VOC – Perserikatan Kompeni Hindia Timur

  • 12 min read
  • Apr 25, 2020
voc

1. Penjelajahan Belanda

Dorongan utama Belanda (VOC) untuk datang sendiri ke Indonesia untuk memperoleh rempah-rempah adalah adanya larangan baginya untuk membeli dari Lissabon (1585). Bangsa Belanda memiliki kapal-kapal yang mampu melayari lautan luas.

Pelaut-pelaut ulung, modal yang cukup membiayai, pelayaran, petunjuk yang cukup berupa peta laut ke Indonesia. Petunjuk diperoleh dari Jan Huygen van Linschoten yang lama bekerja pada Portugis dan pernah sampai di Indonesia.

Pernah diusahakan pelayaran melalui utara dengan perhitungan agar dapat menghindar dari Portugis sebagai musuh dan cepat sampai di Indonesia. Pelayaran sampai di Nova Zembla dan tidak dapat diteruskan karena es di daerah kutub utara.

Kemudian dibentuklah Compagnie van Verre oleh beberapa pengusaha. Sehingga dapat memberangkatkan empat buah kapal ke Indonesia oleh Cornelis de Houtman dan Pieter Keyzer (1595-1596). Pelayaran pertama bangsa Belanda ke Indonesia sudah dipersiapkan secara matang. Setelah melalui Tanjung Harapan mereka langsung menuju Selat Sunda.

Mereka menjumpai pasar Banten yang ramai dikunjungi pedagang-pedagang asing termasuk Portugis. Untuk memperlancar izin dagangnya mereka menyampaikan hadiah kepada Raja Banten berupa barang-barang kristal, kaca yang indah dan kain laken merah.

Raja Banten meminta bantuan Belanda untuk menyerang Palembang tetapi ditolak Belanda karena ingin memperoleh laba tanpa modal yang banyak. Akhirnya Banten tidak memberikan lada yang diperlukan Belanda. Sikap kasar dan angkuh Cornelis Houtman menyebabkan Belanda diusir dari Banten. Sehingga mereka terpaksa berlayar ke arah timur.

Di Sedayu dan Madura mereka berselisih dengan pedagang-pedagang Jawa. Houtman bermaksud terus ke Maluku tetapi awak kapal yang telah bosan berlayar menolak. Sehingga mereka berlayar kembali melalui Selat Bali. Di Bali mereka diterima dengan baik oleh Dewa Agung dari Kerajaan Gelgel yang beragama Hindu.

Mereka sampai Belanda (1597) dengan tiga kapal, karena yang satu rusak dan dibakar sendiri dekat Bawean. Dari 247 orang anak buah tersisa 87 orang karena meninggal dalam pelayaran. Mereka telah sampai di Indonesia namun tidak ada keuntungan uang yang diperoleh.

2. Awal Mula Terbentuknya VOC

Pada pelayaran Belanda yang kedua diberangkatkan oleh Compagnie van Verre dengan delapan kapal di bawah Van Neck dan Warwijk (1598). Hanya kira-kira tujuh bulan diperlukan pelayaran dari Belanda ke Banten. Situasi yang menguntungkan kedatangan mereka adalah tindakan Portugis yang menghukum Banten karena telah menerima Belanda (1596).

Akibatnya Banten bermusuhan dengan Portugis dan menerima baik kedatangan Belanda (1598). Empat kapal Belanda dapat muatan penuh lada lalu langsung kembali dan selamat sampai di negerinya enam bulan kemudian. Sedangkan yang empat lagi terus ke Maluku dan singgah di Tuban tanpa ada perselisihan.

kembalinya pelayaran kedua kapal voc
Gambar kembalinya pelayaran kedua kapal VOC

Di Maluku mereka sampai di Ternate. Dan diterima dengan baik akibat dari tindakan Portugis sebelumnya yang tidak bersahabat (1575). Tahun 1600 keempat kapal itu selamat sampai di Belanda dengan memperoleh banyak keuntungan.

Keberhasilan pelayaran tersebut mendorong munculnya banyak permusahaan. Mereka bersaing satu dengan yang lain sehingga keuntungan yang diperoleh tidak banyak lagi. Ada 14 perusahaan dan telah memberangkatkan 62 kapal ke Indonesia.

Sementara itu Portugis berusaha keras untuk menghancurkan mereka. Johan van Oldenbarneveld menyarankan agar hanya satu perusahaan saja yang didirikan dan diberi nama Vereenigde Oost-Indische Compagnie. Disingkat dengan VOC yang artinya Perserikatan Hindia Timur (1602).

Tujuan ke dalam pendirian VOC adalah untuk menghindari persaingan antar pengusaha Belanda sehingga dapat memperoleh keuntungan. Sedangkan tujuan keluarnya adalah untuk memperoleh kemampuan bersaing terhadap bangsa lain khususnya Spanyol dan Portugis yang saat itu menjadi musuhnya.

3. Hak Octrooi VOC

Politik merkantilisme yang melindungi kegiatan nasional terhadap persaingan asing diwujudkan dengan memberikan octrooi. Berupa hak-hak istimewa untuk 21 tahun tetapi kemudian diperpanjang sampai 12 kali.

Sebagai badan dagang VOC memperoleh hak monopoli antara Tanjung Harapan sampai Selat Magelhaens. Mengadakan perjanjian dagang dengan raja-raja lain dan mengangkat sendiri pegawainya. Selanjutnya VOC juga memperoleh hak memelihara tentara untuk pertahanan diri, mendirikan benteng, mengeluarkan uang, menyatakan perang, dan mengadakan perdamaian. Sehingga VOC merupakan badan pemerintahan.

Antara Spanyol dan Portugis dengan bangsa Belanda dan Inggris terdapat perbedaan yang mencolok. Pertama, bangsa Spanyol dan Portugis yang seabad lebih cepat datangnya masih menunjukkan sikap hidup pada Abad Pertengahan. Sedang bangsa Belanda dan Inggris sudah melihatkan sikap zaman baru.

Kedua, tujuan dualistis bangsa Spanyol dan Portugis yaitu untuk tujuan perdagangan dan untuk menyiarkan agama. Sedangkan bangsa Belanda dan Inggris bertujuan memperoleh untung dengan berdagang.

Ketiga, pemimpin-pemimpin bangsa Spanyol dan Portugis pada umumnya golongan bangsawan dan rohaniwan. Sedangkan bangsa Belanda dan Inggris lebih banyak pengusaha.

Perbedaan-perbedaan tersebut membawa akibat yang luas. Belanda dan Inggris lebih berhasil dalam kegiatan dagangnya, walaupun kemudian mereka menjadi penjajah juga.

4. Sistem Pemerintahan VOC

Berdasarkan octrooi organisasi VOC diatur untuk setiap warga Belanda dapat ikut membeli saham untuk modal VOC. Modal VOC akhirnya dapat terkumpul. Modal tersebut akan dikembalikan setelah 10 tahun meskipun dalam praktiknya tidak demikian. Sehingga VOC dapat terus berjalan walaupun pada saat terakhir rugi.

VOC memperoleh hak atau kekuasaan sebagai badan dagang maupun badan pemerintahan. Pemegang kekuasaan tertinggi VOC disebut Bewindhebbers terdiri atas 60 anggota yang merupakan perwakilan kota-kota. Sebagai pelaksana harian dibentuk Heren XVII, artinya tuan-tuan XVII karena anggotanya tujuh belas orang.

Karena jarak Belanda Indonesia demikian jauh, sedangkan Spanyol-Portugis sebagai lawan masih kuat. Maka diadakan jabatan Gubernur Jenderal untuk daerah Indonesia yang pada mulanya berkedudukan di Ambon (1610) kemudian dipindahkan ke Batavia (1619).

peta kota batavia
Gambar peta kota Batavia

Untuk menghindarkan agar seorang gubernur jenderal jangan terlalu berkuasa perlu dibentuk Raad van Indie. Artinya Dewan Hindia yang anggotanya terdiri dari empat orang. Untuk membantu gubernur jenderal diangkatlah gubernur di daerah-daerah penting yang telah dikuasai seperti Ambon, Ternate dan Semarang.

Setelah kekuasaan VOC sebagai badan pemerintahan makin luas, diangkatlah residen yang bertugas membantu gubernur dan asisten residen yang membantu residen. Di bawah itu pemerintahan diserahkan kepada penduduk pribumi yang bergelar raja dan bupati.

Pada mulanya VOC di suatu daerah hanya dapat hak mendirikan loge (loji) yang berfungsi sebagai gudang. Dalam loge ditimbun barang-barang yang telah dikumpulkan menunggu pengapalan. Atau sebagai tempat penyimpanan sementara barang-barang yang baru dibongkar menunggu penjualan.

Kemudian loge diubah fungsinya sebagai benteng pertahanan untuk menjaga diri ataupun untuk meluaskan daerah. Sebagai contoh loge Belanda di sebelah timur Ciliwung yang kemudian menjadi benteng Kota Intan Jakarta.

Benteng-benteng Belanda lain yang sampai sekarang menjadi monumen sejarah. Antara lain Nieuw Victoria di Ambon, Nassau di Banda, Oranje di Ternate dan Rotterdam di Makasar.

5. Pemindahan Kedudukan VOC

Tempat kedudukan gubernur jenderal pada mulanya di Ambon yang letaknya strategis di tengah-tengah daerah rempah-rempah. Kota itu direbut oleh Steven van der Haagen dari tangan Portugis (1605).

pulau ambon voc
Gambar pulau Ambon

Gubernur jenderal VOC yang pertama adalah Pieter Both. Sejak tahun 1619 kedudukan VOC dipindahkan ke Batavia karena beberapa pertimbangan, antara lain :

  • Ambon dirasakan kurang strategis lagi karena terlalu di ujung timur. Sedangkan Batavia lebih di tengah yang berguna untuk perluasan pelayaran Belanda antara Indonesia-Nederland. Kapal-kapal yang akan mengarungi lautan Indonesia dapat mempersiapkan diri dengan baik di Batavia. Sebaliknya kapal-kapal dari Belanda dapat beristirahat sebelum meneruskan pelayaran ke timur.
  • Batavia lebih strategis untuk pelayaran internasional antara Cina dengan India. VOC memiliki kapal-kapal besar dan baik yang dapat dipergunakan untuk pengangkutan maupun perdagangan di jalur perdagangan tersebut. Di Jepang, VOC memiliki kedudukan di Desima, di negeri Cina di Taiwan dan di Sailan. Oleh karena itu pernah pandangannya diarahkan ke Johor di Semenanjung Malaya. Sebelum Belanda menetapkan Batavia sebagai tempat kedudukan gubernur Jenderal. Waktu itu Johor bersekutu dengan VOC untuk menghadapi Portugis di Malaka. Tetapi usaha tersebut dibatalkan oleh keputusan Jan Pieterzoon Coen setelah ia dijadikan gubernur jenderal. Ia memutuskan untuk menjadikan Batavia sebagai kantor dagangnya yang baru.
  • Maluku yang semula memegang monopoli hasil rempah-rempah kemudian mulai dikalahkan oleh Sumatra. Dengan hasil lada yang makin kuat pasarannya di Eropa. Untuk perdagangan itu kedudukan Batavia lebih baik daripada Maluku. Saat itu pusat Batavia masih di daerah Pasar Ikan yang sekarang namanya dikembalikan menjadi Sunda Kelapa.

6. VOC Abad ke-17

6.1 Monopoli Dagang

Monopoli dagang yang bertujuan memperoleh keuntungan sebanyak-banyaknya dilakukan oleh VOC antara lain dengan jalan :

a) Mengadakan pelayaran Hongi

Pelayaran Hongi dilakukan untuk dapat memberantas penyelundupan. Hongi adalah nama jenis perahu dari Maluku yang bentuknya panjang. VOC yang memperoleh monopoli dari pemerintahannya beranggapan ia menjadi Penguasa daerah. Sehingga semua produksi rempah-rempah harus dijual kepadanya dengan harga yang ditetapkan sendiri, biasanya sangat rendah.

Karena dirugikan, banyak penduduk menyelundupkan hasil perkebunannya dan dijual kepada pedagang-pedagang lain secara bebas. Selain kepada pedagang-pedagang Jawa dan Makasar juga kepada pedagang-pedagang asing seperti Inggris, Denmark dan Perancis. Pasar bebas tersebut adalah Makasar.

Untuk menghindarkan penyelundupan Belanda mengadakan patroli laut dengan mempergunakan perahu-perahu yang didayung oleh anak negeri secara paksa. Barang-barang selundupan dirampas kemudian orangnya ditawan dan dijadikan budak belian.

b) Mengadakan ekstirpasi (penebangan tanaman)

Adanya permintaan rempah-rempah di pasar yang makin menggila mendorong penduduk untuk memperluas daerah penanamannya. Akibatnya banyak terjadi penyelundupan dan merosotnya harga rempah-rempah karena hasil yang berlebihan atau overproduksi.

Tanaman di daerah penyelundupan akan dimusnahkan apabila ada penduduk yang tertangkap melakukan penyelundupan. Sehingga hal tersebut mengakibatkan munculnya perlawanan dari rakyat. Tetapi Belanda menghadapinya dengan penindasan.

Contoh yang terkenal adalah peristiwa di Banda dan Ambon yang dikenal sebagai Banda massacre (1621) dan Ambon massacre (1623). Supaya produksi rempah-rempah terjamin maka Belanda merampas tanah pembangkang yang dibagi-baginya atas perken. Dan diserahkan kepada orang-orang kepercayaannya yang disebut perkeniers.

c) Mengadakan perjanjian dengan raja-raja

Dengan perjanjian, VOC memperoleh monopoli di suatu kerajaan. Terlebih apabila raja tersebut dikalahkan akibat perang maka mereka wajib menyerahkan hasil bumi yang diperlukan VOC dengan harga rendah. Cara demikian disebut penyerahan wajib (Verplichte leverantien).

d) Rakyat wajib membayar pajak

Pembayaran pajak dilakukan dengan cara menyerahkan hasil bumi di daerah yang telah dikuasai oleh VOC. Penyerahan demikian tidak memperoleh ganti dan disebut dengan contingenten.

6.2 Menguasai Pelayaran

Dengan kapal-kapalnya yang besar dan tangguh serta diperlengkapi dengan senjata VOC berangsur-angsur dapat menguasai pelayaran di Indonesia maupun Asia. Setelah Kerajaan Aceh mundur karena gagalnya serangan atas Malaka (1629), wafatnya Sultan Iskandar Muda (1631) dan Johor belum pulih kekuasaannya. Maka Belanda di bawah Caertekoe dapat merebut Malaka (1641).

Tantangan paling berat yang harus dihadapi adalah suku Makasar. Karena mereka merupakan pelaut sekaligus pedagang yang ulung. Pada mulanya suku Makasar dapat didesak di daerah Maluku, kemudian pusat kedudukannya di Ujung Pandang dapat dikuasainya (1667).

Hal yang menguntungkan VOC di Jawa adalah kegiatannya yang bertepatan dengan mundurnya perdagangan dan pelayaran di daerah pantai Jawa. Akibat dari politik agrarias sentral yang dijalankan oleh Sultan Agung dari kerajaan Mataram II.

Setelah VOC membantu Amangkurat II dalam menghadapi Trunojoyo sehingga diperoleh Semarang dan sekitarnya (1628). Dan dengan bantuan Sultan Haji dari Banten sehingga monopoli perdagangan dan pelayaran dapat dipegang di daerah itu (1684).

kapal voc
Gambar replika kapal VOC

Dengan dikuasainya pelabuhan-pelabuhan penting seperti Ambon, Malaka, Makasar, Semarang dan Banten berarti Belanda dapat menguasai pelayaran di Indonesia. Batavia sebagai pusat dagang dan pelayarannya dikembangkan, sebaliknya pelabuhan lainnya ditinggalkan.

7. Gubernur Jenderal VOC

Beberapa gubernur jenderal VOC yang berhasil mengembangkan perusahaan menjadi besar adalah :

7.1 Jan Pieterzoon Coen

Diangkat dua kali sebagai gubernur jenderal pada tahun (1619-1623) dan (1627-1629). Ia dianggap sebagai pendiri Batavia dan peletak dasar imperialisme Belanda di Indonesia. Tetapi dalam masa jabatannya yang kedua, kota Batavia dua kali diserang oleh Sultan Agung dari Mataram.

la juga terkenal karena rencananya yang disebut Coen plan. Hal yang mendorong Coen menyusun rencana tersebut adalah karena kekurangan tenaga bangsa Belanda di Indonesia. Untuk itu perlu banyak orang Belanda beserta keluarganya yang dipindahkan dari negerinya ke Indonesia.

Rencana tersebut ditolak oleh pimpinan VOC dengan alasan bahwa badan dagang itu didirikan untuk mencari untung. Sedangkan kolonisasi berarti pengeluaran uang. Namun demikian sebagian rencana tersebut kemudian diwujudkan dan melahirkan Belanda Depok.

Indo Belanda inilah yang menjadi tulang punggung pemerintahan Belanda dan hendak mendirikan negara Indo Belanda di Indonesia. Untunglah jumlah mereka itu tidak terlalu besar sehingga setelah Indonesia merdeka peranannya hilang.

Apabila jumlah mereka cukup besar akan terjadi juga masalah kulit putih seperti di Uni Afrika Selatan. Yaitu bangsa minoritas kulit putih dapat berkuasa atas bangsa kulit hitam yang merupakan mayoritas.

7.2 Antonio van Diemen

Antonio van Diemen juga menduduki jabatan gubenur jenderal dua kali pada tahun (1636-1645). Ia satu zaman dengan Sultan Agung Anyokrokusumo dari Mataram II. Kota Batavia dibangun dan dilengkapi dengan sebuah gereja.

Sedangkan dalam bidang hukum dimulainya penyusunan Bataviasche statuten yang merupakan awal hukum di Indonesia. Kegiatan dalam negeri lainnya berupa sistem monopoli di Maluku.

Hal yang lebih mencolok dari gubernur jenderal ini adalah ekspansinya ke luar Indonesia. Pada tahun 1641 kota Malaka berhasil direbut. Salah satu barang rampasan yang terkenal berupa meriam Si Jagur yang sekarang dipasang di depan Taman Fatahillah.

Di negara lain VOC memperoleh kedudukan di Deshima (Jepang), Pulau Sailan dan pelayaran ke Australia. Rombongan yang dikirim oleh Van Diemen ke Australia dipimpin oleh Abel Jansz Tasman. Mereka berhasil sampai di Mauritius, Australia, Tasmania dan New Zealand (1642-1644).

7.3 Joan Maetsuycker

Menduduki jabatan pada tahun (1653-1678) dan dianggap oleh Tuan-tuan XVII sangat cakap memerintah. Sehingga ia berulang kali menduduki jabatan gubernur jenderal. Bangsa Inggris yang merupakan saingan berat di Maluku dapat didesak dan Makasar dapat dikuasai (1667).

VOC berhasil memperoleh kedudukan di Padang (1663) dan Manado (1679) untuk memperoleh cengkih dan lada. Dalam usahanya semakin memperkuat Jawa, VOC ikut campur tangan dalam perang saudara di Mataram dan Banten. Sehingga memperoleh Semarang dan sekitarnya (1678) serta Banten (1684).

7.4 Cornelis Speelman

Masa menjabat gubernur jenderal pada tahun (1681-1684) dan terkenal dalam sejarah. Karena telah berhasil mengalahkan Sultan Hasanudin dari Makasar, Trunojoyo di Jawa Timur dan Sultan Ageng Tirtayasa di Banten.

la tinggal di Asia selama empat puluh tahun tanpa pernah cuti. Setelah ia menjadi gubernur jenderal, ia bercita-cita agar kekuasaan Belanda meliputi seluruh wilayah di Asia.

8. Perlawanan Terhadap VOC

Belanda mendapat banyak perlawanan akibat keinginannya memonopoli dalam perdagangan dari bermacam-macam bangsa. Perlawanan-perlawanan tersebut antara lain :

8.1 Perlawanan Suku Maluku

Suku Maluku merasa paling dirugikan akibat sistem tersebut. Hasil perkebunan yang dibeli VOC dengan harga rendah merosotkan kemakmurannya. Keperluan mereka akan beras yang diperolehnya dari Jawa terhenti akibat blokade VOC. Sehingga mereka terpaksa menjadikan sagu sebagai makanan pokoknya.

Banyak penduduk menjadi korban kekejaman Belanda seperti di Banda dan Ambon, dan banyak pula yang ditawan untuk dijadikan budak belian. Pemimpin-pemimpin suku Maluku antara lain Kakiali dan Telukabessi dari Hitu, Saidi dari Huwamohel, dan Nuku dari Tidore.

8.2 Perlawanan Suku-Suku Bukan Maluku

Terdiri dari suku Jawa dan Makasar. Suku Jawa yang sejak zaman Jawa Timur mengadakan perdagangan antara Maluku dengan Malaka merasa dirugikan dan disaingi oleh VOC. Setelah Malaka dapat direbut VOC perdagangan dengan kota tersebut tertutup (1641).

Sejak tahun 1646 pedagang-pedagang dari Mataram juga dilarang berdagang di daerah Maluku. Diperanginya suku Makasar apabila mereka berdagang di Maluku. Karena suku ini banyak membeli rempah-rempah untuk dijual di pasar bebas di Makasar.

Akhirnya Makasar dapat direbut (1667) dan monopoli dagang di kota itu dilaksanakan. Belanda mendapat perlawanan di Jawa di bawah pimpinan Suropati, Sultan Ageng Tirtayasa dari Banten dan Amangkurat II. Sedangkan suku Makasar di Jawa di bawah Kraeng Galesong dan Montemarano.

8.3 Perlawanan Bangsa Barat

Semula perlawanan dari bangsa Portugis kemudian bangsa Spanyol. Lawan terberatnya adalah Inggris dengan perusahaan dagangnya EIC. Di Batavia bangsa Inggris memperoleh kedudukan di sebelah barat Muara Ciliwung. Dan berhadapan dengan kedudukan VOC di sebelah timur muara sungai.

Setelah bangsa Belanda memonopoli Banten, bangsa Inggris menyingkir ke Bengkulu (1684) dengan tujuan untuk dapat menguasai Selat Sunda. Bangsa Inggris banyak membantu suku-suku Maluku berupa senjata untuk melawan Belanda. Persaingannya dengan Inggris ini berlatar belakang peperangan di Eropa.

9. VOC Abad ke-18

9.1 Penguasaan Wilayah

Kegiatan VOC pada abad ke-18 lebih menonjol sebagai badan pemerintahan untuk penguasaan wilayah. Peralihan dari kegiatan dagang ke pemerintahan tersebut disebabkan beberapa faktor, antara lain :

  • Terjadi pergeseran atas dagang (komoditi). Semula orang mengutamakan rempah-rempah untuk perdagangan kemudian berangsur-angsur ke komoditi lain seperti kopi dan gula. Kopi dari negeri Arab dan VOC menjalankan perdagangan kopi. Gula merupakan barang dagangan yang berasal dari Cina. Dari kedua barang dagangan tersebut VOC tidak memperoleh banyak keuntungan. Keuntungan yang banyak akan mudah diperoleh bila kedua jenis komoditi itu ditanam sendiri, untuk itu diperlukan daerah yang luas.
  • Mundurnya perdagangan VOC khususnya akibat adanya saingan yang berat dari bangsa Barat. Sehingga VOC mulai mengalihkan kegiatannya sebagai badan pemerintahan. Dengan penguasaan wilayah mereka mengharapkan dapat mengeksploitirnya agar dapat diperoleh keuntungan.
  • Perang kemerdekaan Belanda yang berlangsung selama 80 tahun berakhir (1648). Negeri Belanda menjadi negara merdeka lepas dari Spanyol.

Pulau Jawa merupakan sasaran pertama untuk dikuasai dengan penuh perhitungan. Karena ibu kota Batavia terletak di pulau tersebut dan banyaknya tenaga manusia yang cukup untuk kegiatan mengusahakan tanahnya. Pepatah seperti “Belanda minta tanah” terbukti di Jawa.

Semula Belanda hanya mendapat izin mendirikan loge. Kemudian diperkuat menjadi benteng, lalu Batavia direbut (1619). Sehingga Jan Pieterzoon Coen menyebut daerahnya sebagai Kerajaan Jayakarta. Dari Batavia diperluas ke Priangan yang diperoleh dari Amangkurat II (1778). Dengan Cimanuk sebagai batas sebelah timur kemudian ke barat diperluas sampai Cisadane (1684).

Di Jawa Tengah dan Jawa Timur VOC memperoleh seluruh pantai utara dari Tegal sampai Pasuruan. Diperoleh dari Paku Buwono II tahun 1743-1746. Akhirnya Blambangan jatuh ke tangannya pada tahun 1777. Sehingga dapat dikatakan bahwa Pulau Jawa telah dikuasai Belanda pada akhir abad ke-18.

Di luar Jawa Belanda berkuasa atas daerah-daerah pelabuhan yang dianggap penting untuk perdagangan. Seperti Ambon, Banda, Ternate, Tidore, Makasar, Manado dan Padang. Kedudukan Belanda di daerah-daerah terbatas dalam lingkungan benteng saja.

9.2 Tanam Paksa (Cultuur Stelsel)

Tanah Jawa subur, pengairannya mulai teratur dan memiliki banyak tenaga kerja yang dimanfaatkan oleh untuk mengusahakan gula dan kopi. Gula banyak diusahakan sekitar Batavia sedangkan kopi di daerah Priangan.

Gubernur Jenderal Johannes van den Bosch
Gambar Jenderal Johannes van den Bosch pelopor kebijakan tanam paksa

Bangsa Cina di negerinya telah banyak memiliki pengalaman soal gula. Sehingga diberi kesempatan menanam tebu dan mengusahakan gula tebu di sekitar Batavia. Tanaman itulah yang menjadi sasaran gerilya Banten. Tetapi sekitar tahun 1800 perusahaan gula banyak diambil alih Belanda dengan mendatangkan pekerja dari daerah.

Tanaman kopi (coffie cultuur) pada mulanya diusahakan di Priangan. Karena daerah itulah yang dikuasai VOC sejak akhir abad ke-18. Untuk melaksanakan usaha kopi, peranan bupati banyak dipergunakan. Karena merekalah yang dipatuhi perintahnya.

Untuk pengawasan pekerjaan secara teknis banyak diangkat pengawas yang diberi pangkat sersan (coffie sergeanten). Rakyat diwajibkan menanam kopi dan hasilnya wajib dijual kepada VOC dengan harga yang ditetapkan.

Dalam mengatur wilayah, VOC sering bersikap keras. Sehingga ada bupati yang diasingkan ke Pulau Onsrust di Teluk Jakarta dan ada yang ditawan di Batavia. Keuntungan adanya tanaman kopi adalah rakyat terpaksa lebih menetap hidupnya karena harus memelihara kopi yang ditanam.

Jalan-jalan semakin banyak untuk memperlancar pengangkutan kopi, dan berangsur-angsur mata uang makin banyak masuk ke pedesaan. Belanda banyak memperoleh keuntungan dan pengalaman, yang kemudian dilakukan lagi secara sempurna dalam tanam paksa (cultuur stelsel).

Setelah ujung Jawa Timur jatuh ke tangan VOC tanaman kopi banyak diusahakan di daerah itu karena iklimnya sesuai. Sedangkan di daerah Priangan kemudian diganti dengan usaha teh karena tanahnya bergunung-gunung tinggi dan curah hujannya besar.

sistem tanam paksa voc
Gambar sistem tanam paksa VOC

Untuk melaksanakan pemerintahan, VOC banyak mempergunakan tenaga bupati, sedangkan untuk pajak dipergunakan tenaga bangsa Cina. Pemungutan itu diborongkan dengan menyewakan desa untuk beberapa tahun lamanya.

Cara demikian sering mengakibatkan terjadinya pemerasan terhadap penduduk. Tetapi bagi Belanda dirasakan praktis sehingga diulangi lagi dalam abad ke-19.

10. Kemunduran VOC

Sejak pertengahan abad ke-18 VOC mengalami kemunduran. Hal-hal yang menyebabkan mundurnya VOC adalah :

  • Gaji yang diberikan kepada pegawai-pegawai VOC rendah. Menyebabkan mereka berbuat curang atau korup seperti pegawai-pegawai Portugis sebelumnya. Cara melakukan kecurangan misalnya seorang menyerahkan barang timbangannya melebihi ukuran. Selanjutnya kelebihannya dikumpulkan lalu dijual juga kepada VOC. Banyak pegawai melakukan pemerasan terhadap bangsa Cina. Pada saat mereka memerlukan surat-surat tanda memiliki tempat tinggal dan pencarian tetap di Batavia.
  • Banyak saingan harus dihadapi oleh VOC dalam perdagangannya di Asia. Seperti bangsa Inggris yang mempunyai perusahaan East Indian Company dan bangsa Perancis yang mempunyai perusahaan Compagnie des Indes. Saingan Perancis dirasakan di India Selatan, sedangkan Inggris di Indonesia.
  • Sesuai dengan octrooi, para pemegang saham berhak mendapatkan dividen, artinya pembagian keuntungan. Waktu VOC mulai rugi, dividen tetap diberikan dengan tujuan agar para pemegang saham tidak menarik modalnya. Sebab bila banyak yang menarik modalnya maka VOC dapat bangkrut. Pembagian dividen dalam keadaan rugi menyebabkan VOC memiliki banyak hutang.
  • VOC banyak mengeluarkan biaya untuk peperangan baik merebut monopoli perdagangan maupun memperluas wilayah jajahan. Sebagai contoh dalam perang perebutan mahkota di Mataram, VOC ikut campur tangan di dalamnya.
  • Akibat revolusi Perancis di negeri Belanda terjadi perubahan politik. Belanda menjadi Republik Bataaf setelah Raja Belanda Willem V digulingkan dari tahtanya lalu menyingkir ke Inggris (1795). Republik Bataaf yang bersifat demokratis dan liberal menganggap bahwa monopoli dagang yang dilakukan VOC dianggap bertentangan dengan semangat pada saat itu. Perdagangan harus bebas sehingga VOC perlu dibubarkan.

11. Pembubaran VOC

Pada tahun 1795 dibentuk suatu panitia likuidasi, artinya panitia pembubaran VOC yang bertugas memeriksa kekayaan dan hutang VOC. Setelah pemeriksaan diketahui bahwa VOC memiliki banyak hutang. Tetapi VOC memiliki kekayaan berupa beberapa kantor dagang, kapal, gudang, benteng dan daerah jajahan di Indonesia.

Keadaan demikian tidak mungkin dapat diteruskan dan diputuskan bahwa octrooi yang telah diberikan tidak dapat diperpanjang lagi. Sehingga VOC dibubarkan pada tanggal 31 Desember 1799.

Hutang VOC ditanggung oleh pemerintah Belanda, tetapi seluruh kekayaan menjadi miliknya. Dengan demikian mulai 1 Januari 1800 daerah Indonesia yang telah dikuasai VOC menjadi daerah jajahan Belanda.