Penjajahan Belanda di Negara Indonesia

  • 5 min read
  • Apr 25, 2020
penjajahan belanda di indonesia

1. Awal Mula Penjajahan Belanda

Penguasaan atas Ambon (1605) kemudian Batavia (1619) dan sebagainya dapat diartikan sebagai penguasaan VOC. Sehingga daerah-daerah tersebut memang mengalami penjajahan Belanda selama tiga setengah abad.

Penguasaan yang dilakukan oleh Pemerintah Republik ataupun Kerajaan Belanda resminya baru mulai tahun 1800 yaitu setelah VOC dibubarkan. Sebaliknya ada daerah Indonesia seperti Aceh yang hanya mengalami penjajahan Belanda kurang dari setengah abad.

Negeri Belanda yang letaknya dekat Perancis mendapat pengaruh Revolusi Perancis. Tahun 1795 Kerajaan Belanda di bawah Willem V ditumbangkan dan diganti dengan Republik Bataaf. Republik tersebut diubah menjadi kerajaan lagi dengan Louis Napoleon adik Napoleon Bonaparte
sebagai rajanya (1806).

Tahun 1810 kerajaan itu menjadi bagian Perancis. Dan setelah Napoleon Bonaparte jatuh, Belanda sebagai kerajaan dengan Willem V kembali sebagai rajanya (1814). Karena itu antara tahun 1795-1814 Belanda di pihak Perancis dan bermusuhan dengan Inggris.

Atas kehendak Napoleon Bonaparte, diangkat Jenderal Herman Willem Daendels menjadi gubernur jenderal Indonesia (1808-1811). Ada dua tugas yang diberikan kepadanya. Pertama mempertahankan Pulau Jawa terhadap serangan dari Inggris. Dan kedua mengatur pemerintahan di Indonesia termasuk membereskan keuangan.

Herman Willem Daendels penjajahan belanda
Gambar Herman Willem Daendels

2. Langkah Daendels Dalam Penjajahan Belanda

Daendels adalah anggota Patriot dan termasuk orde baru di negerinya. Tetapi setelah berkuasa di Indonesia ia bersikap sebagai diktator. Sehingga ia mendapat sebutan Jenderal Mas Galak. Dewan India diabaikan olehnya serta ia mau memerintah seperti Napoleon Bonaparte yang diktator.

Langkah pertama yang diambil Daendels dalam penjajahan Belanda adalah bidang pertahanan. Karena Inggris berkedudukan di India dan telah berkuasa di Maluku semakin mengincar Pulau Jawa. Tindakan-tindakan Daendels yang diambil untuk pertahanan antara lain :

a) Meningkatkan jumlah prajurit

Meningkatkan jumlah prajurit dari 4000 orang menjadi 18000 orang. Jumlah prajurit sebanyak itu diperoleh dari macam-macam suku bangsa Indonesia. Sedangkan untuk bintara dipergunakan Indo-Belanda dan untuk perwiranya dari bangsa Belanda.

b) Meningkatkan kesejahteraan prajurit

Untuk menimbulkan disiplin, prajurit ditingkatkan kesejahteraannya. Dengan mengadakan tangsi-tangsi militer yang baik, memberikan pakaian seragam, menaikkan gaji dan mengadakan rumah sakit militer.

c) Membangun benteng-benteng baru

Benteng-benteng lama seperti di Sunda Kelapa sudah tidak kuat dan tidak sesuai lagi. Karena itu benteng beserta tangsi-tangsi militer baru dibangun lebih ke pedalaman.

Seperti di Jatinegara untuk Jakarta dan Candi Lama di Semarang. Pusat pertahanan daratnya ditempatkan di Dataran Tinggi Bandung. Pola pertahanan darat itu diteruskan sampai tahun 1942.

d) Membangun jalan Anyer – Panarukan

Membangun jalan raya untuk memperlancar gerakan tentara. Jalan raya yang terbentang antara Anyer sebagai pelabuhan di ujung barat sampai Panarukan sebagai pelabuhan di ujung timur Jawa. Jalan sepanjang 1000 kilometer itu terkenal sebagai Jalan Raya Daendels dan diselesaikan dalam waktu satu tahun.

Pembangunannya dijalankan dengan sistem rodi atau kerja paksa. Antara lain para bupati diwajibkan mengerahkan rakyatnya. Banyak rakyat menjadi korban karena beratnya pekerjaan dan penyakit. Selain itu mata pencariannya terganggu.

Dengan jalan raya itu hubungan Jakarta-Surabaya yang semula ditempuh dalam waktu 40 hari menjadi 6 atau 7 hari. Pada setiap jarak 7 km ditempatkan pos penjagaan. Pos tersebut juga melayani penginapan, perbaikan kendaraan (kereta kuda), makanan kuda dan kuda-kuda baru.

Dari Anyer jalan raya itu melalui Batavia Bogor, Puncak, Cimahi, Bandung, Cirebon, Semarang, Surabaya, sampai Panarukan. Jalan itu kemudian bermanfaat sekali untuk perekonomian.

jalur jalan raya anyer panarukan
Gambar jalur jalan raya Anyer – Panarukan
e) Membangun armada laut

Membangun kembali armada pertahanan laut. Armada Belanda dapat dikatakan hancur oleh serangan-serangan Inggris di Teluk Jakarta maupun di Surabaya. Sehingga Daendels menganggap perlu membangunnya kembali.

Di galangan perahu Indonesia dapat dibuat 13 kapal meriam dan 40 kora-kora. Sedangkan untuk kapal perang dengan ukuran yang lebih besar dipesan dari Eropa.

Tetapi sampai Daendels ditarik kembali sehingga kapal-kapal itu belum datang. Inggris sebagai penguasa lautan tidak membiarkan kapal-kapal dari Belanda memperkuat pertahanan laut di Indonesia.

f) Membangun pangkalan armada

Dibangun pelabuhan armada yang semula di Ujung Kulon (Banten Selatan). Dengan perhitungan bahwa kapal-kapal dari Tanjung Harapan dapat lebih cepat berlabuh dan melalui jalan darat sampai di Cimahi. Usaha tersebut gagal walaupun Sultan Banten telah mengerahkan rakyatnya sebanyak seratus orang setiap hari.

Daerahnya tidak sehat karena berawa-rawa dan banyak memakan korban. Perhatian dialihkan ke Merak (Banten Utara) dan direncanakan membuat tembok-tembok laut yang menghubungkan daratan dengan Pulau Merak Besar dan Kecil. Tetapi gagal juga karena biayanya terlalu besar.

Karena itu dipilihlah Surabaya yang berhasil dibangun menjadi pangkalan armada. Untuk mempertahankan pelabuhan dari kemungkinan serangan dari arah Laut Jawa.

Pulau Menari diperlengkapi dengan benteng yang diberi nama Lodewijk. Sampai tahun 1942 Surabaya tetap merupakan pangkalan armada Belanda.

armada penjajahan belanda
Gambar armada penjajahan Belanda

3. Langkah-Langkah Pembiayaan Belanda

Dalam penjajahan Belanda, untuk membiayai pertahanan maupun pemerintahan Daendels berusaha keras dalam keuangan dengan beberapa tindakan. Tindakan tersebut antara lain :

  • Mengeluarkan uang kertas dalam jumlah besar namun tanpa jaminan sehingga timbul inflansi.
  • Meningkatkan usaha pemasukan uang dengan cara-cara lama. Seperti memborongkan pemungutan pajak kepada swasta, mengusahakan tanaman kopi di Priangan, penyerahan wajib dan contingenten.
  • Menempuh cara-cara paksa seperti meminjam uang kepada orang kaya, mengambil harta dari rumah gadai, kantor lelang, balai peninggalan. Sehingga dapat diperoleh dana secara cepat. Perang merupakan keadaan darurat yang memerlukan langkah-langkah segera walaupun bertentangan dengan ketentuan yang ada.
  • Menjual tanah kepada orang-orang swasta. Sehingga lahirlah tanah-tanah milik swasta (particuliere landerijen) yang banyak terdapat di pinggiran-pinggiran kota. Daerah Probolinggo (Jawa Timur) dibeli oleh Han Tie Koo sehingga ia digelari Tumenggung Cina. Dari penjualan tanah diperoleh uang sebanyak tiga setengah juta ringgit.
  • Dibentuk Dewan Pengawas Keuangan Negara (Algemeene Rekenkamer) untuk membereskan administrasi keuangan. Bertugas mengawasi keluar masuknya uang negara agar dapat dihindarkan penyelewengan.

4. Tindakan Penjajahan Belanda

Dalam penjajahan Belanda bidang pemerintahan, Daendels banyak melakukan tindakan-tindakan. Tindakan tersebut justru bertentangan dengan asas-asas Revolusi Perancis yang sifatnya liberal. Mungkin karena suasana perang, tetapi yang pasti karena ia seorang penguasa di Indonesia. Beberapa tindakannya adalah :

a) Membiarkan perbudakan

Membiarkan adanya perbudakan terus-menerus. Salah satu pasar budak terdapat di daerah Pecenongan Jakarta. Mengadakan rodi untuk proyek-proyek jalan raya dan pelabuhan.

b) Membentuk sekretariat negara

Membentuk Sekretariat Negara (Algemeene Secretarie) untuk membereskan administrasi negara.

c) Pemindahan pusat pemerintahan

Pusat pemerintahan Belanda dipindahkan dari Sunda Kelapa ke Jakarta Pusat (Weltevreden). Dengan pertimbangan bahwa tempat lama sudah tidak sehat akibat pengendapan yang terjadi di Sungai Ciliwung.

Dibangunnya istana dan kantor di Jalan Lapangan Banteng Timur yang sekarang dipergunakan untuk Departemen Keuangan. Rumah-rumah perwira dibangun sekitar lapangan tersebut. Sedangkan di Bogor juga dibangun istana sebagai kediaman resmi gubernur jenderal.

d) Pembagian daerah

Seluruh Pulau Jawa dibagi atas sembilan perfec atau daerah yang dikepalai oleh seorang kepala daerah. Sistem pemerintahannya sentralisasi seperti yang dilakukan oleh Napoleon di Eropa.

e) Pembentukan kantor pengadilan

Dibentuk kantor-kantor pengadilan untuk rakyat di Surabaya dan Batavia. Pengadilan Tinggi di Batavia dan Pengadilan Militer di Batavia. Terhadap pegawai-pegawai yang korup dan curang ditindak tegas serta diancam dengan hukum mati.

f) Menjalin hubungan buruk dengan raja-raja

Hubungan Daendels dengan raja-raja di Jawa sangat buruk. Sebagai contoh Sultan Banten dianggap tidak sanggup menyediakan tenaga rodi untuk pembangunan pelabuhan di Ujung Kulon. Waktu terjadi pembunuhan atas seorang Belanda, kerajaan itu diserbu.

Sultan Banten diasingkan ke Ambon, dan Mangkubumi Wargadireja yang dianggap sebagai dalangnya dibunuh. Sultan baru diangkat dengan kekuasaan dan wilayah yang dipersempit.

Daendels juga menghapuskan upacara penghormatan yang harus dijalankan oleh residen kepada sunan maupun sultan. Sebab dianggapnya sebagai suatu upacara feodal dan merendahkan derajat Belanda. Tentu saja tindakannya ini membuat Sultan Hamengku Buwono II marah dan menyiapkan pemberontakkan.

Namun ternyata Daendels mencium gejala tersebut sehingga melakukan penyerbuan lebih dulu ke kraton Yogyakarta (1810). Hamengku Buwono II akhirnya diturunkan dari tahta tetapi dibiarkan tetap tinggal di istana dan mempunyai gelar Sultan Sepuh.

Sebagai tindak lanjut diangkatlah Sultan Hamengku Buwono III dengan kekuasaan dan wilayah yang dipersempit. Selain itu harta istana termasuk benda pusaka dirampas.

5. Berakhirnya Penjajahan Belanda

Langkah-langkah yang diambil Daendels sebetulnya tidak semua merupakan langkah yang salah, terutama dalam bidang pertahanan dan pemerintahan. Hanya sayangnya pelaksanaannya sangat diktatorial.

Sehingga selain banyak raja-raja Indonesia yang menentangnya, juga
banyak pejabat Belanda sendiri yang melancarkan kritik pedas. Tiga tahun kemudian atau tepatnya tahun 1811 Daendels dipanggil dan disertakan dalam penyerbuan ke Rusia (1812) atas perintah Napoleon Bonaparte.

Jansens yang semula jadi gubernur Tanjung Harapan menggantikan Daendels sebagai gubernur jenderal (1811). Ia mewarisi keadaan buruk karena segala sesuatunya disiapkan serba darurat. Raja-raja memusuhinya karena tindakan tidak bersahabat dari Daendels.

Pulau Jawa tinggal satu-satunya daerah di bawah Perancis-Belanda, setelah Maluku, Reunion dan Mauritius (dekat Madagaskar) jatuh ke tangan Inggris. Ancaman musuh makin terasa dan pimpinan pertahanan diserahkan kepada Brigadir Jenderal Jumel yang berkebangsaan Perancis.

Di bawah Jenderal Auchmuty armada Inggris dengan kekuatan 100 kapal dan 12000 tentara mendarat di Pantai Cilincing. Kemudian menuju ke Senen (Jakarta) pada pertengahan tahun 1811. Tentara Perancis-Belanda yang berkekuatan lebih besar tetapi belum biasa perang bertahan di Matraman.

Jenderal Samuel Auchmuty
Gambar Jenderal Samuel Auchmuty

Jumel memerintahkan maju yang diucapkan dalam bahasa Perancis “lare”, tetapi didengar dan diartikan oleh prajuritnya sebagai lari. Sehingga bubarlah pertahanan yang telah disiapkan sebelumnya.

Setelah Jatinegara direbut Inggris, pertahanan mundur ke Bogor kemudian ke Semarang. Tentara yang telah merosot morilnya itupun mengundurkan pertahanannya ke arah selatan setelah mendengar tembakan gencar Inggris terhadap Semarang.

6. Kapitulasi Tuntang

Di desa Tuntang (dekat Salatiga) Belanda menyerah dan ditandatanganilah Kapitulasi Tuntang. Artinya penyerahan Tuntang (1811) yang berisi hal-hal berikut ini :

  • Pulau Jawa dan daerah sekitarnya yang dikuasai Belanda jatuh ke tangan Inggris.
  • Semua tentara Belanda menjadi tawanan perang Inggris.
  • Orang-orang Belanda dapat dipekerjakan dalam pemerintahan Inggris.

Sejak Kapitulasi Tuntang Indonesia diperintah oleh Inggris. Pertahanan yang disiapkan Daendels selama tiga tahun hanya mampu mempertahankan Pulau Jawa dalam waktu tiga minggu saja.

Related Post :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *