Sejarah Kebudayaan Islam di Indonesia

  • 6 min read
  • Apr 24, 2020
sejarah kebudayaan islam di indonesia

Sebelum agama Islam datang di Indonesia telah ada sejarah kebudayaan asli pada zaman prasejarah. Dan dengan kedatangan agama Hindu-Budha budaya Indonesia diperkaya lagi. Masuknya agama Islam di Indonesia menambah khasanah budaya di Indonesia.

Kebudayaan mempunyai lingkup luas, terdiri atas tiga wujud yaitu pemikiran atau ide, tingkah laku, dan benda. Wujud bendalah yang sering memperoleh predikat sebagai kebudayaan.

Macam-macam kepercayaan dan agama tersebut melahirkan agama dan budaya campuran (sinkretisme dan akulturasi). Oleh karena itu wujud pengaruh budaya Islam di Indonesia sulit dilepaskan dari budaya sebelumnya.

1. Sejarah Kebudayaan Bangunan Ibadah

Pengaruh agama Islam menimbulkan tempat untuk beribadah yang istilahnya bermacam-macam, tergantung wujudnya. Tempat ibadah ukuran kecil disebut musalla (langgar) dan yang berukuran sedang disebut masjid. Sedangkan masjid yang berukuran besar disebut masjid agung (masjid jami’).

Dalam tata pemerintahan kerajaan abad ke-17 sampai 19, masjid ditempatkan di sebelah barat alun-alun pusat kota. Dengan teknologi bangunan yang semakin canggih dimungkinkan membuat masjid agung yang mampu menampung ribuan jamaah.

Denah masjid pada umumnya persegi dan lantainya rata. Banyak jendela dibuat pada dinding supaya para jamaah tidak kepanasan waktu menjalankan ibadah. Di bagian belakang dibangun agak menjorok keluar yang disebut mihrab.

Fungsi mihrab sebagai tempat imam memimpin sholat berjamaah atau tempat khotib memberikan khotbah dengan berdiri di mimbar. Atap masjid asli Indonesia mempergunakan sistem tumpang yaitu atap yang bertingkat-tingkat dengan jumlah pada umumnya gasal.

Tujuan dengan sistem tumpang adalah agar air hujan mudah turun ke bawah mengingat bahan atapnya dari ijuk atau daun rumbia. Juga diperhitungkan agar sirkulasi udara dalam masjid cukup sehingga tidak terasa panas.

Di atas atap tumpang masjid lama ditempatkan semacam mahkota yang disebut kubah. Pada masjid tradisional ditambahkan pada bagian depan atau samping suatu pendopo dengan bentuk atap limasan yang merupakan gaya khas Jawa. Hal itu nyata dalam masjid Banten, Demak, dan Sendangduwur.

Ada yang lebih khas berupa masjid makam yaitu bangunan masjid yang di halaman belakangnya. Dipergunakan sebagai makam wali, raja, atau orang yang dianggap keramat. Makam sampai sekarang masih banyak dikeramatkan sehingga pada malam-malam tertentu diziarahi banyak orang.

Suatu bagian masjid lainnya adalah tempat air wudhu mereka yang akan menjalankan sholat. Berupa bak besar tempayan yang diberi pancuran. Di masjid pada umumnya terdapat menara yaitu bangunan tinggi meruncing.

Fungsinya untuk tempat muazin melakukan azan sebagai panggilan umat Islam untuk menjalankan sholat. Pada musalla biasa muazin pada waktu melakukan azan cukup di dalam masjid. Karena musalla tidak mempunyai menara.

2. Sejarah Kebudayaan Kaligrafi

Dalam ajaran Islam ada larangan untuk membuat gambar atau patung makhluk hidup terlebih di tempat bangunan ibadah. Yang dinilai baik adalah tulisan Arab yang indah yaitu kaligrafi. Kaligrafi berisi ayat-ayat suci Al Quran yang selain bersifat keagamaan juga tersirat rasa keindahannya.

Pada mulanya kaligrafi merupakan akulturasi antara budaya Hindu dengan Islam. Wujudnya adalah suatu unsur lukisan berupa huruf Arab tetapi secara keseluruhannya gambar Semar dalam pewayangan.

kaligrafi arab kuno dari Cirebon
Gambar ganeqa sebagian tersusun dari huruf-huruf arab

Dengan semakin kuatnya rasa keagamaan unsur Hindu makin berkurang. Sehingga wujudnya adalah orang yang sedang sholat atau dalam wujud masjid yang mempergunakan huruf Arab.

3. Sejarah Kebudayaan Seni Pahat

Seni pahat seiring dengan kaligrafi. Seni pahat atau ukir berasal dari Jepara, kota awal berkembangnya agama Islam di Jawa yang sangat terkenal. Di dinding masjid Mantingan (Jepara) terdapat seni pahat yang sepintas merupakan pahatan tanaman.

Dalam bahasa seninya disebut gaya arabesk. Tetapi apabila diteliti dengan saksama di dalamnya terdapat pahatan monyet. Jika di Cirebon berbentuk pahatan harimau. Sehingga seni pahat di kedua tempat merupakan akulturasi antara budaya Hindu dengan Islam.

relief seni ukir kayu
Gambar seni pahat gaya arabesk. Gambar monyet di Jepara dan gambar harimau di Cirebon

Sangat mungkin bahwa justru pahatan pada masjid Mantingan itulah yang mendorong berkembangnya seni pahat di wilayah Jepara. Banyak rumah umat muslim kaya di Kudus yang mempergunakan ukiran Jepara.

4. Sejarah Kebudayaan Upacara

Perayaan Gerebeg dilihat dari tujuan perayaan dan waktunya merupakan kebubudayaan Islam. Namun menggunakan gunungan (tumpeng besar) serta iringan gamelan menunjukkan budaya sebelumnya. Kenduri Sultan tersebut dikeramatkan oleh penduduk yang yakin bahwa berkahnya sangat besar yang menunjukkan bahwa animisme dan dinamisme masih ada.

Hal ini dikuatkan lagi dengan upacara dilakukannya pembersihan barang-barang pusaka keraton seperti senjata dan kereta. Upacara demikian juga diselenggarakan di Cirebon tempat kedudukan Kerajaan Kasepuhan dan Kanoman yang dikenal sebagai panjang jimat.

Wujudnya seperangkat piring dan baki untuk tempat nasi kebuli (masakan khas Timur Tengah) yang hanya pada waktu perayaan Maulud. Tengah malam menjelang tanggal 12 Maulud benda yang dikeramatkan tersebut diarak dari keraton menuju masjid. Dengan diiringi oleh Sultan dan kerabat keraton.

Di banyak tempat pada bulan Sya’ban menjelang datangnya bulan Ramadhan masyarakat mengadakan pembersihan makam secara serentak. Terkadang dilakukan semacam pesta di lingkungan tersebut.

Hal ini mengingatkan pada kepercayaan yang disebut animisme. Pada malam-malam tertentu banyak orang berziarah ke makam tokoh-tokoh yang dikeramatkan untuk minta berkah.

5. Sejarah Kebudayaan Seni Pertunjukan

5.1 Salawat

Diantara seni pertunjukan yang merupakan seni Islam adalah seni suara yang berisi salawat Nabi dengan iringan rebana. Peserta terdiri dari kaum pria dimana dalam pergelarannya membawakan lagu-lagu berisi pujian kepada Nabi Muhammad saw sambil duduk di lantai.

Dibawakan secara lunak namun iringan rebananya terasa dominan. Dengan mengenakan pakaian model Indonesia seperti peci, baju tutup dan sarung yang sejalan dengan ajaran agama Islam. Lebih dinamis lagi adalah seni pertunjukan yang dilakukan oleh orang-orang muda.

Isinya salawat Nabi dengan iringan musik yang banyak variasinya. Lebih mencolok adalah pakaiannya yang meniru pakaian prajurit Mesir sehingga disebutkan mesiran. Mereka memakai celana panjang warna hitam, baju tertutup dan tutup kepala seperti sorban dengan hiasan umbul-umbul di depannya.

Gerakannya lebih dinamis karena seperti orang berbaris dan atau menari sekaligus. Aceh dengan sebutan Serambi Mekah terkenal tarian seudati, dari kata syaidati yang berarti permainan orang-orang besar. Di samping itu dikenal juga sebagai saman karena dimainkan oleh delapan orang.

Penarinya mengenakan pakaian asli Aceh, irama lagu-lagu salawat Nabi dibawakan dengan sangat dinamis. Dan diiringi dengan gerakan yang cepat dan serentak termasuk tepukan keras pada samping perutnya sehingga memukau penonton.

5.2 Debus

Di daerah pantai barat Sumatra seperti Aceh, Minangkabau dan Jawa Barat yaitu di Banten dan Priangan berkembang kesenian debus. Sebagai pembuka pada umumnya dibawakan nyanyian salawat Nabi. Dan puncaknya diwujudkan dalam pertunjukan yang sifatnya magis.

Berupa tusukan pisau pada tubuh, pemotongan telinga, bahkan lidah yang akhirnya anggota tubuh dapat dikembalikan seperti keadaan semula. Di sinilah kyai di suatu pondok pesantren menunjukkan kebolehannya dalam ilmu magi di samping dalam ilmu agama.

5.3 Wayang

Wayang merupakan sarana efektif untuk mengembangkan agama Islam melalui pertunjukan. Ceritanya diambil dari tokoh-tokoh Islam yang mengembangkan agama Islam dan dikenal sebagai wayang suluk. Sebagai agama yang lebih baru bila dibandingkan dengan Hindu-Budha.

Maka pengertian lama sejauh mungkin diartikan dengan ajaran Islam. Misalnya Ajimat Kalimasada diubah dengan penyebutan sebagai Kalimat Syahadat. Dan Pendawa Lima diartikan sebagai Lima Tiang Agama yang menjadi pedoman dalam melakukan ibadah. Jelas bahwa dengan melalui seni wayang terjadi akulturasi antara animisme, hinduisme, budhisme dan islamisme.

sejarah kebudayaan islam wayang
Gambar wayang

6. Sejarah Kebudayaan Sastra

Pengaruh budaya Islam dalam sastra terutama berkembang di daerah sekitar Selat Malaka dan Jawa. Sastra yang terkenal adalah suluk, hikayat, dan babad.

6.1 Suluk

Suluk merupakan salah satu wujud sastra yang berisi soal-soal tasawuf, sifatnya pantheistis yaitu manusia menyatu dengan Tuhan. Di Jawa suluk mempergunakan sumber dari Indonesia sendiri. Yang terkenal di Jawa adalah suluk Sukarsa berisi tentang pencarian ilmu sejati guna mencapai kesempurnaan oleh Ki Sukarsa.

Dalam uraiannya tentang Tuhan tampak banyak persamaannya dengan cerita Dewa Ruci, yaitu waktu Bima berguru pada Dorna. Di dalam suluk Wujil terdapat wejangan-wejangan Sunan Bonang kepada Wujil, seorang kerdil bekas abdi raja Majapahit.

Dalam suluk Malang Sumirang disebutkan tentang orang yang telah mencapai kesempurnaan. Lepas dari ikatan-ikatan syari’ah dan berhasil menyatu dengan Tuhan dibandingkan dengan soal moksha dalam agama Hindu.

Di daerah sekitar Selat Malaka yang terkenal adalah karya Hamzah Fansuri dengan suluk yang berjudul Syair Perahu. Yaitu manusia diibaratkan dengan perahu. Perahu mengarungi lautan dzat Tuhan dengan segala mara bahaya yang hanya dapat diatasi dengan melakukan tauhid dan ma’rifat.

Dalam Syair Si Burung Pingai jiwa manusia disamakan dengan seekor burung yang bukan sembarang burung melainkan dzat Tuhan. Dalam Asrar al arifin yang bersifat Prosa dikemukakan dengan dzat dan ma’rifat.

6.2 Hikayat

Hikayat merupakan karya sastra yang pada hakikatnya sama dengan cerita atau dongeng. Cerita Panji berasal dari zaman Majapahit menyebar hampir di seluruh kawasan Asia Tenggara. Isinya berlatar belakang usaha penyatuan kerajaan Raja Kahuripan yang mempunyai putra bernama Inu Kertapati.

Sedangkan Daha dengan putrinya bernama Candra Kirana. Setelah melalui peristiwa bemacam-macam sebagai rintangan akhirnya mereka dikawinkan. Hikayat Amir Hamzah yang di Jawa disebut Serat Menak berasal dari Persia.

Intinya menceritakan pemusuhan Amir Hamzah terhadap mertuanya yang masih kafir yaitu Raja Nursewan dari Madayin. Permusuhan berlangsung lama, secara bergantian mereka menang sehingga seperti tanpa akhir.

Dalam Hikayat Bakhtiar disebutkan bahwa Raja Azadbakht bersama permaisurinya terpaksa meninggalkan istana karena serangan musuh. Bahkan salah satu putranya lahir dan ditinggalkan dalam hutan dan dipungut oleh penyamun.

6.3 Sejarah

Dapat diartikan sebagai silsilah para raja, di Jawa dikenal sebagai babad. Dalam kitab Hikayat Raja-raja Pasai disebutkan sejarah kerajaan Pasai sejak didirikan oleh Malik al Saleh pada abad ke-13. Merupakan kitab sejarah namun di dalamnya masih terdapat hal-hal yang sifatnya dongeng.

Dalam Babad Tanah Jawi diceritakan sejarah pulau Jawa mulai Nabi Adam as sampai 1647 tahun Jawa (1722 M). Bagian pertamanya sulit diterima sebagai kitab sejarah, tetapi bagian belakang sudah menceritakan tentang Pajajaran, Majapahit dan Demak. Dan untuk abad ke-17 dan 18 sudah mendekati kebenaran sejarah.