Manusia Purba Pada Zaman Prasejarah

  • 16 min read
  • May 01, 2020
manusia purba

1. Manusia Purba di Indonesia

Indonesia sebagai wilayah tropis memiliki aneka ragam kehidupan berupa fauna dan flora. Peninggalan yang berupa fosil manusia purba banyak memberikan sumbangan terhadap ilmu pengetahuan.

Manusia purba yang dianggap tua adalah Meganthropus Palaeojavanicus, artinya manusia raksasa dari Jawa kuno. Jenis manusia purba ini ditemukan di Desa Sangiran di Lembah Bengawan Solo oleh Von Koenigswald pada tahun 1941.

manusia purba Meganthropus Palaeojavanicus
Gambar fosil Meganthropus Palaeojavanicus

Tulang-tulang yang ditemukan berupa rahang bawah yang besar. Geraham-geraham yang menunjukkan geraham manusia tetapi masih ada juga sifat geraham kera tapi dagunya tidak ada.

Diperkirakan tubuh manusia purba ini sangat besar dan merupakan manusia terkuno sehingga dinamai manusia raksasa dari Jawa kuno. Fosil manusia purba ini ditemukan di lapisan Pleistosen Bawah.

Pleistosen adalah skala waktu geologi yang menjelaskan hubungan dan waktu peristiwa yang terjadi pada sejarah bumi. Skala waktu tersebut biasanya digunakan oleh para ilmuan dan para ahli geologi.

Skala waktu Pleistosen dibedakan menjadi tiga, yaitu :

  • Pleistosen Awal (lapisan bawah), antara 1,8 juta sampai 780 ribu tahun yang lalu.
  • Pleistosen Tengah, antara 780 ribu sampai 126 ribu tahun yang lalu.
  • Dan Pleistosen Akhir (lapisan atas), antara 126 ribu sampai 11,7 ribu tahun yang lalu.

1.1 Manusia Purba Pithecanthropus

a) Pithecanthropus Mojokertensis

Pithecanthropus Mojokertensis artinya manusia kera dari Mojokerto. Manusia purba ini juga ditemukan di lapisan Pleistosen Bawah. Jenis manusia ini ditemukan di dekat Kota Mojokerto oleh Von Koenigswald pada tahun 1936.

Fosil tersebut merupakan tengkorak anak-anak. Hal itu tampak pada bagian giginya, diperkirakan dari anak yang belum berumur lima tahun. Dari lapisan Pleistosen Bawah juga ditemukan fosil lainnya yang diberi nama Pithecanthropus Robustus. Artinya manusia kera yang besar atau kuat tubuhnya.

Manusia purba ini juga ditemukan oleh Von Koenigswald pada tahun 1939 di Lembah Bengawan Solo. Ditemukan dalam lapisan Pleistosen Tengah yang terkenal sebagai lapisan dari fauna Trinil.

Von Koenigswald penemu manusia purba Pithecanthropus Mojokertensis
Gambar Von Koenigswald penemu fosil tengkorak anak-anak Pithecanthropus Mojokertensis
b) Pithecanthropus Erectus

Suatu penemuan penting di Indonesia adalah penemuan manusia purba yang disebut Pithecanthropus Erectus. Artinya manusia kera yang berjalan tegak. Penemuan ini oleh E. Dubois di dekat Trinil Lembah Bengawan Solo pada tahun 1890.

Pada mulanya yang ditemukan adalah tulang rahang. Kemudian pada tahun berikutnya dalam jarak 40 meter dari tempat penemuan pertama ditemukan bagian atas tengkorak. Tahun berikutnya ditemukan sebuah geraham dan sebuah tulang paha kiri.

manusia purba Pithecanthropus Erectus
Gambar fosil dan rekonstruksi Pithecanthropus Erectus

Berdasarkan penyelidikan dapat diketahui bahwa jenis manusia purba tersebut mempunyai isi atau volume otak 900 cc. Duduknya kepala di atas leher, tulang keningnya menonjol ke muka, bagian hidung bergandeng menjadi satu.

Ciri-ciri lainnya yaitu tulang dahinya lurus ke belakang, tulang kakinya sudah cukup besar, gerahamnya masih besar. Dari ciri-ciri tersebut dapat diambil kesimpulan. Bahwa jenis manusia purba tersebut merupakan makhluk yang kedudukannya di antara manusia dan kera namun sudah dapat berjalan tegak.

Penemuan tersebut di dalam dunia pengetahuan dianggap sangat penting. Karena seakan-akan menjadi bukti masalah yang belum terbuktikan oleh Charles Darwin dalam Teori Evolusi.

Menurut teori itu salah satu cabang keturunan kera adalah manusia. Tetapi belum ada bukti berupa makhluk peralihan dari kera ke manusia sehingga terjadi missing link tersebut. Pithecanthropus Erectus dianggap sebagai missing link tersebut karena keadaannya antara manusia dengan kera.

1.2 Manusia Purba Homo

a) Homo Soloensis

Penemuan makhluk yang lebih muda berupa Homo Soloensis yang artinya manusia dari Solo. Ditemukan dari lapisan Pleistosen Atas di Ngandong Lembah Bengawan Solo oleh Von Koenigswald dan Weidenreich pada tahun 1931-1934.

Penemuan itu berupa sebelas fosil tengkorak yang sebagian besar bagian belakang tengkorak telah hancur. Tulang rahang dan giginya tidak ditemukan. Dari keadaannya dapat diketahui bahwa jenis itu sudah merupakan manusia bukan lagi kera manusia.

fosil manusia purba Homo Soloensis
Gambar fosil Homo Soloensis
b) Homo Wajakensis

Penemuan lain di lapisan Pleistosen Atas adalah berupa Homo Wajakensis artinya orang dari Wajak. Wajak terletak dekat Tulungagung di Lembah Kali Brantas. Ditemukan oleh E, Dubois pada tahun 1889.

Tengkorak manusia purba ini berbeda dengan tengkorak bangsa Indonesia pada umumnya karena menyerupai tengkorak bangsa asli Australia. Karena itu ada pendapat bahwa bangsa Australia asli adalah keturunan Homo Wajakensis. Suatu hal yang istimewa dari jenis ini adalah bahwa mereka telah mengetahui cara menguburkan jenazah.

fosil manusia purba Homo Wajakensis
Gambar fosil Homo Wajakensis

Dari Zaman Holosen yang merupakan masa terakhir dari Zaman Kuarter ditemukan jenis Homo Sapiens yang berarti manusia cerdas. Jenis manusia ini sudah seperti keadaan manusia sekarang, yang berbeda hanya kebudayaannya.

2. Kebudayaan Manusia Purba

Kebudayaan mempunyai kata dasar budaya berasal dari kata budi dan daya yang berarti daya dari budi. Sedangkan Koentjaraningrat mengartikan kebudayaan berasal dari kata Sanskerta buddhayah. Kata buddhayah berasal dari kata buddhi yang mempunyai arti akal atau budi.

Oleh karena itu kebudayaan dapat diartikan sebagai hal-hal yang berhubungan dengan akal manusia. Kebudayaan dapat dibedakan atas dua macam, yaitu kebudayaan benda dan kebudayaan rohani.

Kebudayaan benda (material) memiliki sifat dapat diraba, dirasa dan dilihat. Misalnya kampak, rumah dan baju. Sedangkan kebudayaan rohani (spiritual) memiliki sifat tidak dapat diraba namun dapat dirasakan adanya dan dapat dilihat gejalanya. Misalnya seni suara, seni batik, seni ukir, hukum, dan sebagainya.

Kebudayaandan kesenian telah ada sejak Zaman Prasejarah. Zaman Prasejarah adalah masa manusia belum mengenal tulisan sehingga tidak ditemukan bukti-bukti tertulis mengenai kehidupan manusia waktu itu. Setelah ada berita tertulis manusia masuk dalam masa sejarah.

Berita tertulis dapat berasal langsung dari bangsa itu sendiri seperti yang terjadi pada bangsa Mesir. Dapat juga terjadi karena adanya penulisan bangsa lain seperti yang terjadi pada penduduk asli Australia.

Dimulainya Zaman Prasejarah secara pasti sulit ditentukan tetapi berakhirnya masa itu lebih mudah disebutkan karena telah ada berita tertulis. Zaman Prasejarah Indonesia berakhir pada abad kelima Masehi dengan adanya prasasti Kutai di Kalimantan Timur.

Antara abad pertama sampai abad kelima Masehi telah ada gejala-gejala berita tertulis tetapi belum dapat dipastikan. Masa demikian disebut masa Protosejarah yang dapat diartikan sebagai masa pertama atau pendahuluan masa sejarah.

2.1 Kebudayaan Benda Manusia Purba

Benda-benda purbakala peninggalan manusia dapat dipergunakan untuk mengetahui dan menyelidiki Zaman Prasejarah. Zaman Prasejarah lamanya sekitar 6000 tahun sehingga hanya peninggalan yang terbuat dari bahan yang tahan lama saja yang tertinggal. Misalnya dari batu, perunggu dan besi. Sedangkan barang-barang yang dibuat dari kayu tidak diperoleh peninggalannya.

Penzamanan atau periodisasi artinya pembagian zaman atau periode. Periodisasi masa prasejarah hanya dapat dilakukan atas dasar bukti-bukti arkeologi. Arkeologi adalah pengetahuan yang mempelajari hasil budaya dari zaman kuno.

Pembuatan benda-benda yang bahannya telah tersedia seperti batu merupakan budaya yang dianggap lebih rendah tingkatnya. Apabila dibandingkan dengan pembuatan benda-benda dari logam seperti besi.

Periodisasi masa prasejarah dilakukan atas dasar bahan yang dipergunakan sehingga dikenal adanya Zaman Batu dan Zaman Logam. Pada Zaman Batu alat-alat utama bagi kehidupan manusia dibuat dari batu. Zaman ini dapat dibagi lagi berdasarkan cara pembuatannya benda-benda.

Pembuatan yang masih kasar dianggap lebih tua karena cara demikian dilakukan oleh bangsa primitif atau sederhana. Sedangkan alat batu yang lebih halus dikerjakan oleh bangsa yang lebih beradab atau lebih maju sehingga umurnya lebih muda. Zaman Batu dibedakan atas :

  • Paleolitikum, artinya Zaman Batu Tua. Ciri zaman ini adalah pembuatan alat-alatnya masih kasar dan manusia masih hidup mengembara.
  • Mesolitikum, artinya Zaman Batu Tengah. Cirinya adalah alat-alat dari batu mulai diperhalus untuk bagian yang diperlukan ketajamannya. Orang mulai hidup setengah menetap atau semisedenter.
  • Neolitikum, artinya Zaman Batu Muda. Cirinya bahwa alat-alat dari batu telah dihaluskan dan orang sudah menetap atau sedenter.

Pada Zaman Logam orang membuat alat-alat dari logam. Zaman ini biasanya dibedakan atas :

  • Zaman Tembaga, orang mempergunakan bahan tembaga untuk alat-alatnya. Di Indonesia zaman ini tidak dikenal.
  • Zaman Perunggu, orang mempergunakan perunggu sebagai bahan untuk alat-alatnya. Perunggu adalah campuran tembaga dengan timah. Kebudayaan ini dikenal di Indonesia dan disebut sebagai Kebudayaan Dongson.
  • Kebudayaan Besi, orang mempergunakan besi sebagai bahan untuk alat-alatnya.

2.2 Kebudayaan Rohani Manusia Purba

Selain kebudayaan material, pada zaman prasejarah bangsa Indonesia juga telah mengenal kebudayaan rohani yang tinggi. Menurut penyelidikan, bangsa Indonesia telah memiliki sepuluh kebudayaan rohani sebelum kedatangan bangsa Hindu.

a) Kemampuan berlayar

Bangsa Indonesia berasal dari daratan Asia. Kedatangan di Indonesia sekitar tahun 2000 sebelum Masehi mempergunakan perahu. Mereka menyebar luas ke barat sampai Pulau Madagaskar, ke selatan sampai Selandia Baru. Ke timur sampai Pulau Paska dan ke utara sampai Jepang.

Kemampuan berlayarnya dengan disertai pengetahuan tentang perbintangan (astronomi). Satu ciri khusus perahu bangsa Indonesia adalah mempergunakan cudik. Yaitu alat dari bambu dan kayu yang dipasang di kanan kiri perahu agar perahunya lebih stabil.

b) Kepandaian bersawah

Bangsa Indonesia telah bertempat tinggal tetap sejak Zaman Neolitikum. Sehingga mereka terdorong untuk hidup sebagai food producing atau menghasilkan makanan.

Dalam bidang pertanian pada mulanya dilakukan sistem ladang, tetapi untuk lebih meningkatkan produksi padi dipergunakan sistem sawah. Untuk itu tata pengaturan air (irigasi) sudah harus dilakukan dengan membuat saluran air dan bendungan.

c) Mengenal astronomi

Pada pelayaran saat malam hari diperlukan pengetahuan tentang astronomi. Bintang-bintang yang penting adalah Salib Selatan untuk pelayaran.

Bintang-bintang juga dipergunakan untuk mengenal datangnya musim bagi keperluan pertanian. Bintang Waluku yang berarti bintang bajak merupakan Bintang Beruang Besar.

d) Mengatur masyarakat

Aturan masyarakat perlu diadakan di dalam kehidupan berkelompok yang sudah menetap. Dari desa-desa kuno di Indonesia dapat diketahui bahwa salah satu aturan yang telah dikenal adalah kehidupan yang demokratis.

Seorang pemimpin dipilih untuk melindungi masyarakat terhadap gangguan dari luar maupun dari dalam dan dapat mengatur masyarakat dengan baik. Makamnya dipuja oleh penduduk daerah itu apabila pemimpin tersebut meninggal.

e) Sistem macapat

Tata cara yang didasarkan pada jumlah empat merupakan arti dari macapat. Pusat pemerintahan letaknya di tengah wilayah yang dikuasai. Terdapat tanah lapang atau alun-alun di pusat itu.

Terdapat bangunan-bangunan yang penting di empat penjuru alun-alun tersebut seperti pasar, tempat pemujaan, kraton dan penjara. Susunan demikian masih banyak dijumpai di kota-kota lama.

f) Kesenian wayang

Dapat diciptakan kesenian-kesenian yang lebih tinggi nilainya dalam kehidupan yang teratur dan telah menetap. Antara lain pemujaan terhadap roh nenek moyang dalam bentuk kesenian wayang. Boneka-boneka perwujudan nenek moyang dimainkan oleh dalang pada malam hari.

Dengan menempatkan lampu di belakangnya dan tirai di depannya. Maka boneka yang dimainkan itu menimbulkan bayangan pada tirai. Anak cucu menyaksikan bayangan itu dari balik tirai.

Roh nenek moyang menyuarakan suara nenek moyang yang masuk pada dalang yang berisi nasihat-nasihat kepada anak cucu. Kata wayang dalam bahasa Jawa merupakan kata dari bayang di dalam bahasa Indonesia.

Kisah dan nasehat dari nenek moyang tersebut kemudian diganti. Yaitu dengan cerita dari Ramayana dan Mahabharata yang lebih menarik setelah kedatangan bangsa Hindu. Fungsinya sebagai pertunjukan sehingga penonton melihat dari depan tirai.

g) Seni gamelan

Agar pertunjukan wayang dapat lebih dinikmati perlu dibantu oleh gamelan sebagai alat musik. Beberapa alat gamelan adalah gong bonang, gambang, rebab dan gendang.

h) Seni batik

Batik merupakan kerajinan membuat gambaran pada kain dengan alat yang disebut canting. Canting digunakan untuk menyendok lilin yang dicairkan. Dan cairan lilin tersebut keluar dari ujung canting dan dititik-titikkan pada kain.

Dari titik-titik itu diperoleh gambaran pada kain. Bagian kain yang tidak diberi lilin akan menjadi merah bila kain itu dimasukkan dalam air soga. Kemudian ada bagian yang dihilangkan atau dikerok. Bagian ini akan menjadi biru bila kain itu direndam dalam air nila.

Akhirnya bila kain itu dimasukkan dalam air panas maka sisa lilin akan larut sehingga diperoleh warna merah, biru dan putih. Untuk mempercepat penggambaran pada kain, digunakan cap sebagai alat.

i) Seni membuat barang-barang dari logam

Seni membuat barang-barang dari logam ada pada Zaman Logam. Barang dari perunggu yang banyak ditemukan di Indonesia. Sehingga Zaman Logam di Indonesia dikenal sebagai Zaman Perunggu.

j) Perdagangan

Perdagangan zaman dahulu dilakukan dengan sistem barter yaitu tata cara tukar-menukar barang dalam wujud hasil alam. Misalnya padi ditukar dengan ayam, dan kain ditukar dengan nekara.

Oleh beberapa suku seperti suku Kubu di Sumatra sistem barter itu dalam abad ke-20 masih dilakukan. Yaitu menukarkan rotan yang diperolehnya di hutan dengan garam atau tembakau yang diperlukan. Sistem barter masih belum praktis karena sulit diperoleh kesepakatan harga.

Masa prasejarah di Indonesia dimulai setelah adanya manusia purba di Indonesia dan berakhir dalam abad ke-5. Kebudayaan yang ada pada saat itu merupakan kebudayaan asli Indonesia. Sedangkan kebudayaan asing yang datang kemudian memperkaya kebudayaan yang telah ada.

3. Zaman Batu

3.1 Paleolitikum

Paleolitikum atau Zaman Batu Tua memiliki tempat peninggalan yang masih terbatas di Jawa dan Sumatra Selatan. Pendukung kebudayaan zaman ini adalah manusia purba. Dibedakan atas Kebudayaan Ngandong dan Kebudayaan Pacitan berdasarkan daerah penemuannya.

a) Kebudayaan Pacitan

Kebudayaan Pacitan adalah kebudayaan yang ditemukan di daerah Pacitan di Pegunungan Sewu Pantai Selatan Jawa. Alat yang ditemukan berupa kapak perimbas (chopper). Fungsinya sebagai kapak, tetapi belum bertangkai.

Cara mempergunakannya dengan menggenggam, karena itu disebut sebagai kapak genggam. Alat-alat Paleolitikum seperti itu juga ditemukan di Parigi (Sulawesi), Gombong (Jawa Tengah), Sukabumi (Jawa Barat), dan Lahat (Sumatra Selatan).

kapak genggam
Gambar kapak genggam
b) Kebudayaan Ngandong

Kebudayaan Ngandong ditemukan di desa Ngandong daerah Ngawi (Jawa Timur) dan tidak terlalu jauh dari Trinil. Juga ditemukan di desa Sangiran. Daerah-daerah itu terletak di Lembah Bengawan Solo. Di Ngandong juga ditemukan kapak genggam seperti yaug ditemukan di Pacitan.

Sedangkan di Sangiran ditemukan benda dari batu berupa flakes yang masih kasar. Tetapi beberapa buah telah dibuat dari batu-batu yang indah warnanya yang disebut chalcedon. Jadi masih merupakan stone culture. Selain itu ditemukan juga alat dari tulang jadi sudah merupakan bone culture.

alat dari tulang bone culture
Gambar alat dari tulang

Di antaranya alat dari tulang yang merupakan alat penusuk atau belati. Dibuat dari tanduk rusa yang kemungkinan disebut alat pengorek. Juga ditemukan semacam ujung tombak yang bergerigi di kanan kirinya dan ada yang lurus saja.

Dari lapisan penemuan alat-alat tersebut yaitu di Pleistosen Atas. Dan dari jenis alat-alatnya dapat diperkirakan bahwa pendukung kebudayaan Ngandong adalah Homo Soloensis dan Homo Wajakensis. Kehidupan mereka masih dalam tingkat mengambil makan yang ada di alam yang dinamakan food gathering.

Selain kebudayaan material seperti kapak dan belati dapat diketahui bahwa manusia purba Zaman Paleolitikum telah mengenal kebudayaan spiritual. Yaitu berupa penguburan mayat. Penguburan mayat merupakan salah satu ciri peradaban yang dapat membedakan manusia dengan binatang.

c) Kesenian

Ada bukti-bukti bahwa kesenian juga telah dikenal pada Zaman Paleolitikum. Bukti-bukti yang ditemukan adalah gambar tapak tangan berwarna merah di Gua Leang-leang di Sulawesi dan di Pantai Selatan Irian Jaya. Pendapat yang mengatakan bahwa pada zaman ini telah dikenal kesenian didasarkan pada perbandingannya dengan penemuan di Eropa.

Gambar-gambar manusia purba telah juga ditemukan di Eropa dari zaman yang sama. Tetapi ada pendapat yang mengatakan bahwa gambar-gambar tersebut berasal dari zaman berikutnya yaitu Zaman Mesolitikum.

3.2 Mesolitikum

Zaman Mesolitikum terjadi pada masa Holosen setelah masa es berakhir. Jenis manusia purba sudah merupakan Homo Sapiens yang merupakan manusia cerdas seperti keadaan kita sekarang. Kebudayaan Paleolitikum yang telah ada sebelumnya berlanjut terus dan mulai mendapat pengaruh baru yang berasal dari daratan Asia.

Penemuannya di Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi dan Flores. Jadi daerahnya lebih luas dibandingkan dengan Zaman Paleolitikum. Kehidupan penduduknya semisedenter yang artinya setengah menetap.

a) Sampah dapur Kjokkenmoddinger

Bekas peninggalan dapat ditemukan di daerah pantai dan pegunungan. Peninggalan Zaman Mesolitikum di daerah pantai dalam bahasa Denmark disebut Kjokkenmoddinger yang berarti sampah dapur. Peninggalan tersebut berupa bukit kerang yang tinggi dan panjang. Terdapat di pantai timur Sumatra antara Langsa dengan Medan.

Sampah dapur ini terjadi karena penduduk tinggal di rumah-rumah panggung di tepi pantai. Siput laut atau kerang yang direbus merupakan makanan mereka. Dengan merusak bagian atas pada siput atau membuka kulit kerang itu.

Isinya dimakan kemudian rumah siput atau kulit keras itu dibuang di bawah rumah. Begitu berlangsung ribuan tahun sehingga menjadikan sebuah pegunungan panjang yang di beberapa tempat tingginya sampai tujuh meter.

Kjokkenmoddinger sampah dapur manusia purba
Gambar peninggalan zaman mesolitikum Kjokkenmoddinger (sampah dapur)
b) Kapak Sumatra

Penemuan yang penting adalah penemuan alat buatan manusia berupa kapak genggam yang disebut pebble. Karena penemuannya di Sumatra disebut juga kapak Sumatra.

Kapak itu dibuat dari batu yang dibelah. Sisi luarnya yang memang sudah halus dibiarkan. Sedangkan sisi dalamnya yang kasar mulai dihaluskan. Kapak lainnya adalah hache courte, yang berarti kapak pendek. Kapak ini bagian tajamnya di luar. Pemakaian kedua jenis kapak itu dengen digenggam.

c) Pipisan (alat penggiling)

Alat lain yang ditemukan adalah pipisan yang merupakan alat penggiling. Dari bekas warna merah yang terdapat pada pipisan itu. Dapat diketahui bahwa pipisan itu selain digunakan untuk menggiling makanan juga digunakan untuk menghaluskan cat merah.

Warna merah merupakan warna darah yang merupakan warna kehidupan. Dengan mengoleskan warna merah pada tubuh diharapkan mendapat dan menambah kekuatan pada tubuhnya. Hal demikian masih dilakukan oleh beberapa suku bangsa di Indonesia.

alat penggiling pipisan batu
Gambar alat penggiling pipisan batu
d) Tembikar

Selain alat-alat batu, dari Kjokkenmoddinger juga diperoleh pecahan-pecahan tembikar dan yang merupakan hasil budaya akhir Zaman Prasejarah. Yang menarik perhatian adalah bahwa barang-barang yang berasal dari Zaman Neolitikum justru tidak ditemukan. Padahal masa itu merupakan lanjutan langsung dari Zaman Mesolitikum.

Keadaaan aneh itu terjadi karena dua kemungkinan. Pertama, bahwa penghuni pantai bukit kerang mendiami tempat itu sejak Zaman Mesolitikum sampai dengan Zaman Logam. Tanpa mendapat pengaruh baru tentang pembuatan alat-alat batu yang dihaluskan.

Kedua, penghuni daerah itu terdesak oleh kedatangan bangsa baru yang telah berkebudayaan besi. Sehingga mereka meninggalkan daerah itu lalu digantikan oleh penghuni baru.

e) Abris sous roche (gua tempat tinggal)

Penemuan di daerah pegunungan berwujud abris sous roche, yaitu gua yang digunakan sebagai tempat tinggal. Gua-gua itu merupakan ceruk-ceruk pada batu karang yang dapat dipergunakan untuk memberi perlindungan penghuninya. Seperti perlindungan dari panas, hujan, gangguan binatang maupun musuh.

tempat tinggal gua manusia purba abris sous roche
Gambar tempat tinggal gua abris sous roche

Gua-gua tersebut telah lama menjadi tempat tinggal manusia. Hal itu terbukti dari banyaknya alat yang ditemukan sejak Zaman Paleolitikum sampai Zaman Besi. Tetapi yang terbanyak berasal dari Zaman Mesolitikum.

Barang-barang peninggalannya berupa ujung panah dari batu, flakes yang telah diasah, alat-alat dari tanduk rusa, alat-alat dari perunggu dan besi. Ditemukan juga tulang-tulang dari binatang buruan dan manusia purba jenis Papua Melanesoida.

f) Kesenian

Kesenian Zaman Mesolitikum yang ditemukan di Kjokkenmoddinger hanya berupa goresan yang sejajar dan semacam gambar mata yang terdapat pada kapak. Mungkin itu hanya merupakan tanda pemiliknya, tetapi dari cara penggoresannya tampak telah adanya rasa seni.

Yang lebih nyata adalah lukisan di gua Leang-leang di Sulawesi Selatan. Berupa gambar seekor babi yang sedang berlari serta berupa gambar tangan yang berwarna merah di beberapa gua lainnya. Diperkirakan umurnya 4000 tahun. Jadi pada masa akhir Zaman Mesolitikum atau permulaan Zaman Neolitikum.

lukisan manusia purba di gua Leang-leang
Gambar lukisan di gua Leang-Leang

3.3 Neolitikum

Kebudayaan Neolitikum tersebar lebih luas daripada kebudayaan sebelumnya. Kebudayaan ini tersebar hampir di seluruh Indonesia. Sehingga dikatakan bahwa kebudayaan Neolitikum merupakan dasar kebudayaan Indonesia yang sekarang.

Kehidupan penduduk telah berubah dari food gathering menjadi food producing yang artinya menghasilkan bahan makanan. Mereka telah bercocok tanam dan beternak untuk keperluan makannya.

Dengan cara hidup demikian mereka sudah sedenter artinya bertempat tinggal tetap. Untuk keperluan hidup lainnya mereka telah membuat alat-alat kerajinan, menenun, membuat periuk, membuat rumah dan mengatur masyarakat.

Ciri alat-alat dari batu Zaman Neolitikum adalah pembuatannya halus karena telah diupam atau telah diasah seluruhnya. Dua jenis alat yang penting adalah kapak persegi dan kapak lonjong. Kapak persegi bukan hanya alat yang berfungsi sebagai kapak dalam pengertian sekarang. Tetapi semua alat-alat dari batu yang mempunyai banyak kegunaan.

a) Kapak persegi

Kapak dalam ukuran besar yang disebut beliung atau cangku berfungsi untuk mengerjakan sawah. Sedangkan kapak yang berukuran kecil berfungsi sebagai tarah atau pahat untuk mengukir rumah.

Pada umumnya alat-alat itu bentuknya persegi dan ada bagian yang sedikit melengkung. Pemakaiannya tidak lagi menggenggam, melainkan telah mempergunakan tangkai kayu sehingga dapat memberikan kekuatan yang lebih besar.

Kapak-kapak itu pada umumnya dijepit oleh kayu atau diikatkan pada kayu yang dijadikan tangkai. Pada umumnya dibuat dari batu api keras atau dari calchedon yang berwarna. Penduduk sekarang menyebutkan kapak-kapak itu sebagai gigi guntur.

kapak persegi
Gambar kapak persegi

Kapak persegi dari batu api digunakan sehari-hari sebagai alat biasa. Sedangkan kapak persegi dari batu berwarna mungkin lain kegunaannya karena rata-rata alat itu tidak rusak.

Kapak dari batu berwarna itu begitu bagus sehingga dipergunakan orang untuk azimat atau benda keramat ataupun sebagai alat penukar. Sebab waktu itu masyarakat belum mengenal uang sebagai alat tukar-menukar.

Daerah penemuan kapak persegi pada umumnya di Indonesia bagian Barat. Seperti di Lahat (Sumatra), Bogor, Sukabumi, Karawang, Tasikmalaya, Pacitan dan Lereng Selatan Gunung Ijen di Jawa. Sebab penyebaran kapak persegi dari daratan Asia ke Indonesia melalui jalan barat.

Sejenis kapak persegi di daratan Asia banyak dijumpai tetapi yang tidak ada di Indonesia adalah kapak bahu. Yaitu kapak yang memiliki semacam bahu untuk menahan agar kapak itu tidak mudah masuk dalam tangkai waktu dipergunakan.

b) Kapak lonjong

Kapak lonjong adalah kapak yang penampangnya berbetuk lonjong. Berbentuk bulat telur dengan ujungnya lancip yang ditempatkan pada tangkai dan ujung lain yang agak bulat diasah supaya tajam.

kapak lonjong
Gambar kapak lonjong

Ada dua jenis kapak lonjong yaitu yang besar banyak terdapat di daratan Irian Barat. Dan yang kecil banyak terdapat di Kepulauan Tanimbar dan Seram. Selain itu di Serawak daerah Kalimantan Utara dan Minahasa juga terdapat kapak ukuran kecil.

Di luar Indonesia juga ditemukan kapak lonjong. Sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa penyebaran kapak lonjong lewat jalan timur bagian timur terus ke kepulauan Melanesia.

c) Barang perhiasan

Barang-barang perhiasan berupa gelang dan kalung dari batu. Cara membuat gelang dapat dilakukan dengan dua cara. Pertama, batu itu dibuat bulat gepeng kemudian pada sisi-sisinya dipukul-pukul sehingga cekung. Akhirnya kedua cekungan itu bertemu dan terjadilah lubang. Kemudian sisi luar dan dalamnya dihaluskan.

Cara kedua, batu yang gepeng itu diletakkan rata pada tanah kemudian diberi air dan pasir. Sepotong bambu diputar-putar di bagian atas batu. Daya gosok pasir akibat bambu yang diputar-putar itu menyebabkan batu itu kalah sehingga akhirnya berlubang. Setelah itu dihaluskan sisi luar dan dalamnya.

Kalung dari batu umumnya dibuat dari batu berwarna. Biji-biji kalung diberi lubang kecil kemudian dirangkaikan dengan tali. Ada pula biji-biji kalung yang dicat.

perhiasan manusia purba Neolitikum
Gambar perhiasan Neolitikum
d) Baju dari kulit pohon

Di daerah Kalimantan dan Sulawesi ditemukan alat pemukul dari batu untuk memukul-mukul kulit kayu. Bagian yang dipukulkan diberi garis-garis agar kulit kayu tidak hancur. Kulit kayu yang telah direndam beberapa lama itu dipukul perlahan-lahan sehingga akhirnya menjadi lunak. Kulit kayu itu digunakan orang untuk pakaian.

baju kulit pohon manusia purba
Gambar baju kulit pohon
e) Tembikar

Tembikar telah dibuat pada masa Mesolitikum tetapi masih sangat sederhana. Pembuatannya dengan membentuk tanah liat menjadi semacam tali yang disusun kemudian dirapatkan dengan cara memukul-mukul dengan kayu.

Jadi belum mempergunakan pelarikan, yaitu alat yang dibuat
dari kayu yang diputar-putar untuk membuat tembikar. Walaupun pembuatannya masih sederhana tetapi tembikar-tembikar itu telah diberi hiasan yang bagus. Terkadang dicap dengan tenunan kain.

tembikar manusia purba
Gambar tembikar Neolitikum

Dengan memakai tembikar ini manusia mulai memasak makanannya. Kepandaian demikian menyebabkan mereka dapat menjauhkan diri dari penyakit perut sehingga kematian dapat dikurangi. Sebelum itu mereka makan makanan mentah saja. Kemudian membakar makanan setelah tahu api.

Api dapat diperoleh dengan menggosok-gosokkan dua buah kayu atau memukul batu api. Percikan api ditampung pada bahan yang mudah terbakar. Selain dipergunakan untuk memasak makanan, tembikar banyak dipergunakan untuk menyimpan tulang-tulang orang yang telah meninggal.

Hal itu terlihat dari penemuan di Melolo daerah Sumba. Setelah hubungan dagang dengan bangsa Cina dan dikenal barang-barang keramik. Suku Dayak juga banyak mempergunakan guci untuk keperluan menyimpan tulang-tulang nenek moyangnya.

3.4 Megalitikum

Sejak Zaman Neolitikum berkembang kebudayaan batu besar yang disebut Megalitikum. Megas artinya besar. Kebudayaan ini berkembang terus sampai Zaman Logam. Beberapa barang dari Zaman Megalitikum antara lain :

a) Menhir

Menhir merupakan suatu tugu atau tiang dari batu. Didirikan dan dibuat untuk tempat pemujaan roh nenek moyang atau sebagai tanda peringatan suatu peristiwa. Karena itu menhir dipuja orang.

menhir
Gambar menhir
b) Dolmen

Dolmen mempunyai fungsi sebagai kuburan dan tempat meletakkan sajian. Biasanya terdiri atas beberapa menhir yang diletakkan berdekatan kemudian di atasnya diletakkan batu yang lebar.

Selain sebagai meja sajian ada pula yang menjadikan menhir sebagai tanda adanya kuburan di bawahnya. Bangunan demikian banyak ditemukan di Sumba dan Sumatra Selatan.

dolmen manusia purba
Gambar dolmen
c) Keranda atau sarkofagus

Merupakan peti mati yang dibuat dari batu. Batu besar dibuat seperti lesung dan diberi tutup dari batu juga.

sarkofagus
Gambar sarkofagus
d) Kubur batu atau kubur peti batu

Merupakan kuburan dalam tanah yang sisi samping, alas dan tutupnya diberi semacam papan-papan dari batu.

kubur batu manusia purba
Gambar kubur batu
e) Punden berundak-undak

Merupakan bangunan dari batu yang disusun bertingkat-tingkat. Fungsinya sebagai bangunan pemujaan roh nenek moyang. Bangunan demikian kemudian merupakan prototipe artinya bentuk pendahuluan dari bangunan candi.

punden berundak
Gambar punden berundak
f) Arca

Arca merupakan bangunan dari batu yang berbentuk binatang atau manusia. Bentuk arca manusia yang banyak ditemukan di Dataran Tinggi Pasemah (Sumatra Selatan) menggambarkan sifat dinamis.

Wujudnya berupa manusia dengan gerakan yang dinamis. Yang terkenal adalah Batu Gajah yaitu sebuah patung batu besar dengan gambaran seorang yang sedang menunggang binatang yang diburu.

arca batu gajah Megalitikum
Gambar arca batu gajah Megalitikum

Sedangkan arca-arca yang banyak ditemukan di Jawa dan berasal dari Zaman Indonesia Hindu pada umumnya bersifat statis. Hal itu disebabkan karena arca-arca itu merupakan perwujudan orang yang telah meninggal. Arca itu tegak berdiri secara kaku dengan mata yang agak dipejamkan.

Di samping Megalitikum juga dikenal Mikrolitikum yang berarti kebudayaan batu kecil. Wujudnya berupa flakes dalam ukuran kecil. Banyak ditemukan di Dataran Tinggi Bandung.

Perlu juga dikenal beberapa tokoh arkeolog, artinya orang yang ahli dalam peninggalan purba yang banyak jasanya dalam arkeologi. Tokoh arkeolog dari bangsa Indonesia yang terkenal adalah Prof. Dr. R. Soekmono dan Dr. R.P. Suyono.

Sedangkan dari bangsa asing adalah Van Heekeren dan Dr. P.V. Van Stein Callenfels. Yang terakhir ini sangat banyak jasanya dalam menyusun Prasejarah Indonesia sehingga digelari Bapak Prasejarah Indonesia.

4. Zaman Logam

4.1 Zaman Perunggu

Zaman Perunggu merupakan Zaman Logam di Indonesia. Kebudayaan Perunggu di Asia Tenggara disebut juga sebagai Kebudayaan Dongson, daerah asal kebudayaan ini di Indo Cina. Menyebar ke Indonesia sekitar tahun 500 SM.

Perunggu merupakan paduan tembaga dan timah. Keduanya merupakan bahan yang tidak mudah berkarat. Untuk memperoleh bahan-bahan tersebut orang harus menambang dari dalam tanah, kemudian meleburnya dengan mempergunakan panas yang tinggi. Cara membuat patung yang umum dipergunakan adalah a cire perdue yaitu dengan membuat model lebih dahulu.

Model tersebut terbuat dari bahan yang mudah dicairkan dan dibentuk yaitu dari lilin. Kemudian patung lilin itu dibungkus dengan tanah liat dengan bagian atasnya diberi lubang. Dengan memanaskan tanah liat itu maka lilin mencair lalu dituang keluar melalui lubang atas.

Tanah liat yang kosong itu kemudian diisi dengan cairan perunggu. Setelah dingin dan kental, tanah liat pembungkus itu dihancurkan dan bisa didapat patung perunggu.

Jika diinginkan bagian dalam perunggu tersebut berlubang (tidak pejal) maka di dalamnya diberi tanah liat juga. Setelah patung perunggu selesai, tanah liat di dalam patung itu dikeluarkan. Keuntungan dari cara yang terakhir ini adalah tidak memerlukan perunggu yang banyak dan barangnya ringan.

4.2 Alat-alat Perunggu

a) Kapak corong

Merupakan kapak yang bentuknya menyerupai corong. Lubang di bagian atas dan di dalam dipergunakan untuk memasukkan tangkai kapak. Karena itu disebut juga sebagai kapak sepatu. Fungsinya sebagai kapak biasa.

Tetapi banyak penemuan yang menunjukkan bahwa kapak itu merupakan alat kebesaran saja. Sebab bentuknya panjang melengkung sehingga sulit bila dipergunakan. Sementara itu hiasannya begitu indah sehingga tentulah sayang untuk dipergunakan. Kapak corong yang panjang disebut candrasa.

kapak corong manusia purba
Gambar kapak corong

Kapak corong banyak ditemukan di daerah Jawa, Bali, Sumatra Selatan, ulawesi Tengah dan Selatan, Irian dan Pulau Selayar. Dari penemuan alat cetaknya serta barang yang belum selesai dicetak menunjukkan bahwa kapak corong telah dihasilkan di Indonesia.

b) Nekara

Merupakan alat yang digantungkan mendatar dan menghasilkan bunyi-bunyian dengan dipukul dari atasnya. Beberapa nekara ukurannya besar, diantaranya ditemukan di Bali dengan tinggi 186 cm dan lebar 160 cm. Batu pencetaknya ditemukan juga di daerah Bali.

Teknik membuatnya dengan a cire perdue, tetapi untuk tempat gantungannya mungkin sudah dipergunakan cara las. Yang menarik perhatian adalah hiasan yang beraneka ragam. Ada yang bergambar binatang dan ada yang bergambar lencana.

Pada beberapa nekara di bagian atasnya diberi semacam katak. Bagian tempat memukul diberi hiasan semacam bintang. Fungsi utamanya adalah sebagai alat bunyi-bunyian. Dipergunakan untuk mengarak pengantin atau jenazah, dibunyikan untuk memanggil hujan, dan juga untuk maskawin.

nekara
Gambar nekara

Nekara banyak ditemukan di daerah Sumatra, Jawa, Bali, Sumbawa, Selayar dan Kepulauan Kei. Suatu nekara yang ukurannya lebih kecil dan bentuknya lebih memanjang disebut moko. Banyak ditemukan di Kepulauan Alor daerah Nusa Tenggara Timur.

c) Perhiasan

Berupa gelang tangan, gelang kaki atau binggel, anting-anting, kalung dan cincin. Barang-barang itu umumnya ukurannya kecil dan tidak diberi hiasan atau ukiran.

perhiasan perunggu manusia purba
Gambar perhiasan zaman perunggu
d) Bejana

Merupakan semacam periuk ditemukan di Kerinci daerah Sumatra Tengah dan Madura. Bentuknya seperti periuk tetapi gepeng. Kegunaannya sebagai tempat air, tentunya bukan sembarang air.

bejana zaman perunggu
Gambar bejana zaman perunggu

Satu bahan lainnya yang juga telah dihasilkan adalah kaca. Hal itu diketahui dari adanya manik-manik yang banyak ditemukan dalam kuburan. Ada yang ukurannya besar dan ada yang kecil.

Warna yang dipakai bermacam-macam, ada yang kuning, merah, biru, hijau dan putih. Manik-manik demikian dipergunakan sebagai barang dagangan dan disertakan pada orang yang meninggal.

Related Post :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *