Perlindungan Alam dan Pengawetan Alam

  • 11 min read
  • Apr 24, 2020
perlindungan dan pengawetan alam

Pada dasarnya alam mempunyai sifat yang beraneka ragam, namun secara alamiah tetap tampak serasi dan seimbang. Perlindungan dan pengawetan alam berusaha mempertahankan adanya keserasian dan keseimbangan tersebut.

Pengertian perlindungan dan pengawetan alam adalah upaya-upaya untuk menjaga kelestarian dan keseimbangan flora, fauna, tanah, air serta komponen-komponen ekosistem lainnya.

1. Perlindungan Alam

Alam lingkungan merupakan tempat manusia hidup sekaligus tempat untuk memperoleh bahan kebutuhannya. Dari alamlah manusia mendapatkan makanan dan energi, baik yang berasal dari makhluk hidup maupun dari benda mati.

Kebutuhan manusia yang diperoleh dari lingkungannya tidak hanya sesaat, melainkan selama spesies itu ada. Maka kebutuhan itu tetap ada bahkan makin meningkat. Untuk dapat menyediakan kebutuhan hidup secara berkesinambungan itulah, maka manusia harus selalu berusaha menjaga kelestarian dan keserasian alam sekitarnya.

Alam yang terdiri dari berbagai komponen ekosistem secara seimbang merupakan alam yang serasi. Keseimbangan inilah yang harus tetap dijaga dan prioritas pelestarian itu di tekankan pada pelestarian keanekaragaman.

1.1 Nilai-Nilai Dalam Perlindungan Alam

Keanekaragaman sifat dalam lingkungan perlu dilestarikan untuk mempertahankan beberapa nilai yang terkandung di dalamnya. Dengan kata lain perlindungan dan pelestarian alam mempunyai nilai-nilai tertentu, antara lain :

  • Nilai Ilmiah. Artinya perlindungan alam sekitar kita dapat digunakan untuk kepentingan ilmu pengetahuan. Di sini dapat dilaksanakan penelitian, dan tersedia sarana dan prasarana penelitian yang memungkinkan ditemukannya sesuatu yang sangat berguna bagi manusia.
penelitian alam dalam perlindungan alam
Gambar penelitian pada alam secara langsung
  • Nilai Ekonomi. Seperti dijelaskan di depan bahwa semua kebutuhan manusia diperoleh dari lingkungannya, termasuk di sini adalah kebutuhan akan materi. Oleh karena itu menjaga kelestarian berarti menjamin ketersediaan materi dan kebutuhan lain bagi manusia secara berkesinambungan. Misalnya hutan merupakan sumber penghasil kayu, terpentin, anggrek dan lain sebagainya. Laut merupakan sumber ikan, mutiara, udang dan bahan mineral lainnya.
  • Nilai Mental Spiritual. Alam yang serasi dan seimbang adalah alam yang indah dan dambaan setiap orang. Kekaguman terhadap keindahan alam akan dapat meningkatkan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa serta akan mengagungkan sang Pencipta.
  • Nilai Keindahan (estetis) dan Keselarasan. Keselarasan proses akan terjadi pada alam yang mengandung komponen-komponen ekosistem yang seimbang.

Perlindungan alam tidak berarti membuat lingkungan stabil atau statis. Sebab secara alamiah alam pasti akan mengalami perubahan. Berbagai kekuatan yang menyebabkan terjadinya perubahan. Antara lain bencana banjir, kemarau panjang, angin ribut, pertambahan penduduk, letusan gunung dan lain sebagainya.

1.2 Sejarah Perlindungan Alam

Gerakan perlindungan dan pengawetan alam dimulai di Prancis tahun 1953 atas usul para pelukis Prancis. Agar pemandangan alam di Fountain Blue tetap terpelihara dengan baik. Sebagai promotor dan peletak dasarnya adalah F.W.H. Alexander von Humboldt (1769-1859).

Sedangkan Paul Sarazin (Swiss) adalah tokoh yang mempelopori terbentulmya organisasi pengawetan alam tingkat internasional. Karena terbentur perang, maka dasar-dasar organisasi ini baru terbentuk pada konferensi di Basel (1946) dan di Brunnen (1947).

Perlindungan dan pengawetan alam di Indonesia telah dilaksanakan semenjak pemerintah Hindia Belanda yaitu tahun 1912 yang berpusat di Bogor. Setelah merdeka perlindungan alam dilaksanakan oleh Departemen Kehutanan dan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I.

Perlindungan alam dikenal juga sebagai pencagaralaman. Cagar alam artinya sebidang lahan yang dijaga untuk melindungi flora dan fauna yang ada di dalamnya.

Pencagaralaman mempunyai tiga tujuan yang saling berkaitan, yaitu :

  1. Memelihara proses ekologi yang esensial dalam mendukung kehidupan.
  2. Mempertahankan keanekaragaman gen.
  3. Menjamin pemanfaatan jenis dan ekosistem secara berkelanjutan.

Menurut U.U. Perlindungan Alam, pencagaran di Indonesia dibedakan menjadi dua, yakni :

  • Cagar alam. Perlindungan yang berlaku terhadap daerah-daerah di mana keadaan alam (tanah, flora dan keindahan). Yang mempunyai nilai khas bagi ilmu pengetahuan dan kebudayaan serta bagi kepentingan umum dirasa perlu dipertahankan dan tidak terjamah keadaannya.
  • Suaka margasatwa. Perlindungan yang berlaku bagi daerah-daerah di mana alam fauna dan keindahan mempunyai nilai khas bagi ilmu pengetahuan dan kebudayaan.

Kedua istilah tersebut sekarang dipadukan menjadi Perlindungan dan Pengawetan Alam (PPA). Lingkungan alam baru menjadi mantap apabila komponen-komponen penyusunannya berada dalam keadaan seimbang. Komponen-komponen itu senantiasa saling tergantung.

Dengan keadaan ini seluruh proses alam akan berlangsung dengan baik dan seimbang. Bila terjadi perubahan pada salah satu komponen lingkungan maka keseimbangan itu akan terganggu atau rusak. Bila peristiwa ini terus berlangsung, akan terjadi kerusakan lingkungan yang berarti pula kerusakan sumber daya alam.

1.3 Macam-Macam Perlindungan Alam

Perlindungan alam berarti melindungi pula sumber daya alam. Dan perlindungan alam tidak hanya ditujukan kepada salah satu komponen alam tertentu saja seperti hewan atau tumbuhan tertentu saja. Tetapi ditujukan pula kepada komponen alam secara keseluruhan pada suatu daerah tertentu.

Perlindungan alam dapat dibedakan menjadi dua kategori yaitu perlindungan alam umum dan perlindungan alam dengan tujuan tertentu.

a) Perlindungan alam umum

Merupakan perlindungan alam sebagai suatu kesatuan flora, fauna dan tanahnya. Perlindungan alam umum dapat dibedakan atas tiga macam, yaitu :

  • Perlindungan alam ketat. Keadaan alam dibiarkan menurut kehendak alam tanpa campur tangan manusia, kecuali bila diperlukan. Biasanya daerah ini diperuntukkan bagi kepentingan ilmiah atau penelitian. Misalnya Ujung Kulon dan Pulau Panaitan.
  • Perlindungan alam terbimbing. Keadaan alam di suatu daerah tidak dilepaskan begitu saja, tetapi dibina oleh para ahli. Misalnya Kebun Raya Bogor yang terdapat lebih dari 15.000 spesies tanaman yang sangat penting sebagai objek penelitian para ahli biologi.
  • Taman nasional (national park). Biasanya meliputi daerah yang luas, tidak boleh ada bangunan tempat tinggal dan biasanya berfungsi sebagai tempat rekreasi.
perlindungan alam kebun raya bogor
Gambar kebun raya Bogor
Taman nasional

Ciri-ciri pokok dari pengertian taman nasional adalah :

  • Tersedianya kawasan yang cukup luas bagi pengembangan satu atau lebih ekosistem dan yang praktis tidak banyak dijamah manusia. Dalam kawasan ini berkembang jenis tanaman, binatang dan lain-lain habitat yang memiliki nilai ilmiah dan pendidikan yang besar.
  • Karena kepentingannya yang begitu khas bagi ilmu dan pendidikan. Maka pengelolaannya berada di tangan pemerintah yang bertugas melestarikan ekosistem yang tersedia.
  • Karena memiliki unsur pendidikan, ilmiah dan daya tarik alamiah. Maka kawasan ini dapat dikunjungi dan dikelola bagi manfaat manusia tanpa mengubah ciri-ciri ekosistem.

Saat ini pemerintah Indonesia telah merencanakan untuk mengembangkan 14 taman Nasional di kawasan hutan PPA, yaitu Taman Nasional :

  1. Gunung Leuser, terdiri dari : (a) suaka margasatwa Leuser (416.500 hektare). (b) suaka margasatwa Sekundur (79.000 hektare). (c) suaka margasatwa Langkat Selatan (75.900 hektare). (d) suaka margasatwa Langkat Barat (52.900 hektare). (e) suaka margasatwa Kluet (20.000 hektare). (f) suaka margasatwa Kappi (150.000 hektare).
  2. Sumatera Selatan seluas 156.800 hektare di propinsi Bengkulu dan Lampung.
  3. Way Kambas seluas 130.000 hektare di propinsi Lampung.
  4. Ujung Kulon seluas 52.475 hektare.
  5. Gunung Gede-Pangrango seluas 17.000 hektare di Jawa Barat.
  6. Baluran seluas 25.000 hektare di Jawa Timur.
  7. Meru Betiri seluas 50.000 hektare di Jawa Timur.
  8. Komodo seluas 59.000 hektare di propinsi Nusa Tenggara Barat.
  9. Tanjung Puting seluas 305.000 hektare di Kalimantan Tengah.
  10. Kutai seluas 200.000 hektare di propinsi Kalimantan Timur.
  11. Lore Kalamanta seluas 250.000 hektare di Sulawesi Tengah.
  12. Pengandaran seluas 530 hektare di Jawa Barat.
  13. Dumoga di Sulawesi Utara.
  14. Bromo-Tengger seluas 60.000 hektare di Jawa Timur.
b) Perlindungan alam dengan tujuan tertentu

Perlindungan alam dengan tujuan tertentu terdiri atas perlindungan pada :

  • Geologi, bertujuan melindungi formasi geologi pada daerah tertentu agar tidak rusak.
  • Alam botani, bertujan untuk melindungi komunitas tumbuhan tertentu agar tidak musnah.
  • Alam zoologi, yaitu melindungi hewan tertentu yang langka dan hampir punah, serta mengembangkannya kembali. Dapat juga dengan mendatangkannya dari luar. Misalnya Sukamade untuk Penyu, Ujung Kulon untuk Badak, Irian Jaya untuk Cenderawasih dan lain-lain.
  • Alam antropologi, yaitu melindungi suku bangsa tertentu yang terisolasi dan sulit untuk berbaur dengan bangsa lain.
  • Monumen alam, bertujuan melindungi benda-benda alam yang terpencil, seperti air terjun, gua-gua, stalagtit dan stalagmite.
  • Hutan, bertujuan untuk melindungi tanah, air dan iklim.
  • Suaka margasatwa, yaitu melindungi hewan-hewan buruan yang terancam punah. Misalnya harimau, badak, gajah dan lain-lain.
  • Perlindungan ikan, bertujuan melindungi ikan yang terancam punah.

2. Pengawetan Tanah

Langsung atau tidak langsung manusia dan organisme lain memperoleh kehidupan dari tanah. Tanah merupakan pensuplai (pemasok) air dan mineral bagi tumbuhan dan organisme lain.

Oleh karena itu segala sesuatu yang dapat mengurangi kemampuan tanah untuk menyediakan mineral dan air tanah. Akan mengancam semua kehidupan di atasnya termasuk mengancam manusia.

Agar manusia dapat hidup dengan baik dan cukup makan, maka manusia harus berpartisipasi dalam usaha pengawetan tanah agar tetap subur. Tanah yang subur adalah tanah yang kaya akan mineral dan cukup mengandung air.

Langkah yang penting dalam pengawetan tanah adalah mengusahakan agar tanah tetap ditempatnya, sehingga barulah perbaikan kualitas tanah dapat dilakukan. Sebab perbaikan kualitas tanah tidak dapat dikerjakan bila tanah berpindah, misalnya karena hanyut, longsor atau terbang terbawa angin.

Pada prinsipnya pengawetan tanah mempunyai dua tujuan, yaitu untuk mempertahankan bahan-bahan organik dan mineral dalam tanah. Serta untuk menghindari erosi.

2.1 Mempertahankan Bahan-Bahan Organik Dari Mineral Dalam Tanah

Suatu tumbuhan dapat tumbuh subur dan menghasilkan panen dengan baik. Apabila tanah tempat hidupnya cukup mengandung air, cukup mengandung mineral dan bahan organik tanah. Tanah demikianlah yang disebut dengan tanah subur.

Bagian tanah yang mampu menyediakan air dan mineral bagi tumbuhan hanya lapisan tanah atas yang berhumus. Untuk mempertahankan bahan-bahan organik dan mineral dalam tanah dapat ditempuh bermacam-macam cara, antara lain :

  • Penghijauan. Maksud penghijauan adalah untuk memberikan humus pada tanah. Sebab dengan humus tanah akan mampu menahan air dan akan tetap menjadi tempat berlangsungnya proses mineralisasi.
  • Rotasi tanaman. Yaitu menanami tanah dengan urutan tanaman yang berlainan. Misalnya habis ditanami padi, lalu diganti kacang, kemudian jagung dan seterusnya. Hal ini dilakukan karena setiap jenis tumbuhan yang berbeda memerlukan mineral yang berbeda pula. Rotasi tanaman merupakan salah satu cara untuk pengawetan tanah.
perlindungan alam dengan rotasi tanaman
Gambar rotasi tanaman
  • Pemupukan. Tujuannya adalah untuk menambah mineral tertentu di dalam tanah. Pupuk yang diberikan harus sesuai dengan jenis tanah maupun jenis tanamannya.
  • Irigasi (pengairan). Air merupakan kebutuhan vital bagi tumbuhan. Di samping itu bersama air akan terbawa pula unsur-unsur hara. Unsur-unsur hara dalam tanah dapat diserap oleh tumbuhan karena air.

2.2 Menghindari Erosi

Erosi adalah pengikisan tanah oleh air dan angin. Umumnya tanah yang terkikis adalah tanah permukaan yang subur dan mengandung humus serta kaya akan mineral. Erosi biasanya terjadi pada tanah-tanah miring di lereng-lereng gunung atau pegunungan.

Bila erosi terjadi secara terus-menerus dan dalam skala luas maka akan menimbulkan berbagai dampak negatif terhadap lingkungan, antara lain :

  • Terkikisnya humus tanah. Tanah yang berhumus adalah tanah yang kaya akan unsur hara dan mampu menahan air. Bila bagian ini terkikis maka tanah yang ditinggalkan akan menjadi tandus.
  • Rendahnya kemampuan tanah yang tandus ini untuk menahan air. Pada saat musim penghujan, air yang jatuh pada permukaannya akan mengalir. Sehingga meningkatkan air permukaan yang selanjutnya dapat menimbulkan banjir. Sebaliknya pada musim kemarau air tanah akan menjadi sangat dalam sehingga sumur-sumur dan sumber mata air lainnya menjadi kering.
lahan tandus karena erosi tanah
Gambar lahan tandus karena erosi tanah
  • Terjadinya pengendapan butiran tanah yang terbawa oleh air pada dataran rendah atau dasar sungai. Hal ini akan menurunkan daya tampung sungai atau dataran rendah lainnya. Bila terjadi hujan yang lebat maka air sungai atau waduk akan meluap sehingga terjadilah banjir.

Untuk menghindari dampak negatif seperti tersebut di atas, maka pencegahan terhadap erosi harus terus digalakkan. Pencegahan erosi dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu secara mekanis dan secara biologis.

a) Pencegahan erosi secara mekanis

Pengaturan aliran air sedemikian rupa sehingga air dari daerah yang tinggi dapat mengalir secara bertahap ke daerah yang lebih rendah. Dengan demikian kemampuan pengikisannya menjadi berkurang. Yang termasuk pencegahan erosi secara mekanis antara lain :

  • Pembuatan sengkedan atau terasering. Sengkedan adalah salah satu cara untuk mencegah erosi pada lahan miring.
  • Pembajakan tanah yang disesuaikan dengan bentuk permukaan bidang-bidang tanah atau dengan arah melintang terhadap kemiringan.
  • Perbaikan sistem saluran air.
perlindungan alam sengkedan atau terasering
Gambar sengkedan atau terasering
b) Secara biologis

Yaitu pencegahan erosi dengan menggunakan makhluk hidup. Yang termasuk cara ini antara lain :

  • Reboisasi terhadap tanah-tanah yang gundul. Dengan reboisasi aliran air akan tertahan oleh akar-akar pohon, dan humus dapat menyimpan air.
  • Pengaturan tanaman secara selang-seling antara tanaman berakar banyak dengan tanaman berakar sedikit.

3. Pengawetan Hutan

Kita semua sudah tahu bahwa hutan merupakan sumber daya alam yang dapat diperbaharui. Dan manfaatnya bagi kehidupan manusia dan makhluk lainnya sangat besar. Manusia cenderung untuk mengulangi berbuat salah. Hal tersebut terutama sehubungan dengan perlakuan manusia terhadap hutan.

3.1 Tujuan Pengawetan Hutan

Hutan yang tetap terpelihara dengan baik dapat memperkaya hidup manusia baik kaya material maupun spritual. Di samping itu pengawetan hutan berfungsi untuk :

a) Mencegah erosi

Permukaan tanah yang mudah tererosi adalah tanah permukaan. Tanah di hutan terlindung oleh dedaunan dan tertutup oleh humus serta terikat akar. Di samping itu air hujan tidak langsung jatuh ke permukaan tanah. Keadaan ini menghambat terlemparnya butiran-butiran tanah permukaan dari tempatnya sehingga terhindarlah dari erosi.

b) Menjaga keseimbangan air

Akibat terbentuknya humus di hutan maka tanah menjadi gembur. Tanah yang gembur tersebut mampu menahan air hujan. Air itu akan terus meresap ke dalam tanah sebagai air gravitasi dan air permukaan, tidak berlebihan dan tidak terjadi banjir. Sebaliknya pada musim kemarau, sungai dan sumur tetap berair sebab air-air tanah itu keluar sebagai mata air.

c) Mencegah banjir

Terjadinya erosi akibat hutan gundul menyebabkan pendangkalan sungai dan danau. Di sisi lain hutan yang gundul mengurangi humus berarti mengurangi kemampuan tanah untuk menahan air. Sehingga pada musim penghujan akan terjadi banjir.

Tetapi berkat terlindungi hutan maka erosi dapat terhindar. Kemampuan tanah menahan air tinggi sehingga terhindarlah banjir.

d) Menjaga kelestarian hewan dan tumbuhan

Di hutan hidup bermacam-macam tumbuhan dan hewan yang masih asli atau belum terkena pengaruh budaya manusia. Menjaga kelestarian hutan berarti menjaga kelangsungan hidup hewan dan tumbuhan yang ada di dalamnya dari generasi ke generasi.

e) Sumber perekonomian

Kita masih ingat bahwa penyediaan kayu untuk berbagai proyek terpenting. Dan rotan merupakan hasil hutan yang sangat besar pengaruhnya terhadapan perekonomian berbagai negara.

Walaupun hutan mempunyai manfaat yang sangat besar, namun anehnya pengrusakan hutan di berbagai negara termasuk Indonesia masih terus berlangsung. Bertitik tolak pada hal tersebut maka usaha untuk menjaga kelestarian hutan adalah tindakan yang sangat mulia.

3.2 Cara-Cara Pengawetan Hutan

Berbagai tindakan dapat dilakukan untuk pengawetan hutan. Di antara tindakan-tindakan tersebut, yang paling mungkin dilakukan adalah :

  • Tidak melakukan penebangan pohon di hutan secara semena-mena. Pemotongan kayu di hutan dilakukan dengan sistem tebang pilih. Artinya hanya pohon dengan umur dan ukuran tertentu yang boleh ditebang. Pohon-pohon lain yang belum layak ditebang dibiarkan tumbuh.
  • Mengusahakan agar penebangan pohon diimbangi dengan penanaman kembali. Dengan demikian produktifitas hutan kurang lebih konstan. Di samping itu pengambilan hasil hutan dapat dilakukan secara teratur.
  • Mengadakan peremajaan hutan. Pohon-pohon yang telah tua dan kurang produktif diganti dengan tanaman yang lebih muda.
  • Mengadakan reboisasi, yaitu menghutankan kembali bekas hutan yang telah rusak.
  • Mencegah kebakaran. Kerusakan hutan yang paling besar terjadi karena kebakaran.

Tindakan pencegahan kebakaran pada hutan perlu diadakan, yaitu dengan cara :

  • Menyediakan jalan yang dapat dilalui kendaraan pemadam kebakaran.
  • Mendirikan menara pengamat.
  • Adanya sistem komunikasi yang cepat, sehingga dapat mengetahui sedini mungkin terjadinya kebakaran.

Bila terjadi kebakaran hutan harus diusahakan pemadaman secepat mungkin. Cara pemadaman kebakaran hutan dapat secara langsung ataupun secara tak langsung.

  • Secara langsung, yaitu mematikan api di mana terjadi kebakaran.
  • Secara tidak langsung, yaitu melokalisasi kebakaran dengan cara membakar daerah sekitar kebakaran dan mengarahkan api ke pusat kebakaran.

4. Perlindungan Margasatwa

Keseimbangan dan keserasian ekosistem harus dijaga. Untuk itu harus diusahakan agar tidak ada satu atau lebih komponen ekosistem yang mengalami kepunahan. Oleh sebab itu usaha pelestarian alam harus dilakukan secara terpadu.

Artinya dalam usaha pelestarian itu seluruh komponen ekosistem harus dilestarikan secara keseluruhan. Salah satu komponen ekosistem yang akan dibahas berikutnya adalah masalah pelestarian hewan (fauna) atau suaka margasatwa.

Sebenarnya usaha suaka margasatwa ini telah lama dilakukan. Namun sampai saat ini masih saja terjadi penangkapan, pembunuhan ataupun perburuan secara tak terkendali terhadap hewan-hewan langka yang terancam kepunahan.

Dalam perlindungan satwa-satwa langka yang mulai terancam kepunahan ini yang penting adalah sikap manusia. Yaitu sikap untuk menghargai satwa-satwa langka yang dilindungi. Manusia harus sadar bahwa makhluk hidup apa pun bila telah punah, keberadaannya di alam tidak dimungkinkan lagi.

Dalam usaha melestarikan hewan-hewan langka, cara yang telah ditempuh oleh berbagai pihak yang berkompoten adalah sebagai berikut :

  • Membuat undang-undang perburuan. Karena melarang perburuan adalah sulit maka dibuatlah aturan-aturan yang menyangkut perburuan yang antara lain berkenaan dengan :
  1. Batas-batas daerah perburuan. Ada daerah-daerah tertentu di mana perburuhan tidak boleh dilakukan. Misalnya daerah tempat berbiak dan tempat istirahat satwa-satwa.
  2. Masa berburu, dibatasi hanya pada waktu-waktu tertentu.
  3. Jumlah hewan yang diburu oleh seseorang dibatasi.
  4. Hasil buruna tidak untuk diperjualbelikan.
  5. Jenis hewan, umur, dan kelamin hewan tertentu yang boleh diburu.
  • Mengembangbiakkan hewan-hewan langka yang hampir punah. Misalnya dengan mengisolasi hewan-hewan tertentu, memelihara serta memperkembangbiakkan. Bila telah berkembang biak dengan baik, kemudian dilepaskan ke hutan.
  • Memindahkan hewan langka yang hampir punah ke tempat lain yang habitatnya lebih cocok dan lebih aman.
  • Mengambil telur hewan-hewan tertentu dan pada saat tertentu, untuk kemudian menetaskannya.

Saat ini sudah banyak jenis hewan yang dilindungi oleh undang-undang karena terancam kepunahan. Beberapa di antara hewan-hewan yang dilindungi tersebut tampak pada tabel dan gambar di bawah.

Daftar margasatwa yang dilindungi di Indonesia
NoNama HewanLokasiKeterangan
1Kukang (Tarsius)Sumatra, Kalimantan, SulawesiNokturnal (hewan malam), hidup di pohon-pohon, pemakan serangga, menyusui.
2Orang utan atau mawas (Pongopygmaeus)Sumatra Utara, KalimantanDi seluruh dunia hanya terdapat di Indonesia dan Kalimantan Utara. Hidup di pohon-pohon tinggi. Makanannya buah, tunas daun.
3Siamang (Hylobates sundactylus)Sumatera dan MalukuBangsa kera, suka menjerit.
4Owa, Kera tak berekorJawa, Kalimantan dan SulawesiPrimata yang tidak berekor.
5Badak (Rhinoceros sondaicus)Ujung Kulon di JawaBadak bercula satu hampir punah. Suka berkubang. Makan daun-daun, rumput, ranting-ranting muda.
6Tapir atau tenuk (Tapirus indicus)Sumatera, Kalimantan, di hutan lebatHerbivora, suka berkubang.
7Kambing hutan (Nemorrhaedus sumatrensis)Sumatera, Pegunungan tinggiPandai memanjat tebing. Hampir musnah.
8Trenggiling (Manis javanica)Jawa, di hutan-hutanPemakan rayap, semut. Binatang malam.
9Beberapa jenis unggas (burung)Tersebar di berbagai pulau IndonesiaKebanyakan pemakan serangga, ikan dan beberapa pemakan tikus. Berbagai burung dara laut, bebek laut, bangau tong-tong, bluwok, gangsa laut, bangau putih, kuntul, ibis hitam, alap-alap tikus, raja udang rongkong, macam-macam cenderawasih, burung-burung pengisap madu. (Tidak semua disebut di sini).
10Komodo (Varanus komodoensis)Flores dan KomdoBuas, pemakan babi rusa. Sisa-sisa binatang purba.
11Gajah (Elephas indicus)Sumatera, Kalimantan, dekat perbatasanHampir punah, hidup bergerombol. Perkembangbiakan amat lambat.
12Banteng (Bos sondaicus)Jawa, KalimantanHampir musnah.
13Anoa atau sapi hutan (Anoa presicornis)Sulawesi TengahSisa-sisa binatang purba.
14Babi rusa (Babi russa, babyrussa)Sulawesi UtaraTaring panjang menembus bibir atas, kulit kasar berlipat.
15Rusa (Heriris) atau menjangan dan kancilKalimantan, Sumatera, Jawa, Sulawesi, Nusa Tenggara, MalukuAda yang hidup sendirian, ada yang bergerombol. Hidup di hutan yang ada padang rumputnya.
16Berbagai macam harimauJawa, SumateraBinatang malam karnivora. Mangsanya babi hutan, rusa, kancil, kera.
hewan langka yang dilindungi di Indonesia
Gambar hewan langka yang dilindungi di Indonesia

5. Kalpataru

Usaha-usaha pelestarian lingkungan hidup bukan semata-mata merupakan tanggung jawab pemerintah. Karena itu kita semua wajib menjaga dan melestarikan lingkungan hidup. Pada setiap tanggal 5 Juni diperingati hari lingkungan sedunia. Indonesia tidak ketinggalan ikut berperanserta dalam peringatan ini.

Setiap tahun Kementerian Lingkungan Hidup melakukan pemilihan orang-orang atau kelompok. Yang berhak menerima penghargaan karena jasanya dalam pembinaan lingkungan hidup. Penghargaan ini berupa pahatan Kalpataru tiga dimensi yang berlapis emas murni.

Bentuk pahatan kalpataru ini mencontoh pahatan yang terdapat pada candi mendut. Kalpataru melukiskan pohon kehidupan yang melambangkan alam dan segala yang dilimpahkan kepada manusia. Keserasian dan keselarasan dengan alam di sekitarnya merupakan cerminan sikap hidup manusia di Indonesia terhadap lingkungannya.

Ada tiga kategori penghargaan kalpataru, yaitu :

  • Perintis Lingkungan Hidup. Diberikan kepada mereka yang telah mempelopori untuk merintis lingkungan hidup yang kritis menjadi subur kembali.
  • Penyelamat Lingkungan Hidup. Diberikan kepada mereka yang telah menyelamatkan lingkungan hidup yang makin lama makin rusak.
  • Pengabdi Lingkungan Hidup. Diberikan kepada petugas-petugas yang telah mengabdikan dirinya untuk menjaga kelestarian Lingkungan Hidup.

Mulai tahun 1989, penghargaan Kalpataru juga diberikan kepada pembina lingkungan hidup. Selain penghargaan Kalpataru yang diperuntukkan bagi perorangan maupun kelompok, pemerintah juga memberikan hadiah Adiputra bagi kota-kota terbersih di Indonesia.

Sedangkan penghargaan juga diberikan kepada daerah-daerah yang telah berhasil membuat Laporan Neraca Kependudukan dan Lingkungan Hidup Daerah (NKLD). Semua hadiah-hadiah penghargaan tersebut biasanya diserahkan oleh Presiden di Istana Negara.

kalpataru dan adipura
Gambar Kalpataru dan Adipura

Di tingkat internasional peringatan hari lingkungan hidup juga ditandai dengan pemberian penghargaan bagi perorangan dan kelompok. Atas sumbangan praktis mereka yang berharga bagi pelestarian dan perbaikan lingkungan hidup di tingkat lokal, nasional maupun internasional.

Penghargaan ini disebut “Global 500” yang diprakarsai Program Lingkungan PBB (UNEP = United Nations Environment Programme). Dalam 5 tahun dari tahun 1987 sampai dengan 1991. UNEP bermaksud memberikan penghargam kepada 500 orang dan organisasi yang berhasil di bidang Lingkungan.

Related Post :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *