kantor dagang Belanda di kota itu dan menawan sejumlah orang ke Mataram (1618). Setelah Sultan Agung dapat membereskan Bang Wetan, yaitu daerah sebelah timur yang dipimpin oleh Surabaya. Kemudian barulah perhatiannya ditujukan ke Batavia di sebelah barat.

Untuk menghadapi Belanda, Mataram mengadakan hubungan dengan Portugis yang merupakan musuh Belanda dan ingin memperoleh beras dari Mataram. Portugis berjanji akan menyerang Batavia dari laut dan Mataram dari darat, tetapi janji tersebut tidak dipenuhi.

Perlawanan terhadap Belanda di Batavia pada mulanya dilakukan dengan strategis ekonomi. Yaitu dengan memblokir Batavia dan melarang pengirimam barang dagangan ke Batavia. Kemudian dilakukan serangan dari darat dan laut secara serentak.

Bupati Baurekso dari Kendal dipercayakan memimpim serangan pertama (1628). Dibantu oleh Dipati Ukur dari Sumedang dan pasukan-pasukan lain di bawah Tumenggung Suro Agulagul, Kiai Adipati Mandurarejo dan Dipati Uposonto. Mereka akan menyerang melalui darat.

Sedangkan sejumlah perahu yang menyamar sebagai perahu dagang membawa pasukan akan menyerang dari laut. Rahasia diketahui oleh Belanda waktu kapal-kapal mereka berlabuh di Batavia. Sehingga pasukan Mataram terpaksa menyerah terlebih dahulu.

peta wilayah kekuasaan kerajaan mataram
Gambar peta wilayah kekuasaan kerajaan Mataram masa pemerintahan Sultan Agung

2.2.3 Kegagalan Serangan Mataram ke Batavia

Serangan Mataram dapat digagalkan Belanda dan mengetahui bahaya yang lebih besar dari darat. Tentara Mataram bermukim di Mataraman dan untuk mendekati benteng pertahanan Belanda, di sebelah timur Muara Ciliwung digali dan dibuat parit. Pemikiran dan kemahiran demikian merupakan ciri pasukan yang berasal dari daerah agraris.

Tetapi usaha mengepung dan mengalahkan Batavia tidak berhasil. Baurekso sendiri gugur dalam peperangan yang berlangsung dua bulan. Pada tahun berikutnya dilancarkan serangan yang kedua kali tetapi gagal juga (1629).

Kegagalan serangan-serangan Mataram atas Batavia disebabkan beberapa hal sebagai berikut :

  • Jarak Batavia dengan pusat kekuatan Mataram di Jawa Tengah terlalu jauh. Jarak tersebut harus ditempuh pasukan Mataram dengan jalan kaki melalui jalan yang masih sulit ditempuh. Serta memakan waktu sekitar satu bulan.
  • Sultan Agung mengabaikan kekuatan laut dalam politiknya yaitu menaklukkan daerah pantai dan melemahkan armadanya.
  • Kekurangan bahan makanan bagi prajurit-prajurit penyerang. Persediaan bahan makanan yang dipersiapkan di daerah Krawang telah diketahui dan dibakar oleh Belanda. Padahal untuk keperluan tersebut dilakukan pemindahan penduduk dari Mataram ke Krawang.
  • Sistem persenjataan Belanda lebih unggul dibandingkan Mataram. Walaupun Mataram telah membawa meriam dari Semarang, tetapi senjata itu belum dapat dipakai secara efektif untuk menggempur benteng Belanda.
  • Datangnya musim hujan menyebabkan siasat membendung sungai seperti yang dilakukan di Surabaya tidak berhasil. Curah hujan di pegunungan Jawa Barat lebih tinggi dan arus sungainya deras sehingga usaha membendung Sungai Ciliwung gagal.
  • Penyakit menular menjangkiti pasukan yang jumlahnya besar sedangkan pengobatan belum sempurna sehingga menimbulkan banyak korban.

Ada kemungkinan akan berhasil apabila Mataram dan Banten menjalin kerja sama untuk mengusir Belanda dari Batavia. Tetapi antara kedua negara itu justru terjadi persaingan bahkan Mataram pernah menawarkan kerja sama dengan Belanda untuk menyerang Banten.

Tawaran ditolak Belanda karena sadar bahwa persaingan kedua negara itulah yang membuat kedudukannya di Batavia lebih aman. Kegagalan penaklukan atas Batavia, berarti cita-cita Sultan Agung mempersatukan Pulau Jawa tidak berhasil.

2.2.4 Masa Pembangunan

Masa pembangunan negara (1630-1645) merupakan usaha untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Usaha-usaha yang dilakukan antara lain :

  • Memelihara Mataram sebagai negara agraris yang hasil utamanya beras dan diekspor ke Malaka. Untuk meningkatkan daerah persawahan, Sultan Agung memindahkan banyak petani ke daerah Krawang yang subur. Dan sekaligus dipergunakan sebagai persiapan untuk menyerang Batavia.
  • Atas dasar kehidupan yang agraris tersebut, disusunlah suatu masyarakat yang sifatnya feodal (feod artinya tanah). Pejabat-pejabat memperoleh imbalan berupa tanah garapan atau pajak tanah. Dari lingkungan istana atau puri kaum bangsawan, lahirlah kebudayaan istana. Berupa seni tari, seni pahat, seni suara, seni sastra, dan sebagainya.
  • Timbulnya kebudayaan Kejawen yang merupakan akulturasi antara kebudayaan asli, Hindu, Budha dan Islam. Upacara Gerebeg yang bersumber pada pemujaan roh nenek moyang berupa kenduri gunungan yang merupakan tradisi sejak zaman Majapahit. Ditetapkan waktunya bersamaan dengan perayaan hari besar Islam. Sehingga timbul Gerebeg Sawal pada hari raya Idul Fitri dan Gerebeg Maulud pada bulan Rabiulawal. Hitungan tarikh yang sebelum tahun 1633 mempergunakan tarikh Hindu yang didasarkan peredaran matahari (tarikh Samsiah). Sejak tahun itu diubah ke tarikh Islam yang berdasarkan peredaran bulan (tarikh Kamariah). Tahun Hindu 1555 diteruskan tetapi dengan perhitungan baru yang kemudian dikenal sebagai Tahun Jawa.
  • Kesusastraan Jawa maju berkat terciptanya suasana tenteram. Sultan Agung sendiri mengarang kitab Sastro Gending yang merupakan kitab filsafat. Sedangkan kitab Nitisruti, Nitisastra dan Astabrata yang berisi ajaran tabiat baik bersumber pada kitab Ramayana banyak dibaca oleh masyarakat. Sultan Agung wafat tahun 1645 dan dimakamkan di Imogiri. Raja-raja Yogyakarta maupun Surakarta yang merupakan keturunannya juga dimakamkan di Imogiri.

2.3 Kemunduran Kerajaan Mataram II

2.3.1 Pemberontakan Terhadap Mataram

Pemberontakan selain disebabkan oleh perlawanan daerah pantai terhadap kekuasaan pedalaman. Juga karena adanya rasa tidak puas terhadap pemerintahan yang dirasakan kurang bijaksana. Yang terkenal adalah pemberontakan yang dipimpin oleh Trunojoyo yang berlangsung selama lima tahun (1674-1679).

a) Pemberontakan Trunojoyo

Trunojoyo berasal dari Madura keturunan Bupati Cakraningrat yang menghendaki daerahnya sebagai daerah merdeka. Trunojoyo memperoleh bantuan dari rakyat Madura, kaum ulama di daerah Giri di bawah Kiai Puspo. Serta pelaut-pelaut Makasar di bawah Kraeng Galengsong dan Montemarano, dan pemerintah Banten yang merupakan saingan Mataram.

Mataram waktu itu diperintah oleh Amangkurat I (1645-1677) dan Amangkurat II (1677-1703) yang lemah dan tidak bijaksana. Trunojoyo berhasil menguasai Jawa Timur. Pada mulanya, kedudukannya di Sedayu kemudian pindah ke Kediri.

Jawa Tengah diserang dan ibu kota Mataram (Karto) dapat dikuasai. Amangkurat I menyingkir ke Batavia untuk minta bantuan kepada Belanda. Di Tegalwangi beliau wafat (1677) sehingga dikenal sebagai Sunan Tegalwangi.

Permintaan bantuan diteruskan oleh putra mahkota yang semula juga kurang senang kepada ayahnya, tetapi berbalik haluan setelah ayahnya terdesak. Oleh Belanda dinobatkan sebagai Amangkurat II di Batavia, tetapi harus menandatangani Perjanjian Jepara yang sangat merugikan Mataram (1678). Perjanjian Jepara itu berisi hal-hal berikut :

  • Amangkurat II sebagai raja Mataram dan menerima bantuan.
  • Belanda memperoleh pelabuhan Semarang dan hak-hak untuk berdagang.
  • Mataram harus mengganti kerugian perang yang diderita Belanda.

Amangkurat II kembali ke Jawa Tengah dengan perlindungan Cornelis Speelman. Dari pelabuhan Jepara Speelman menyerang Jawa Timur dengan bantuan tentara Ambon di bawah Kapten Jonker. Trunojoyo yang telah menyatakan diri sebagai raja, bertahan di Kediri.

Namun karena tekanan keras dari lawan ia terpaksa menyingkir ke Gunung Wilis dan akhimya menyerah kepada Jonker. Speelman menyerahkan Trunojoyo kepada Amangkurat II yang kemudian menikamnya dengan keris.

Dengan cara demikian Belanda dapat menanamkan rasa benci di kalangan bangsa Indonesia sendiri. Sedangkan mereka dapat cuci tangan dari persoalan yang dicampurinya.

b) Pemberontakan Pangeran Kajoran

Seorang tokoh ulama yang juga menentang Amangkurat I dan II adalah Pangeran Kajoran (mertua Trunojoyo). Perlawanannya terhadap Amangkurat bersumber dari ketidakpuasan terhadap pemerintahan yang menekan kaum ulama.

Setelah Trunojoyo tertangkap, perhatian Belanda dapat dicurahkan untuk menghadapi Pangeran Kajoran. Perlawanan sengit dilakukan oleh Pangeran Kajoran, tetapi akhirnya ia tertangkap.

Pangeran yang dianggap sebagai kepala agama itu mati di tangan komandan pasukan Bugis yang membantu Belanda. Sekali lagi fasa benci antarsuku Indonesia ditanamkan oleh Belanda.

Setelah pemberontakan Trunojoyo dan Pangeran Kajoran dapat diatasi Amangkurat II berkat bantuan VOC. Ibu kota Karto ditinggalkan karena rusak dan dianggap tidak bertuah lagi sebab pernah dikuasai oleh musuh. Sebagai ibu kota baru dipilih Kartosuro (1680) yang dilindungi benteng Belanda.

Amangkurat II kemudian menyadari bagaimana beratnya perjanjian yang telah ditandatanganinya. Karena itu kedatangan seorang penentang Belanda bernama Untung Suropati disambut dengan baik. Suropati adalah bekas budak belian yang berasal dari Bali.

Setelah dewasa Untung Suropati melawan Belanda di Batavia, Jawa Barat, Jawa Tengah dan akhirnya Jawa Timur. Di Kartosuro ia terlibat peperangan melawan Belanda di bawah Kapten Tack. Dalam perang tanding dengan Suropati, Kapten Tack dan tentara Belanda banyak yang mati.

Di Jawa Timur Suropati mengangkat dirinya sebagai Adipati Wironagoro dan berwilayah di daerah Malang dengan Bangil sebagai pusatnya. Walaupun Suropati melawan Belanda, tetapi dengan kedudukannya sebagai adipati yang merdeka. Berarti Mataram tidak mampu lagi berkuasa atas wilayah itu. Perlawanan Suropati berlangsung cukup lama (1681-1706).

2.3.2 Perang Perebutan Mahkota

Perang ini berlangsung tiga kali yang mengakibatkan kerajaan pecah belah, padahal dengan susah payah dipersatukan.

a) Perang perebutan mahkota I (1704-1708)

Setelah Amangkurat II wafat ia digantikan oleh Sunan Mas atau Amangkurat III (1703-1708). Sunan ini bekerja sama dengan Untung Suropati untuk mengusir Belanda. Karena itu Belanda mengakui Pangeran Puger yaitu adik Amangkurat II sebagai raja Mataram dengan gelar Paku Buwono I (1703-1719).

Setelah Untung Suropati gugur di Bangil (1706), Amangkurat III menyerah. Ia diasingkan ke Sailan (Srilanka), demikian juga beberapa keturunan Suropati yang kemudian tertangkap. Sehingga di negara itu banyak keturunan bangsa Indonesia yang menjadi warga negara Sailan. Paku Buwono I yang telah ditolong Belanda terpaksa memberikan daerah Priangan sebagai upahnya.

b) Perang perebutan mahkota II (1719-1724)

Setelah Paku Buwono I wafat ia digantikan oleh putranya yang bergelar Amangkurat IV atau Sunan Prabu (1719-1727). Tetapi saudaranya yang bernama Pangeran Diponegoro dan bangsawan lain bernama Mangkubumi melawan karena tidak puas dengan penggantian itu.

Berkat bantuan Belanda perlawanan tersebut dapat diatasi. Mereka yang menyerah dibuang ke Sailan atau Tanjung Harapan di Afrika Selatan yang waktu itu juga merupakan jajahan Belanda.

Perlawanan Sunan Kencet dan Bangsa Cina

Pada masa pemerintahan Paku Buwono II (1727-1749) kerajaan Mataram dilanda kerusuhan lagi akibat terjadi pemberontakan bangsa Cina terhadap Belanda (1740-1743). Pemberontakan tersebut pada mulanya timbul di Jakarta akibat penangkapan Belanda terhadap bangsa Cina yang bergelandangan dan mengganggu keamanan.

Suatu kebakaran di Batavia dijadikan isyarat pemberontakan dan Gubernur Jenderal Valckenier (1737-1741) memerintahkan pembunuhan terhadap bangsa Cina. Karena terdesak di Batavia, mereka menyingkir ke Jawa Tengah. Paku Buwono memihak bangsa Cina dan mereka bersama-sama menghancurkan benteng Belanda di Kartosuro.

Dengan bantuan Cakraningrat dari Madura Belanda dapat menolong Semarang yang terkepung, kemudian mereka menuju Kartosuro. Cakraningrat bersedia membantu Belanda karena ia dijanjikan akan diakui sebagai Adipati merdeka lepas dari Mataram.

Waktu tentara Belanda sudah dekat Kartosuro, Paku Buwono bimbang lalu memihak kembali kepada Belanda. Rakyat Mataram yang benci Belanda mengangkat Raden Mas Garendi sebagai raja dengan gelar Sunan Kencet. Tentara gabungan Sunan Kencet dengan Cina dapat merebut kota Kartosuro sehingga Paku Buwono II menyingkir ke Ponorogo.

Ibu kota Kartosuro dibakar oleh tentara gabungan. Dengan bantuan Belanda Paku Bowono dapat kembali ke Kartosuro sebagai raja. Karena ibu kota kerajaan telah rusak dan dianggap sial. Maka ia memindahkan ibu kota kerajaan ke Surokarto yang terletak di sebelah timurnya yaitu di tepi Bengawan Solo (1744).

Atas jasa-jasanya, Belanda menuntut seluruh Pantai Utara Jawa sebagai miliknya. Dengan demikian Belanda dapat menguasai daerah yang dilalui jalan dagangnya. Sebaliknya Mataram semakin terpojok kedudukannya sehingga negara itu semakin menurun kemakmurannya.

Cakraningrat yang telah susah payah membantu Belanda tidak memperoleh apa yang telah dijanjikan kepadanya sehingga ia pun berontak. Tetapi perlawanannya tidak berlangsung lama, ia dapat dikalahkan lalu diasingkan.

Perlawanan Raden Mas Said

Masa pemerintahan Paku Buwono II juga dilanda kekacauan. Karena perlawanan dari Raden Mas Said, putra Pangeran Diponegoro yang diasingkan akibat Perang Perebutan Mahkota II. Mas Said yang tidak menyetujui kebijaksanaan Paku Buwono II menyingkir ke daerah Sukowati disebelah timur Surokarto dan kemudian melawan.

Oleh Paku Buwono II dikeluarkan semacam sayembara, siapa yang dapat merebut daerah Sukowati akan mendapat daerah itu sebagai hadiahnya. Pangeran Mangkubumi, adik Paku Buwono II berhasil merebut Sukowati, tetapi ternyata daerah tersebut tidak diberikan. Pangeran Mangkubumi memilih bergabung dengan Raden Mas Said dengan meninggalkan kota.

c) Perang perebutan mahkota III (1747-1755)

Perebutan mahkota III terjadi antara Paku Buwono II dan III yang dibantu oleh Belanda melawan Raden Said dan Pangeran Mangkubumi. Pada waktu Paku Buwono II sakit keras, wakil VOC datang ke Surokarto. Dalam keadaan tidak sadar dan tidak mampu, Paku Buwono II menyerahkan Mataram kepada VOC.

Keadaan demikian memungkinkan hal itu terjadi. Menurut tradisi timur seseorang yang hendak meninggal biasanya menyerahkan pengurusan keluarganya kepada orang kepercayaannya. Hal itu diartikan oleh Belanda, bahwa sejak itu ia berkuasa penuh atas Mataram.

Belanda memang mengakui Paku Buwono III sebagai Sunan Mataram yang baru. Tetapi setelah itu ia bertindak memecah belah Mataram agar negara itu dapat benar-benar dikuasai.

Perlawanan Pangeran Mangkubumi bersama Raden Mas Said cukup tangguh. Daerah Bagelan dan Pekalongan dapat dikuasainya. Raden Mas Said dapat julukan Pangeran Samber Nyowo, yang berarti pangeran perenggut nyawa.

Raden Mas Said atau Pangeran Samber Nyowo
Gambar lukisan Raden Mas Said (Pangeran Samber Nyowo)

Tetapi kemudian antara kedua bangsawan tersebut terjadi perselisihan, yang dimanfaatkan oleh Belanda. Dengan perantaraan seorang Arab yang mengaku berasal dari Tanah Suci dan membawa perintah khalifah untuk mendamaikan Pangeran Mangkubumi dengan Belanda. Maka tawaran untuk berdamai diterima oleh Pangeran Mangkubumi.

Perjanjian Gianti

Di suatu desa yang terletak di sebelah timur Surokarto ditandatangani Perjanjian Gianti. Antara Paku Buwono III, Pangeran Mangkubumi dan Belanda (12.55).

Dalam perjanjian ditetapkan bahwa Mataram dibagi dua. Bagian timur untuk Paku Buwono III yang beribu kota di Surokarto. Dan bagian barat untuk Pangeran Mangkubumi yang bergelar Hamengku Buwono I dengan ibu kota Yogyakarta.

Raden Mas Said yang mengadakan perlawanan, bertambah musuhnya yakni Pangeran Mangkubumi. Yang telah diakui sebagai Sultan Hamengku Buwono I sehingga kedudukannya makin terdesak. Karena itu ia terpaksa berunding dan terjadi Perjanjian Salatiga (1757).

Perjanjian Salatiga

Dalam perjanjian Salatiga ditentukan bahwa Raden Mas Said menerima suatu daerah dalam Kerajaan Surokarto sebagai daerah kadipaten. Dan memperoleh gelar Pangeran Adipati Mangkunegoro I serta memiliki hak memelihara tentara. Tentara tersebut terkenal sebagai Legioen Mangkoenegaran yang terdiri atas pasukan darat, pasukan berkuda, pasukan meriam yang dipergunakan oleh Belanda.

Kerajaan Mataram yang semula sudah hampir mencakup Pulau Jawa menjadi sempit karena daerah lainnya dikuasai oleh Belanda. Daerah Bhumi Mataram yang sempit dipecah menjadi dua kerajaan, yaitu Surokarto dan Yogyakarta (1755).

Sebagian Surokarto diberikan kepada Mangkunegaran selaku Adipati (1757). Kemudian sebagian dari Yogyakarta juga diberikan kepada Paku Alam selaku Adipati (1813).